Rabu, 22 April 2026

Harga Emas

 Harga Emas Terbang ke Rekor Tertinggi! Dunia Panik, Investor Lari ke Safe Haven!

Harga emas spot naik sebesar 1,7 persen, mencapai $3.383,87 per ons pada pukul 02.46 GMT, setelah sebelumnya sempat menyentuh rekor tertinggi $3.384 d

Penulis: Sri Anggun Oktaviana | Editor: Amirullah
Generated by AI (ChatGPT)
HARGA EMAS NAIK - Ilustrasi harga emas - Harga emas spot naik sebesar 1,7 persen, mencapai $3.383,87 per ons (21/4/2025). 

 Emas Terbang ke Rekor Tertinggi! Dunia Panik, Investor Lari ke Safe Haven!

SERAMBINEWS.COM-Harga emas melonjak ke rekor tertinggi pada hari Senin (21/4/2025), di tengah kekhawatiran yang terus meningkat terhadap kondisi ekonomi global. 

Ketegangan yang memanas antara Amerika Serikat dan Tiongkok dalam perang dagang, serta gejolak politik dan ketidakpastian moneter, membuat investor berbondong-bondong mencari aset aman dan emas menjadi pilihan utama.

Dilansir dari kantor berita Reuters (21/4/2025), harga emas spot naik sebesar 1,7 persen, mencapai $3.383,87 per ons pada pukul 02.46 GMT, setelah sebelumnya sempat menyentuh rekor tertinggi $3.384 di awal sesi perdagangan. 

Sementara itu, harga emas berjangka AS melonjak 2 persen hingga berada di level $3.396,10 per ons.

Reli emas ini juga didorong oleh pelemahan dolar AS. Indeks dolar (.DXY) tercatat menyentuh titik terendah dalam tiga tahun, yang membuat emas menjadi lebih menarik bagi investor yang memegang mata uang lain.

Saat dolar melemah, harga emas dalam mata uang lain jadi relatif lebih murah, sehingga permintaan meningkat.

Menurut Yeap Jun Rong, ahli strategi pasar di IG, faktor-faktor global saat ini benar-benar menguntungkan emas.

 "Secara fundamental, pasar memperhitungkan risiko geopolitik yang meningkat, didorong oleh ketegangan tarif AS dan kekhawatiran stagflasi, sementara permintaan bank sentral yang tangguh juga menawarkan dorongan tambahan bagi harga," jelasnya.

Trump dan Perang Dagang Jadi Pemicu Utama

Salah satu pemicu utama kekhawatiran pasar adalah langkah Presiden AS Donald Trump, yang kembali menegaskan kebijakan "tarif timbal balik" terhadap puluhan negara pada 2 April lalu.

Meskipun ada pengecualian untuk beberapa negara, pemerintahan Trump justru meningkatkan tensi dengan Tiongkok, memanaskan kembali perang dagang antara dua ekonomi terbesar dunia.

Sebagai respons, Tiongkok memperingatkan negara-negara lain agar tidak gegabah membuat kesepakatan ekonomi baru dengan AS yang bisa merugikan mereka.

Langkah ini diduga bagian dari strategi Trump yang ingin menekan negara-negara lain agar mengikuti aturan perdagangan yang menguntungkan AS.

Di sisi lain, Trump juga kembali menyerang Ketua Federal Reserve, Jerome Powell.

 Pada hari Kamis lalu, ia melontarkan kritik tajam terhadap Powell, dan bahkan tim Trump dikabarkan sedang mengevaluasi kemungkinan memecat Powell.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved