Jumat, 24 April 2026

Sejarah Gunung Rinjani, Legenda Dewi Anjani hingga Bencana Dunia 1257

Gunung Rinjani tak bisa dilepaskan dari mitos Rara Anjani atau Dewi Anjani yang disebut sebagai penunggu gunung tersebut.

Editor: Amirullah
(KOMPAS/Iwan Setiyawan)
Keindahan kaldera Gunung Rinjani dengan Danau Segara Anak dan gunung anakan Barujari menjadi salah satu daya tarik wisata di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. 

SERAMBINEWS.COM - Gunung Rinjani kembali memakan korban.

Seorang pendaki asal Brasil, Juliana Marins, dilaporkan meninggal dunia setelah terjatuh ke jurang yang mengarah ke Danau Segara Anak, salah satu ikon alam paling memukau di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Peristiwa tragis ini menambah panjang daftar kecelakaan di jalur pendakian Rinjani sejak gunung ini kembali dibuka pada April 2025.

Setidaknya telah terjadi empat insiden pendakian, dua di antaranya berujung kematian — masing-masing dialami pendaki dari Malaysia dan Brasil.

Gunung Rinjani yang menjulang setinggi 3.726 meter di atas permukaan laut memang dikenal sebagai surga bagi para pencinta alam.

Lanskapnya yang spektakuler, termasuk Danau Segara Anak dan Gunung Barujari di dalam kaldera, menjadikan Rinjani salah satu tujuan pendakian terpopuler di Asia Tenggara.

Namun di balik keindahan tersebut, Rinjani menyimpan risiko besar, terutama bagi mereka yang tidak cukup waspada atau belum berpengalaman.

Mengutip Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, morfologi utama Gunung Rinjani adalah kaldera berbentuk elips dengan kemiringan lereng curam antara 60 hingga 80 derajat.

Batuan dasarnya terdiri dari lava dan jatuhan piroklastik, produk aktivitas vulkanik yang masih terus berlangsung hingga hari ini.

Secara geologis, Gunung Rinjani terbentuk dari aktivitas subduksi antara lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia.

Proses ini menciptakan rangkaian pegunungan aktif di wilayah Nusa Tenggara. Rinjani sendiri merupakan bagian dari kaldera besar hasil letusan Gunung Samalas (dikenal sebagai Rinjani Tua) pada tahun 1257 salah satu letusan paling dahsyat dalam sejarah dunia yang dampaknya terdeteksi hingga Kutub Utara dan Selatan.

Letusan besar Samalas itulah yang membentuk kaldera Rinjani dan menciptakan Danau Segara Anak yang kini menjadi daya tarik utama kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani.

Gunung Rinjani yang sekarang bukanlah gunung purba Samalas, melainkan kerucut vulkanik baru yang tumbuh di dalam kaldera. Catatan sejarah mencatat Rinjani telah meletus sedikitnya 11 kali sejak tahun 1847, dengan letusan terakhir terjadi pada 2009.

"Bukti bahwa letusan itu terjadi beberapa kali terlihat dari bentuk kaldera Danau Segara Anak yang lonjong dengan ukuran sisi-sisi terpanjang 4.800 m x 3.500 m. Kaldera yang terbentuk oleh satu kali letusan dahsyat cenderung bulat simetris," tulis Kompas.ID.

Baca juga: Gegara Aksi Heroiknya Evakuasi Juliana Marins, Donasi untuk Agam Rinjani Sudah Capai Rp 340 Juta

Legenda Dewi Anjani

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved