Senin, 13 April 2026

Perang Gaza

Israel Ingin Berdamai dengan Suriah dan Lebanon, Dua Negara yang Dibomnya

Namun Saar mengatakan bahwa Israel tidak akan merundingkan status Dataran Tinggi Golan yang diduduki dalam perjanjian damai apa pun. 

Editor: Ansari Hasyim
The Times of Israel/Emmanuel Fabian
LEBANON SELATAN - Foto yang diambil dari The Times of Israel tanggal 11 Februari 2025 memperlihatkan tiga tentara Israel beroperasi di Lebanon selatan, 20 November 2025. Perang Israel-Hizbullah diprediksi kembali meletus. 

SERAMBINEWS.COM - Israel tertarik untuk mencapai perjanjian perdamaian dan normalisasi dengan negara tetangganya, Lebanon dan Suriah, kata Menteri Luar Negeri Gideon Saar.

"Israel tertarik memperluas lingkaran perdamaian dan normalisasi Perjanjian Abraham," kata Saar dalam konferensi pers, merujuk pada perjanjian yang disponsori AS yang ditandatangani pada tahun 2020 oleh Israel dengan Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Maroko.

"Kami berkepentingan untuk menambahkan negara-negara tetangga kami, Suriah dan Lebanon, ke dalam lingkaran perdamaian dan normalisasi sambil menjaga kepentingan penting dan keamanan Israel," tambahnya.

Namun Saar mengatakan bahwa Israel tidak akan merundingkan status Dataran Tinggi Golan yang diduduki dalam perjanjian damai apa pun. 

Dataran Tinggi Golan, yang merupakan bagian dari Suriah, telah diduduki Israel sejak 1967.

Israel telah tanpa henti membombardir Suriah dan Lebanon dalam beberapa tahun terakhir dengan berbagai dalih.

Perwira Militer Israel Akui Tembak Warga Sipil yang Kelaparan di Lokasi Distribusi Bantuan Gaza

Pejabat militer Israel mengakui bahwa mereka menembaki warga Palestina yang mencari bantuan kemanusiaan di titik distribusi di Gaza, termasuk dengan peluru artileri, bahkan ketika warga sipil tersebut tidak menimbulkan ancaman bagi pasukan, menurut laporan surat kabar Haaretz.

Pengakuan itu menyusul laporan surat kabar Israel, yang mengutip kesaksian dari tentara dan perwira yang mengatakan mereka diperintahkan untuk menembaki warga sipil yang kelaparan yang berkumpul di dekat pusat bantuan.

Pejabat yang tidak disebutkan namanya di Komando Selatan tentara Israel mengakui "bahwa warga sipil telah terbunuh karena tembakan artileri yang 'tidak akurat dan tidak diperhitungkan'," menurut laporan tersebut.

Pasukan Israel menewaskan sedikitnya 22 orang dan melukai 20 lainnya, banyak di antaranya saat berupaya mendapatkan bantuan makanan yang sangat dibutuhkan di Gaza selatan pada hari Senin, menurut para saksi, rumah sakit, dan Kementerian Kesehatan Gaza.

Rumah Sakit Nasser di Khan Younis melaporkan menerima jenazah 11 warga Palestina yang ditembak saat kembali dari lokasi bantuan yang terkait dengan Yayasan Kemanusiaan Gaza yang didukung Israel dan AS, bagian dari pola yang telah menewaskan lebih dari 500 orang dalam sebulan terakhir.

Sepuluh orang lainnya tewas di gudang bantuan PBB di Gaza utara, menurut Kementerian Kesehatan. Insiden di selatan terjadi sekitar 3 km dari lokasi GHF, saat orang-orang melakukan perjalanan di sepanjang salah satu dari sedikit rute yang dapat diakses untuk mencari bantuan.

Penembakan dan pembunuhan yang disengaja oleh tentara Israel terhadap warga sipil Palestina yang tidak bersenjata yang sedang menunggu bantuan kemanusiaan di titik distribusi makanan di Gaza merupakan genosida, kata para ahli hukum kepada Anadolu Agency.

Mengomentari laporan di surat kabar Israel Haaretz yang mengungkap bahwa komandan Israel memerintahkan tentaranya untuk sengaja menembaki warga Palestina yang tiba di titik distribusi bantuan, para ahli mengatakan ini merupakan kelanjutan dari kejahatan Israel terhadap warga Palestina yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved