Berita Banda Aceh
Anggota DPRA Minta Rencana Pembangunan Batalyon Teritorial di Aceh Dibatalkan
Wakil Ketua Komisi I DPRA, Rusyidi Mukhtar meminta rencana pembangunan empat Batalyon Teritorial Pembangunan (YTP) baru di Aceh dibatalkan
Penulis: Rianza Alfandi | Editor: Muhammad Hadi
Laporan Rianza Alfandi | Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Wakil Ketua Komisi I DPRA, Rusyidi Mukhtar alias Ceulangiek, meminta rencana pembangunan empat Batalyon Teritorial Pembangunan (YTP) baru di Aceh agar dibatalkan.
Menurutnya, wacana pembangunan batalyon baru di bawah Kodam Iskandar Muda yang akan ditempatkan di wilayah Pidie, Nagan Raya, Aceh Tengah, dan Aceh Singkil tersebut tidak sejalan dengan semangat perdamaian yang tertuang dalam Nota Kesepahaman (MoU) Helsinki.
“Aceh sudah aman dan damai. Tidak ada konflik yang mengharuskan penambahan kekuatan militer. Kita menolak,” ujar Ceulangiek dalam keterangannya, Senin (5/5/2025).
Baca juga: Haji Uma Minta Rencana Pembangunan Empat Batalyon TNI di Aceh Dikaji Ulang
Ia menegaskan, MoU Helsinki yang ditandatangani pada 15 Agustus 2005 telah mengatur secara tegas batasan jumlah tentara organik yang boleh berada di Aceh, yaitu sebanyak 14.700 personel.
Relokasi tentara non-organik pun telah dilakukan tepat pada 15 September 2005, sebagai bagian dari proses konsolidasi perdamaian di Aceh.
“MoU Helsinki adalah payung hukum damai di Aceh. Dalam klausul 4.11 disebutkan bahwa militer bertanggung jawab atas pertahanan eksternal saja.
Jadi, tidak boleh ada penambahan Batalyon baru tanpa menabrak MoU itu sendiri,” ungkapnya.
Baca juga: Kapolres Tembak Remaja Tawuran hingga Tewas, Kapolda Sumut Minta Mabes Polri Nonaktifkan AKBP Oloan
Ceulangiek juga menyampaikan bahwa berdasarkan perjanjian, semua pergerakan militer lebih dari satu peleton wajib diberitahukan kepada Kepala Misi Monitoring.
Hal ini menjadi indikator penting bahwa transparansi dan pengawasan menjadi bagian dari mekanisme perlindungan damai Aceh.
Keamanan di Aceh, kata dia, saat ini justru semakin kuat. Masyarakat sudah bertransformasi menjadi kelompok sipil yang aktif menjaga perdamaian.
“GAM sudah menjadi bagian dari masyarakat sipil. Dinding perdamaian itu sudah kokoh, bukan lagi rapuh,” tegasnya.
Baca juga: Aksi Bela Palestina, Warga Aceh Desak Prabowo Kirim Tentara ke Gaza
Ceulangiek juga menilai bahwa penambahan kekuatan militer secara sepihak hanya akan menciptakan persepsi buruk di tengah masyarakat.
Untuk itu, ia mendesak pemerintah pusat dan TNI untuk menghormati dan menjalankan isi dari perjanjian MoU Helsinki sebagai bentuk penghormatan terhadap proses damai yang telah berlangsung hampir dua dekade.
“Penambahan ini tidak relevan dan justru bisa merusak kepercayaan publik. Kami minta rencana ini dibatalkan demi menjaga komitmen perdamaian dan harmoni antara rakyat Aceh dan negara,” pungkasnya.
Baca juga: Update Harga Emas di Banda Aceh Hari Ini per Mayam dan Antam per Gram, Senin 5 Mei 2025
| Mualem Berduka, Ketua Harian PA Kecelakaan di Tol Sibanceh Istrinya Meninggal Dunia |
|
|---|
| Aliansi Rakyat Aceh Dirikan Posko Perjuangan di Kantor Gubernur |
|
|---|
| Sekda Aceh Lantik 120 Pejabat Eselon III dan IV |
|
|---|
| Coffee Car Dilarang Gelar Lapak di Jalan Daud Beureueh |
|
|---|
| Aceh Butuh Regulasi Atur Etika Medsos Mengisi Kekosongan Hukum Nasional |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Anggota-DPRA-Rusyidi-Mukhtar-alias-Ceulangiek_05052025.jpg)