Konklaf
5 Kardinal Paling Berpengalaman dalam Konklaf Pemilihan Paus
Kehadiran mereka menjadi penyeimbang dan sumber kebijaksanaan dalam proses yang sangat spiritual dan penuh tanggung jawab ini.
Penulis: Sri Anggun Oktaviana | Editor: Amirullah
5 Kardinal Paling Berpengalaman dalam Konklaf Pemilihan Paus
SERAMBINEWS.COM-Dengan dimulainya Konklaf pada (7/5/2025) untuk memilih Paus baru, perhatian tertuju pada para kardinal yang memiliki pengalaman panjang dalam proses pemilihan ini.
Dilansir dari Catholic News (8/5/2025), Dari 133 kardinal elektor yang berhak memilih, ada lima di antaranya yang membawa pengalaman luar biasa karena telah mengikuti dua konklaf sebelumnya, yakni tahun 2005 (saat Paus Benediktus XVI terpilih) dan 2013 (saat Paus Fransiskus terpilih).
Kehadiran mereka menjadi penyeimbang dan sumber kebijaksanaan dalam proses yang sangat spiritual dan penuh tanggung jawab ini.
Siapa saja kelima tokoh tersebut? Berikut profil lengkapnya.
1. Kardinal Vinko Puljić – Pengalaman Terpanjang Sebagai Kardinal
Asal: Bosnia dan Herzegovina
Usia: 79 tahun
Diangkat Kardinal: 1994
Konklaf yang Diikuti: 2005, 2013, dan kini 2025
Kardinal Vinko Puljić adalah kardinal pemilih dengan masa jabatan terpanjang di antara seluruh peserta konklaf 2025.
Ia telah menjadi kardinal selama hampir 31 tahun, sejak diangkat oleh Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1994.
Meskipun usianya kini 79 tahun dan tinggal empat bulan lagi sebelum mencapai batas usia 80 tahun (setelah itu tidak boleh ikut memilih), ia tetap masuk dalam daftar pemilih karena masih memenuhi syarat pada tanggal dimulainya konklaf.
Puljić dikenal sebagai Uskup Agung Emeritus Sarajevo, dan perannya sangat penting selama masa perang di Bosnia pada 1990-an.
Ia dikenal sebagai juru bicara perdamaian dan pembela hak asasi manusia, dan pernah menjabat sebagai presiden konferensi para uskup Bosnia dan Herzegovina.
Keterlibatannya dalam dua konklaf sebelumnya, ditambah dengan pengalaman pastoral dan sosialnya, menjadikannya sosok yang disegani dalam Konklaf 2025.
Baca juga: Konklaf: Di Balik Proses Sakral Pemilihan Paus, Bagaimana Seorang Paus Dipilih?
2. Kardinal Peter Turkson – Tokoh Afrika dalam Isu Keadilan Sosial
Asal: Ghana
Usia: 76 tahun
Diangkat Kardinal: 2003
Konklaf yang Diikuti: 2005, 2013, 2025
Kardinal Peter Turkson adalah salah satu tokoh Gereja paling berpengaruh dari Afrika.
Ia kini menjabat sebagai Kanselir Akademi Kepausan Ilmu Pengetahuan dan Akademi Kepausan Ilmu Sosial, dua lembaga penting yang mendorong dialog antara iman dan ilmu pengetahuan.
Turkson adalah seorang sarjana Alkitab dan dikenal sebagai pemimpin dalam isu keadilan sosial, perdamaian, dan pembangunan manusia.
Ia pernah menjabat sebagai Presiden Dewan Kepausan untuk Keadilan dan Perdamaian (2009–2017), dan kemudian sebagai Prefek pertama dari Departemen Promosi Pembangunan Manusia Integral (2017–2021), yang dibentuk oleh Paus Fransiskus.
Dengan pengalamannya dalam menghubungkan ajaran Gereja dengan tantangan sosial global, Turkson membawa perspektif yang sangat berharga ke dalam konklaf ini.
Baca juga: Peti Jenazah Paus Fransiskus Resmi Disegel dalam Upacara Khidmat di Basilika Santo Petrus
3. Kardinal Philippe Barbarin – Teolog dan Misionaris Berpengalaman
Asal: Prancis
Usia: 74 tahun
Diangkat Kardinal: 2003
Konklaf yang Diikuti: 2005, 2013, 2025
Kardinal Philippe Barbarin berasal dari Prancis dan pernah menjabat sebagai Uskup Agung Lyon dari tahun 2002 hingga 2020.
Ia adalah tokoh yang sangat dihormati dalam bidang teologi dan pernah menjadi misionaris di Madagaskar, serta mengajar sebagai profesor teologi.
Lahir di Rabat, Maroko, Barbarin membawa pengalaman lintas budaya dan pandangan yang luas tentang kehidupan Gereja.
Meski sempat menghadapi tuduhan karena tidak melaporkan kasus pelecehan seksual, ia akhirnya dibebaskan melalui banding pada tahun 2020.
Sebagai seseorang yang telah menjalani dua konklaf sebelumnya dan memiliki latar belakang akademik serta pastoral yang kuat, Barbarin adalah salah satu suara penting dalam pemilihan Paus 2025.
4. Kardinal Péter Erdő – Ahli Hukum Gereja dari Hungaria
Asal: Hungaria
Usia: 72 tahun
Diangkat Kardinal: 2003
Konklaf yang Diikuti: 2005, 2013, 2025
Kardinal Péter Erdő adalah Uskup Agung Esztergom-Budapest dan Primata Gereja Katolik di Hungaria.
Ia adalah salah satu intelektual besar dalam Gereja Katolik saat ini, dengan lebih dari 250 karya ilmiah di bidang hukum kanon dan spiritualitas.
Erdő pernah memimpin konferensi para uskup Hungaria dan Dewan Konferensi Waligereja Eropa, menjadikannya tokoh utama dalam memperkuat jaringan dan persekutuan Gereja di seluruh Eropa.
Selain dua konklaf sebelumnya, Erdő juga sering hadir dalam sinode-sinode penting yang membahas masa depan Gereja.
Keahliannya dalam bidang hukum dan teologi menjadikannya salah satu kardinal yang paling dihormati secara intelektual dalam konklaf kali ini.
Baca juga: Siapa Pengganti Paus Fransiskus Usai Wafat? Berikut 9 Kandidat Kuat Diprediksi Jadi Paus Berikutnya
5. Kardinal Josip Bozanić – Suara Perdamaian dari Kroasia
Asal: Kroasia
Usia: 76 tahun
Diangkat Kardinal: 2003
Konklaf yang Diikuti: 2005, 2013, 2025
Kardinal Josip Bozanić adalah Uskup Agung Emeritus Zagreb, Kroasia, dan dikenal luas sebagai pembela dialog antara Gereja dan negara serta pemimpin yang aktif dalam isu keadilan dan perdamaian.
Ia pernah menjabat sebagai Presiden Konferensi Waligereja Kroasia dan menjadi suara penting dalam proses rekonsiliasi pascakonflik di Balkan.
Dalam dua konklaf sebelumnya, ia dikenal sebagai sosok yang tenang namun berpengaruh.
Dengan pengalaman pastoral dan sosial yang luas di wilayah penuh tantangan, Bozanić membawa dimensi penting tentang rekonsiliasi dan solidaritas ke dalam konklaf 2025.
Kelima kardinal ini bukan hanya hadir sebagai pemilih, tetapi sebagai penjaga nilai, tradisi, dan kebijaksanaan yang telah mereka kumpulkan dari dekade pelayanan.
Pengalaman mereka dalam dua konklaf sebelumnya memberikan mereka pemahaman mendalam tentang tanggung jawab besar yang mereka emban, memilih pemimpin spiritual bagi lebih dari satu miliar umat Katolik di seluruh dunia.
Konklaf bukanlah sekadar pemungutan suara, tetapi momen ketika doa, pemikiran, dan harapan Gereja berpadu.
Dalam kesunyian Kapel Sistina, suara mereka akan menjadi bagian dari sejarah.
Baca juga: Paus Fransiskus Wafat, Bagaimana Proses Pemilihan Paus Baru di Vatikan?
(Serambinews.com/Sri Anggun Oktaviana)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Siapa-yang-akan-menjadi-Paus-berikutnya-Inilah-para-kandidat-utama.jpg)