Opini

Integrasi Pendidikan Suatu Konsep Kejayaan Aceh

Rektor (ketika itu disebut Teungku Syiek) universitas Islam pertama di Asia, Zawiyah Cot Kala Peureulak, Syekh Abdullah Kan'an mendapat

Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/FOR SERAMBINEWS.COM
Tgk Mukhtar Syafari MA, alumni Dayah MUDI - UNISAI dan PPs UIN Ar-Raniry serta pemerhati reintegrasi pendidikan di Pidie. 

Oleh: Tgk Mukhtar S.Sos.I, MA*)

PENDIDIKAN berkualitas merupakan syarat mutlak yang sangat dibutuhkan oleh suatu bangsa untuk mencapai kejayaan dan mengukir peradaban.

Negara kesultanan Aceh Darussalam pernah menjadi kesultanan super power ke 5 terkuat di dunia pada awal abad ke 17. Urutannya yaitu: Turki Usmani di Eropa, Safawiyah di Iran, Mughal di India - Pakistan, Fatimiah di Afrika dan Aceh Darussalam di Asia Tenggara.

Rektor (ketika itu disebut Teungku Syiek) universitas Islam pertama di Asia, Zawiyah Cot Kala Peureulak, Syekh Abdullah Kan'an mendapat surat perintah dari Sultan Peureulak (Sultan Alaidin Muhammad Syah Johan) bersama murid seniornya Meurah Johan Syah di Zawiyah Cot Kala pada 576 H /1180 M bersama 300 mahasantri untuk mengusir tentara Tiongkok atas permintaan raja Lamuri di ujung barat pulau Sumatera.

Negara Aceh Darussalam berdiri pada 22 April 1205. Saat ini pada tanggal tersebut diperingati sebagai hari lahir kota Banda Aceh. Di masa kesultanan Aceh, kota ini dikenal Bandar Aceh Darussalam sebagai ibu kota negara kesultanan Aceh Darussalam.

Pada abad ke 15, Kesultanan Aceh sempat terpecah menjadi dua dinasti (dinasti Meukuta Alam dan dinasti Darul Kamal) tetapi kemudian kehadiran Ali Mughayat Syah pada 1496 bukan hanya mampu menyatukan kembali dua dinasti tersebut tetapi menyatukan seluruh kesultanan di Aceh sampai ke Sumatera Utara, Aru, Malaka, Pahang, Johor, Pattani dan sekitarnya.

Aceh menjadi negara adikuasa yang ditakuti negara penjajah karena kekuatan dan kehebatannya mengusir Portugis dengan armada perangnya. Kapal perang Aceh yang cukup besar diberi nama Cakra Donya dan memiliki ratusan meriam. Karena perasaan takut, tentara Portugis menyebutnya kapal perang Espanto Del Mundo (teror dunia).

Kehebatan Laksamana Malahayati membunuh pimpinan kapal perang Belanda, Cornelis De Houtman dalam duel satu lawan satu pada 11 September 1599 mengakibatkan Belanda tidak berani lagi menyerang Aceh selama ratusan tahun. Belanda baru masuk lagi ke Aceh pada 26 Maret 1873 setelah sekian lama wilayah nusantara lainnya diduduki dan dijajah Belanda.

Negara kesultanan Aceh dikenal dunia karena kekuatan, kemakmuran, kekayaan hasil alam dan rempahnya. Rakyatnya memiliki pendidikan berkualitas yang mengintegrasikan (menyatukan) konsep pendidikan ilmu Islam dengan ilmu pendidikan lainnya yang dibutuhkan ketika itu seperti ilmu pertanian, irigasi, perdagangan, diplomasi, ekonomi sampai ilmu perang dan militer, termasuk memproduksi kapal perang yang tangguh dan peralatan militer seperti meriam.

Di masa kesultanan Aceh tidak dikenal adanya pemisahan lembaga pendidikan antara ilmu agama dan berbagai disiplin ilmu lainnya yang dibutuhkan untuk kemaslahatan umat dan agama. Ketika itu Zawiyah (Dayah) sebagai lembaga pendidikan tinggi yang menghasilkan intelektual yang tidak hanya menguasai ilmu agama tetapi juga terintegrasi (menyatu) dengan ilmu pendidikan lainnya. 

Aceh mencapai puncak kejayaannya dan satu negara Islam yang disegani negara negara luar. Banyak ulama Aceh ketika itu memiliki kepakaran di berbagai bidang seperti pertanian, irigasi, ekonomi, pemerintahan, militer.

Aceh di masa silam bukan hanya kerajaan kecil tapi menjadi negara berdaulat yang menjalin hubungan bilateral, diplomatik dan hubungan perdagangan dengan negara luar seperti Inggris, Prancis, Amerika, Spanyol, Belanda, Turki, Tiongkok dan lainnya.

Turki saat ini telah mulai bangkit menjadi negara maju setelah sekian lama mengalami kemunduran dalam sistem sekuler pasca runtuhnya khilafah Islam di tahun 1924. Turki menjadi negara sekuler yang memisahkan antara Islam dan kehidupan bernegara. Padahal dalam sejarah Islam kita mengenal Turki Usmani suatu khilafah Islam super power dan menjalin hubungan istimewa dengan Aceh.

Saat ini dunia juga mengenal betapa hebatnya negara Iran pasca perang 12 hari dengan Israel yang didukung penuh Amerika. Perang tersebut tidak hanya menghentak dan membuat Israel panik tetapi juga membuka mata dunia. 

Dalam perang tersebut, meskipun Iran hanya menggunakan 70 persen rudal jadul (produk lama) tetapi dikabarkan mampu menghancurkan 31 ribu gedung dan rumah warga Israel karena kecanggihan Iron Dome tidak mampu membendung serangan rudal rudal Iran yang memiliki kecepatan tinggi. Serangan balasan yang sangat mematikan terhadap Israel dan pangkalan militer AS sehingga dalam waktu singkat AS minta gencatan senjata.

Ke depan Iran diproyeksikan akan kembali menjadi negara adi kuasa setelah pada abad 17 menjadi negara super power khilafah Safawiyah. Iran menerima label negara berteknologi canggih kalahkan Jerman dan Italia. Iran termasuk di antara lima negara yang berlomba untuk menjadi negara adidaya teknologi di masa depan (sindonews.com edisi 27/04/23).

Pasca Revolusi di Iran tahun 1979 terjadi perubahan yang sangat signifikan dan fundamental bahwa sistem pendidikan di Iran harus disesuaikan dengan prinsip prinsip Islam. Hal ini dilakukan agar generasi Iran menjadi muslim yang memiliki komitmen yang kuat untuk kebangkitan Islam dan umat Islam.

Meskipun Iran puluhan tahun belakangan ini terisolasi oleh embargo dalam banyak hal tetapi mereka mampu memproduksi hasil teknologi modern, sains  tidak hanya teknologi persenjataan dan nuklir tetapi juga kendaraan dan teknologi lainnya. Hal ini karena rakyat Turki dan Iran mengenal  sejarah kejayaan bangsanya di masa silam sehingga memantik semangat untuk kembali bangkit menjadi negara kuat dan  sejahtera.

Kehadiran Snouck Hurgronje sebagai seorang orientalis dan konsultan perang yang dikirim kerajaan Belanda akhir abad 19 tidak hanya mengeliminasi dan membatasi peran ulama Aceh agar tidak terlibat politik praktis tetapi telah mampu melahirkan pemisahan antara ilmu agama dengan ilmu pengetahuan lainnya untuk mengalahkan dan menghambat kebangkitan Aceh melalui sekularisasi pendidikan.

Selama ini sejarah Aceh telah diselewengkan. Banyak bukti bukti sejarah telah dihilangkan untuk mengaburkan fakta sejarah sehingga menghambat semangat kebangkitan Aceh.

Saatnya pendidikan Aceh untuk melakukan reintegrasi untuk melahirkan intelektual yang memiliki iman dan taqwa serta ilmu pengetahuan dan teknologi serta setiap para generasi Aceh harus mengenal sejarah kebesaran dan kejayaan bangsanya.

Pendidikan di Aceh harus kembali menyatukan (integrasi) antara ilmu agama dan ilmu sains dan teknologi. Suatu perkembangan yang menggembirakan saat ini ribuan Dayah yang sudah mengintegrasikan dengan pendidikan umum dengan model asrama (boording school). Sekolah umum yang mengajarkan membaca Alquran dan ilmu Islam untuk anak didiknya seperti program unggulan 1 hari satu ayat di Pidie dan pendidikan Diniyah di beberapa kabupaten lainnya.

Dayah MUDI Mesjid Raya yang sudah lahir sejak Sultan Iskandar Muda saat ini memiliki Universitas (UNISAI) menjadi pelopor integrasi pendidikan menuju kebangkitan Aceh di tahun 2040.

Semoga ke depan kita menyaksikan universitas di Aceh akan mengadopsi sistem pendidikan Dayah. Saatnya men-dayah-kan kampus dan meng-kampus-kan Dayah.

*) PENULIS adalah alumni Dayah MUDI - UNISAI dan PPs UIN Ar-Raniry serta pemerhati reintegrasi pendidikan di Pidie.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved