Selasa, 28 April 2026

Harga Emas

Harga Emas Anjlok ke Titik Terendah, Ternyata Ini Pemicunya!

Harga emas jatuh ke level terendah dalam lebih dari tiga minggu pada hari Senin (7/4/2025), melanjutkan penurunan tajamnya akibat aksi jual besar-besa

Penulis: Sri Anggun Oktaviana | Editor: Amirullah
For Serambinews.com
Pemilik usaha emas di Toko Emas Jasa Sejahtera di Jalan Teuku Umar, Kota Langsa meperlihatkan emas batangan Logam Mulia. Harga emas jatuh ke level terendah dalam lebih dari tiga minggu pada hari Senin (7/4/2025) 

Harga Emas Anjlok ke Titik Terendah, Ternyata Ini Pemicunya! 

SERAMBINEWS.COM-Harga emas jatuh ke level terendah dalam lebih dari tiga minggu pada hari Senin (7/4/2025), melanjutkan penurunan tajamnya akibat aksi jual besar-besaran di pasar. 

Investor tampaknya menjual emas batangan untuk menutupi kerugian mereka dalam perdagangan lainnya, seiring kekhawatiran akan resesi global yang semakin membesar akibat perang dagang yang terus berkembang.

Dilansir dari kantor berita Reuters (7/4/2025), harga emas spot turun 0,3 persen menjadi $3.027,90 per ons pada pukul 03.31 GMT. 

Harga ini mencapai titik terendah sejak 13 Maret setelah mengalami penurunan lebih dari 1 persen di awal sesi.

Sementara itu, harga emas berjangka AS naik sedikit, 0,4 persen, menjadi $3.047,50 per ons.

Penurunan harga emas ini terjadi setelah harga emas anjlok lebih dari 3 persen pada hari Jumat.

 Emas, yang biasanya dianggap sebagai aset aman (safe haven) di tengah ketidakpastian ekonomi, terperangkap dalam gejolak pasar global.

Aksi tarif besar dari Presiden AS Donald Trump telah memengaruhi pasar secara signifikan, dan investor tampaknya memilih untuk menjual emas guna mendapatkan likuiditas dan menutupi kerugian atau panggilan margin pada aset lainnya.

Menurut Yeap Jun Rong, seorang ahli strategi pasar di IG, banyak kebingungan dan ketidakpastian di pasar saat ini.

Baca juga: Ketua Fed: Tarif Baru Trump Berisiko Tingkatkan Inflasi dan Lambatkan Pertumbuhan Ekonomi

Ketegangan perdagangan global telah mencapai titik ekstrem, dan banyak yang masih meragukan apakah akan ada resolusi cepat terhadap situasi ini.

 "Meskipun sebagian penurunan harga emas mungkin disebabkan oleh aksi ambil untung, tema utama saat ini adalah ketahanan. Aliran dana ke aset aman masih memberikan bantalan di tengah volatilitas pasar yang tinggi," kata Yeap.

Pada hari Jumat, Tiongkok membalas tarif yang dikenakan oleh AS dengan tindakan balasan, termasuk menaikkan pungutan hingga 34 persen pada semua barang AS dan memberlakukan pembatasan ekspor pada beberapa logam tanah jarang.

Ini memicu kekhawatiran yang lebih besar tentang potensi resesi global, yang menghapus hampir $6 triliun dari nilai saham AS hanya dalam waktu satu minggu.

Pada hari Senin (7/4/2025), indeks saham Nikkei Jepang bahkan anjlok hampir 9 persen, menambah kecemasan di pasar.

Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, juga menyoroti dampak negatif dari tarif terhadap perekonomian.

Powell mengatakan bahwa tarif berisiko memicu inflasi yang lebih tinggi sekaligus memperlambat pertumbuhan ekonomi, memperburuk tantangan bagi para pembuat kebijakan di bank sentral AS.

Di sisi lain, harga logam mulia lainnya menunjukkan tren yang berbeda. Harga perak spot naik 2,3 persen menjadi $30,22 per ons, setelah sebelumnya mencapai level terendah dalam hampir tujuh bulan.

Harga spot platinum juga naik 1 persen menjadi $925,50, sementara harga paladium naik 1,5 persen menjadi $925,00.

Secara keseluruhan, meskipun emas mengalami penurunan, logam mulia lainnya menunjukkan tanda-tanda penguatan.

 Ini mencerminkan ketidakpastian yang sedang melanda pasar global, di mana investor mencari perlindungan di beberapa aset yang lebih stabil di tengah gejolak ekonomi.

Baca juga: Trump Sebut Tarif sebagai Obat untuk Ekonomi, Pasar Asia Kini Terjun Bebas!

(Serambinews.com/ Sri Anggun Oktaviana)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved