Minggu, 10 Mei 2026

Luar Negeri

Sudan Selatan Diambang Perang Saudara, Rumah Sakit Dibom 7 Orang Tewas

Setidaknya tujuh orang tewas dan 20 lainnya terluka dalam serangan di sebuah rumah sakit di Sudan Selatan, Sabtu (3/5/2025).

Tayang:
Editor: Faisal Zamzami
Tribune Sudan
PERANG DI SUDAN SELATAN - Sebuah truk yang dilengkapi senapan mesin yang diawaki oleh anggota Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) melaju melewati tempat usaha dan rumah yang terbakar di Sudan Selatan beberapa waktu lalu. Kekerasan di negara itu kembali berkecamuk akhir-akhir ini. 

Machar ditempatkan dalam tahanan rumah sejak Maret atas tuduhan subversi.

Old Fangak, tempat terjadinya serangan terhadap rumah sakit MSF, adalah salah satu dari beberapa kota besar di daerah Fangak, Negara Bagian Jonglei, bagian negara yang dihuni etnis Nuer yang secara historis dikaitkan dengan partai Gerakan Pembebasan Rakyat Sudan-dalam-Oposisi (SPLM-IO) pimpinan Machar.

Melaporkan dari Nairobi, Catherine Soi dari Al Jazeera mengatakan bahwa ia telah berbicara dengan komisaris daerah Fangak, yang menuding pemerintah sebagai dalang serangan tersebut.

Pejabat tersebut, katanya, bersekutu dengan SPLM-IO.

Komisaris ini mengatakan kepada Al Jazeera bahwa “hanya militer yang memiliki kapasitas untuk melakukan serangan seperti itu”.

“Kami juga telah berbicara dengan saksi mata yang mengatakan bahwa … pesawat itu adalah pesawat pemerintah,” kata Soi.

“Kami juga tahu bahwa dua minggu lalu fasilitas MSF lain di daerah itu juga diserang dan dijarah, jadi kami menunggu pejabat pemerintah untuk memberikan versi cerita mereka,” katanya.

Bulan lalu, sebuah pangkalan militer dijarah oleh orang-orang bersenjata di kota Nasir di wilayah utara negara bagian Upper Nile yang kaya minyak. Soi mengatakan serangan itu diduga dilakukan oleh Tentara Putih, yang konon bersekutu dengan SPLM-IO milik Machar.

"Dia berada dalam tahanan rumah, beberapa politisi oposisi lainnya juga telah ditangkap," kata Soi.

"Kami telah mendengar dari juru bicara pemerintah yang mengatakan penyelidikan masih berlangsung. Dan ketika itu terjadi, para politisi ini akan didakwa dengan tuduhan pemberontakan."

Beberapa kedutaan besar negara Barat, termasuk Amerika Serikat, mengatakan dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat bahwa situasi politik dan keamanan di Sudan Selatan telah “memburuk drastis” dalam beberapa hari terakhir.

Pemilu yang seharusnya diselenggarakan pada tahun 2023 telah ditunda dua kali dan baru dijadwalkan pada tahun 2026.

Baca juga: Trio Pencuri dan Penadah Baterai Milik BMKG Diringkus Satreskrim Polres Pijay, 4 Aki Kering Disita

Baca juga: Harga Emas London di Lhokseumawe di Bawah Rp 5 Juta Per Mayam, Cek Harga Emas Murni Edisi 4 Mei 2025

Baca juga: Profil Warren Buffett, CEO Berkshire Hathaway, Kekayaan Rp 2.771 Triliun, 99 Persen untuk Amal

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved