Sabtu, 11 April 2026

Konflik Palestina dan Israel

Operasi Militer Israel Makin Ganas, Sandera dan Warga Gaza Kian Terjepit!

“IDF sedang meningkatkan tekanan terhadap Hamas untuk membebaskan para sandera dan menghancurkan infrastruktur teroris mereka, baik di atas maupun di

Penulis: Sri Anggun Oktaviana | Editor: Amirullah
khaberni/tangkap layar
PASUKAN ISRAEL - Pasukan Israel (IDF) dari divisi infanteri melakukan agresi militer darat ke Jalur Gaza. Utusan Presiden AS Donald Trump untuk Timur Tengah, Steve Witkoff bakal melakukan perjalanan ke Timur Tengah pada Rabu (26/2/2025) untuk menuntut Israel memperpanjang gencatan senjata di Gaza dengan Hamas. 

Operasi Militer Israel Makin Ganas, Sandera dan Warga Gaza Kian Terjepit!

SERAMBINEWS.COM-Militer Israel (IDF) telah memanggil puluhan ribu pasukan cadangan untuk memperluas operasi militernya di Gaza. 

Langkah ini diambil setelah gencatan senjata gagal dan negosiasi pembebasan sandera tidak membuahkan hasil.

“IDF sedang meningkatkan tekanan terhadap Hamas untuk membebaskan para sandera dan menghancurkan infrastruktur teroris mereka, baik di atas maupun di bawah tanah,” demikian pernyataan resmi dari militer Israel pada hari Minggu (4/5/2025).

Militer menyampaikan bahwa mereka akan mulai beroperasi di wilayah-wilayah baru di Gaza.

Tujuannya adalah untuk “menghancurkan semua infrastruktur Hamas.

Namun, menurut laporan media Israel, operasi besar-besaran ini baru akan dimulai setelah kunjungan Presiden AS Donald Trump ke kawasan tersebut minggu depan.

Kabinet keamanan Israel dilaporkan telah menyetujui rencana ekspansi operasi militer ini.

Serangan yang diperluas tersebut diprediksi akan memberi tekanan lebih besar pada pasukan cadangan yang kelelahan.

 Beberapa di antaranya disebut telah direkrut lima hingga enam kali sejak perang dimulai pada Oktober 2023.

Baca juga: Update Harga Emas di Banda Aceh Hari Ini per Mayam, Edisi 5 Mei 2025, Naik atau Turun?

Kekhawatiran Keluarga Sandera Meningkat

Langkah militer ini mendapat kritikan keras dari keluarga para sandera dan sebagian masyarakat Israel.

Mereka khawatir perluasan serangan justru membahayakan nyawa 59 sandera yang masih ditahan Hamas, di mana 24 di antaranya diyakini masih hidup.

Dalam unjuk rasa di Tel Aviv pada Sabtu malam, seorang ibu dari salah satu sandera menyebut konflik ini sebagai “perang yang tidak perlu”.

“Kami ingin anak-anak kami kembali. Satu-satunya jalan adalah lewat kesepakatan, bukan bom,” katanya dengan suara gemetar.

Israel juga dituding oleh badan-badan kemanusiaan internasional menggunakan blokade bantuan sebagai senjata perang.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved