Minggu, 31 Mei 2026

Internasional

Trump Klaim Perdamaian Ukraina Tak Akan Terjadi Tanpa Dirinya Bertemu Putin

"Lihat, tidak akan terjadi apa-apa sampai Putin dan saya bertemu," kata Trump kepada wartawan.

Tayang:
Penulis: Sri Anggun Oktaviana | Editor: Amirullah
Facebook The White House
DONALD TRUMP - Foto ini diambil pada Rabu (26/2/2025) dari publikasi resmi The White House, memperlihatkan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump menandatangani perintah untuk memberikan transparansi harga dan biaya perawatan kesehatan yang rendah bagi keluarga AS. Pada Selasa (25/2/2025) 

Trump Klaim Perdamaian Ukraina Tak Akan Terjadi Tanpa Dirinya Bertemu Putin

SERAMBINEWS.COM-Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali membuat pernyataan kontroversial terkait perang Rusia-Ukraina.

 Dilansir dari GB News (16/5/2025), dalam kunjungan diplomatiknya ke Timur Tengah, Trump menyatakan bahwa kesepakatan damai antara Rusia dan Ukraina tidak akan pernah tercapai kecuali jika ia secara pribadi bertemu langsung dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin.

Pernyataan ini disampaikannya sebelum mendarat di Abu Dhabi dalam perjalanan terakhirnya di kawasan tersebut.

"Lihat, tidak akan terjadi apa-apa sampai Putin dan saya bertemu," kata Trump kepada wartawan.

"Jelas, dia tidak akan pergi. Dia akan pergi, tetapi dia pikir aku akan pergi... Dia tidak akan pergi jika aku tidak ada di sana dan aku tidak percaya apa pun akan terjadi, suka atau tidak, sampai dia dan aku bertemu. Tetapi kita harus menyelesaikannya karena terlalu banyak orang yang meninggal."

Pernyataan Trump muncul di tengah kebuntuan terbaru dalam negosiasi damai antara Rusia dan Ukraina.

Baca juga: Harga Emas Ambruk! Catat Penurunan Terburuk Sejak November 2024

 Presiden Putin sebelumnya menolak tantangan untuk bertemu langsung dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Turki dan memilih untuk mengirim delegasi tingkat kedua ke perundingan yang dijadwalkan.

Presiden Zelensky pun menanggapi dengan nada kecewa. Dalam konferensi pers di Ankara, ia mengatakan: "Kita tidak bisa berkeliling dunia mencari Putin. Saya merasa tidak dihormati oleh Rusia. Tidak ada waktu pertemuan, tidak ada agenda, tidak ada delegasi tingkat tinggi, ini adalah sikap tidak hormat pribadi. Kepada Erdogan, kepada Trump."

Zelensky sendiri telah menugaskan Menteri Pertahanannya untuk memimpin delegasi Ukraina dalam perundingan tersebut, menunjukkan bahwa Kyiv tetap berkomitmen terhadap upaya diplomatik meskipun lawan mereka terlihat enggan.

Rubio: Tidak Akan Ada Terobosan Tanpa Trump

Sentimen serupa dengan Trump juga diungkapkan oleh Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, yang juga merupakan mantan pesaing Trump dari Partai Republik.

 Menurutnya, perundingan tidak akan membuahkan hasil selama belum ada keterlibatan langsung antara Trump dan Putin.

"Menurut penilaian saya, kita tidak akan mencapai terobosan sampai Presiden (Trump) dan Presiden Putin berinteraksi secara langsung mengenai topik ini," kata Rubio.


"Saya harap saya salah. Saya harap saya 100 persen salah... Saya harap berita besok pagi adalah ada gencatan senjata. Tapi itu bukan penilaian saya."

Baca juga: India Tunduk pada Trump? Presiden AS Sebut India Bersedia Menghapus Semua Tarif untuk Produk AS

Respons dari Rusia dan Sikap Kremlin

Dari pihak Rusia, Kremlin masih belum menunjukkan kejelasan mengenai kemungkinan keterlibatan langsung Presiden Putin dalam perundingan.

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan bahwa terlalu dini untuk memastikan bentuk partisipasi lebih lanjut dari Rusia.

"Jenis partisipasi apa yang akan dibutuhkan lebih lanjut, pada tingkat apa, masih terlalu dini untuk mengatakannya sekarang," kata Peskov.

Delegasi Rusia saat ini dipimpin oleh Vladimir Medinsky, penasihat Presiden Putin sekaligus mantan Menteri Kebudayaan.

Medinsky dikenal sebagai tokoh yang terlibat dalam penulisan ulang buku-buku sejarah Rusia untuk menyesuaikan narasi Kremlin terkait konflik.

Medinsky mengatakan bahwa tujuan utama negosiasi adalah untuk mencari solusi damai jangka panjang.

 "Tugas negosiasi langsung dengan pihak Ukraina cepat atau lambat adalah mencapai perdamaian jangka panjang dengan menghilangkan akar penyebab dasar konflik," ujarnya.

Baca juga: Demi Bawa Pulang Rp9.600 Triliun dari Saudi, Trump Cabut Sanksi Suriah dan Ajak Iran Damai?

Persyaratan Damai yang Ditolak Ukraina

Hingga kini, tuntutan Rusia tetap tidak berubah.

Kremlin menuntut agar Ukraina menyerahkan wilayah yang saat ini dikuasai pasukan Rusia yang mencakup hampir seperlima dari keseluruhan wilayah Ukraina.

Selain itu, Rusia ingin agar Ukraina meninggalkan ambisinya untuk bergabung dengan NATO dan mengadopsi status sebagai negara netral.

Namun, pemerintah Ukraina menolak keras persyaratan ini. Menurut Kyiv, hal tersebut sama saja dengan menyerah kepada Rusia.

Ukraina juga terus mencari jaminan keamanan jangka panjang dari kekuatan global, terutama dari Amerika Serikat.

 (Serambinews.com/Sri Anggun Oktaviana)

Baca juga: Gaza Kembali Dibombardir, Lebih dari 74 Warga Palestina Tewas: “Anak-anak Tak Bersalah Sedang Mati”

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved