Rabu, 22 April 2026

Berita Banda Aceh

Budayawan Aceh Cek Midi Gagal Hadiri Forum Internasional Manuskrip ICIM 2025 di Brunei Darussalam

Penjaga Manuskrip Aceh Cek Midi Gagal Hadiri Forum Internasional Manuskrip ICIM 2025 di Brunei Darussalam

Penulis: Muhammad Nasir | Editor: Muhammad Hadi
For Serambinews
Budayawan Aceh sekaligus Kolektor Naskah Kuno Aceh,  Tarmizi A. Hamid, yang lebih dikenal sebagai Cek Midi, dipastikan tidak dapat menghadiri "International Conference on Islamic Manuscript (ICIM) 2025" di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam. Kegiatan bergengsi ini diselenggarakan oleh Balai Khazanah Islam Sultan Haji Hassanal Bolkiah (BKISHHB) dan berlangsung dari tanggal 21 hingga 25 Juni 2025. 

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Budayawan Aceh sekaligus Kolektor Naskah Kuno Aceh,  Tarmizi A. Hamid, yang lebih dikenal sebagai Cek Midi, dipastikan tidak dapat menghadiri "International Conference on Islamic Manuscript (ICIM) 2025" di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam.

Kegiatan bergengsi ini diselenggarakan oleh Balai Khazanah Islam Sultan Haji Hassanal Bolkiah (BKISHHB) dan berlangsung dari tanggal 21 hingga 25 Juni 2025.

Undangan resmi kepada Cek Midi telah disampaikan jauh hari oleh panitia ICIM sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi panjangnya dalam pelestarian manuskrip Aceh.

Tarmizi A Hamid, budayawan dan pendiri Rumoh Manuskrip Aceh.
Tarmizi A Hamid, budayawan dan pendiri Rumoh Manuskrip Aceh. (SERAMBINEWS.COM)

Kehadirannya dijadwalkan untuk mengikuti seminar, workshop, serta sesi dialog langsung dengan Sultan Haji Hassanal Bolkiah dalam pembukaan dan penutupan acara.

Namun sayangnya, hingga batas akhir konfirmasi kehadiran pada 19 Juni 2025, Cek Midi tidak memperoleh dukungan keberangkatan dari pihak-pihak terkait di Indonesia.

 Meski surat undangan telah dikonsultasikan secara resmi kepada Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah I Aceh, dan telah ada janji dukungan untuk memfasilitasi partisipasinya, namun hingga tenggat waktu tersebut, tidak ada tindak lanjut konkret dari instansi bersangkutan.

Baca juga: Cek Midi Terima Kunjungan Silaturahmi Tim Maemuna Center Indonesia di Rumoh Manuskrip Aceh

Kegagalan keberangkatan ini menjadi cermin atas kurangnya perhatian terhadap tokoh-tokoh budaya lokal yang telah berkontribusi besar dalam pelestarian warisan budaya bangsa.

Cek Midi selama ini dikenal gigih menyelamatkan dan merawat manuskrip-manuskrip langka dari Aceh, banyak di antaranya sudah nyaris hilang dari peredaran sejarah.

mahasiswa dari berbagai fakultas di lingkungan UIN Ar-Raniry Banda Aceh mengikuti kuliah lapangan ke Rumoh Manuskrip Aceh milik Ir Tarmizi A Hamid di Kawasan Ie Masen Kayee Adang Banda Aceh, Selasa (5/11/2024).
mahasiswa dari berbagai fakultas di lingkungan UIN Ar-Raniry Banda Aceh mengikuti kuliah lapangan ke Rumoh Manuskrip Aceh milik Ir Tarmizi A Hamid di Kawasan Ie Masen Kayee Adang Banda Aceh, Selasa (5/11/2024). (for Serambinews)

“Hubungan saya dengan tokoh-tokoh budaya Brunei sangat baik. Hampir setiap ada kegiatan budaya atau kenegaraan, saya diundang. Tapi kali ini saya benar-benar tidak bisa hadir tanpa ada dukungan dari pemerintah,” ujar Cek Midi dengan nada haru.

Acara ICIM 2025 merupakan forum prestisius yang mempertemukan pakar-pakar manuskrip Islam dari berbagai negara, dan mencakup berbagai kegiatan penting seperti bengkel pelestarian naskah, teknik konservasi fisik manuskrip, serta peluang kerja sama antar-lembaga.

Baca juga: Cek Midi Paparkan Kandungan Manuskrip Aceh di Simeulue : Smong Adalah Kearifan Lokal Paling Tinggi

Kehadiran perwakilan Aceh pada forum seperti ini sejatinya sangat strategis. Pasalnya, manuskrip Aceh tidak hanya menjadi bagian dari sejarah lokal, tetapi juga merupakan warisan dunia Islam yang sedang banyak dikaji di berbagai pusat studi internasional, mulai dari Belanda, Inggris, Afrika, hingga Asia Tenggara termasuk Malaysia dan Brunei Darussalam.

Baca juga: Menyelami Warisan Leluhur di Rumoh Manuskrip, Penjaga Hening Ratusan Naskah Kuno Aceh 

“Kita terlalu sering bicara budaya hanya di wilayah sendiri. Sementara dunia luar sudah jauh bergerak lebih cepat, mengkaji dan mendokumentasikan warisan budaya kita,” tambahnya.

Kejadian ini menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya tidak hanya membutuhkan semangat individu, tetapi juga dukungan kelembagaan yang nyata, agar warisan budaya Nusantara, termasuk manuskrip Aceh, dapat tampil di forum-forum internasional dengan semestinya.(*)

Baca juga: Ulama Muda Tgk Habibie Waly Kagum Manuskrip Aceh Milik Cek Midi, Jadi Bahan Ceramah Ke Seluruh Aceh

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved