Opini
Belajar Sabar dari Aceh yang Terluka
Seorang lelaki yang selama ini dikenal keras, tegar, dan tahan guncangan, mantan panglima perang yang ditempa puluhan tahun konflik terdiam
M Shabri Abd Majid, Profesor di bidang Ekonomi Islam dan Koordinator Prodi S3 Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK
MALAM itu sunyi, tetapi tidak hening. Sekitar pukul 22.10 WIB, Minggu, 7 Desember 2025, layar Narasi TV menampilkan pemandangan yang jarang tersaji di negeri yang penuh retorika dan angka statistik. Seorang lelaki yang selama ini dikenal keras, tegar, dan tahan guncangan, mantan panglima perang yang ditempa puluhan tahun konflik, terdiam lalu terisak. Muzakir Manaf, Mualem, mantan Panglima GAM yang kini memikul amanah sebagai Gubernur Aceh, menangis saat diwawancarai Najwa Shihab. Tangis itu jatuh sebelas hari pasca banjir bandang menyapu Aceh dengan daya rusak yang sulit dijelaskan oleh kata dan data.
Mualem tidak menangis karena dirinya. Ia menangis karena Aceh. Di hadapan kamera, dalam tangis ia berkata lirih: “Kalau berharap pada manusia, kita akan kecewa.” Kalimat sederhana, tanpa retorika, tanpa tudingan. Bukan keluhan, melainkan pengakuan iman dan tawakal. Sebuah kesadaran sunyi bahwa pada batas terakhir daya manusia, hanya Allah sebaik-baik tempat bersandar (QS. Ali Imran: 173). Sejak malam itu, wawancara berdurasi sekitar 15 menit tersebut ditonton lebih dari 2,6 juta kali. Angka itu bukan sekadar statistik digital, melainkan tanda krisis nurani nasional. Ada kegelisahan kolektif yang sedang mencari bahasa, dan menemukannya dalam air mata seorang pemimpin.
Tangis pemimpin kerap disangka kelemahan, padahal ia bisa lahir dari beratnya amanah. Bukan meminta iba, melainkan kejujuran batin ketika ikhtiar telah dikerahkan, namun penderitaan rakyat masih terlampau luas. Di sanalah kepemimpinan tampil paling manusiawi, sekaligus paling beriman dan bertawakal. Sebab alasan tangis itu nyata dan menyayat. Hujan turun berhari-hari tanpa jeda. Sungai meluap, kehilangan kesabaran. Air dan lumpur bergerak bersama, menelan rumah, jalan, jembatan, sekolah, puskesmas, ladang, dan kenangan. Di beberapa tempat, lumpur menutup pintu rumah setinggi dada. Kampung-kampung terputus dari peta. Listrik padam, sinyal lenyap. Warga terisolasi dalam gelap, terpisah dari kabar dan pertolongan. Ada dapur yang kosong. Ada anak-anak belajar di pengungsian. Bahkan ada yang meregang nyawa bukan hanya oleh derasnya air, tetapi oleh lambatnya bantuan.
Ironisnya, ketika penderitaan membesar di lapangan, ia justru mengecil dalam bahasa kebijakan. Bencana ini tidak ditetapkan sebagai bencana nasional. Bantuan asing dipersempit, sebagian tertahan, sebagian dipulangkan. Ada pernyataan yang meremehkan, ada narasi yang mengaburkan kenyataan, ada ikhtiar kemanusiaan yang dipersulit. Seolah luka bisa diringkas di ruang rapat dan penderitaan ditakar dari laporan, bukan dari tubuh yang menggigil dan perut yang menahan lapar. Di titik inilah tangis Mualem menemukan makna yang keimanan dan tawakal lebih luas. Ia menjadi cermin bagi nurani kolektif. Mengingatkan bahwa negara, sekuat apa pun strukturnya, tetap memiliki batas. Bahwa manusia, setinggi apa pun jabatannya, tetap makhluk yang rapuh. Manusia hanya mampu berencana, sementara Allah adalah Sang Penentu (QS. Ali Imran: 159). Tidak ada yang menimpa kecuali atas izin-Nya, dan hanya kepada-Nya berserah diri (QS. At-Taubah: 51).
Madrasah iman
Aceh memahami bahasa iman dan tawakal ini sejak lama. Sejarahnya adalah sejarah ujian. Dari perang melawan penjajahan kaphe Belanda dan Jepang, konflik panjang Aceh-Jakarta, hingga tsunami terdahsyat di dunia, Aceh terus ditempa oleh cobaan yang berat. Namun setiap luka tidak mematahkan, justru mematangkan. Aceh selalu berdiri kembali dengan kepala tegak. Seakan ditakdirkan menjadi madrasah iman, laboratorium ketabahan tempat manusia belajar bahwa ujian adalah jalan pengangkatan derajat, bukan tanda kebinasaan (QS. Al-Ankabut: 2). Para ulama dayah Aceh mewariskan hikmah yang jernih. Tgk Chik di Tiro menanamkan bahwa perjuangan paling berat bukan melawan musuh di luar, melainkan menjaga iman ketika sandaran dunia runtuh. Abu Daud Beureueh mengingatkan bahwa kekuatan umat tidak terletak pada banyaknya penolong, melainkan pada kokohnya keyakinan kepada Allah. Dalam hikmah dayah sering diucap singkat: ujian adalah madrasah, sabar adalah kitabnya.
Kitab suci meneguhkan hati yang letih: manusia pasti diuji dengan takut, lapar, serta kehilangan harta dan jiwa, namun kabar gembira disediakan bagi orang-orang yang sabar (QS. Al-Baqarah: 155). Ketika cobaan mengguncang, Allah menegaskan bahwa pertolongan-Nya selalu dekat (QS. Al-Baqarah: 214). Semakin berat ujian, semakin tinggi derajat yang disiapkan. Sejarah mencatat Umar bin Khattab menghadapi ‘Am al-Ramadah dengan kepemimpinan yang hadir, empati yang nyata, dan doa yang tak putus, ikhtiar berjalan, tawakal ditegakkan, dan kebenaran dipihakkan.
Aceh hari-hari ini juga menunjukkan wajah iman yang serupa. Di tengah kepedihan dan kesempitan, para korban bencana memuliakan tamu yang datang membawa bantuan. Mereka berbagi dari apa yang nyaris tak tersisa. Ini bukan romantisasi penderitaan, melainkan bukti ikhlas dan ridha menerima takdir Tuhan tanpa kehilangan adab. Sebuah puncak keimanan, ketika kesabaran tidak mengerutkan jiwa, tetapi meluaskannya.
Respons rakyat pun menguatkan. Di media sosial beredar video seorang pemuda Aceh berkata dengan tenang, “Jangan menangis lagi, Mualem. Jika pemimpin menangis, rakyat bisa melemah. Kami ada bersamamu.” Kalimat itu bukan penyangkalan atas air mata, melainkan ikrar kesetiaan. Di tempat lain, anak-anak muda menggubah lagu sederhana tentang keteguhan iman dan tawakal sang pemimpin. Tangis yang jujur ternyata tidak melahirkan kepanikan, tetapi keberanian kolektif.
Agar Aceh lulus dari ujian ini dan naik kelas, ada jalan yang harus diteguhkan bersama. Pertama, iman harus ditegakkan sebagai fondasi ketahanan jiwa, keyakinan bahwa Allah Maha Rahman dan Maha Rahim, dan manusia diciptakan bukan untuk dicelakakan, melainkan dirawat dalam kasih sayang-Nya. Kedua, sabar dan tawakal harus dihidupkan secara aktif, berserah tanpa berhenti berusaha. Ketiga, solidaritas dan empati mesti dirawat, sebab menolong sesama adalah ibadah paling nyata (QS. Al-Ma’un). Keempat, doa dan istigfar perlu diperbanyak, karena dalam gelap, dzikir adalah cahaya. Kelima, iktibar harus diambil, hubungan dengan alam dan sesama diperbaiki, karena kerusakan sering lahir dari kelalaian manusia (QS. Ar-Rum: 41). Terakhir, syukur diteguhkan, sebab syukur adalah pintu pertambahan nikmat.
Tangis Mualem bukan tanda lemah, melainkan penanda iman di batas daya manusia. Ia adalah suara batin Aceh, mewakili dapur yang kosong, ladang yang hilang, anak-anak di pengungsian, dan doa para lansia yang tak bersuara. Dari air mata itu, Aceh mengingatkan bangsa ini: berharap pada manusia sering berujung kecewa, tetapi bersandar kepada Allah melahirkan kekuatan. Saat iman menegak, sabar menebal, dan tawakal memimpin langkah, Aceh, tanah para pejuang dan syuhada, bukan hanya selamat dari bencana, melainkan lulus dari ujian Ilahi, diangkat derajatnya, dan bangkit mengajarkan arti keteguhan, penghambaan, dan harapan yang hidup dari Allah swt.
Opini Hari Ini
Penulis Opini
Belajar Sabar dari Aceh yang Terluka
M Shabri Abd Majid
Serambi Indonesia
Serambinews.com
Serambinews
Banjir Landa Aceh
Banjir dan Longsor di Aceh
| Saat Pemimpin tak Hadir di Tengah Bencana: Dilema Etika Antara Hak Personal & Tanggung Jawab Publik |
|
|---|
| Aceh sebagai Pintu Gerbang Perdagangan Internasional, Mengaspirasi Pembangunan Dubai |
|
|---|
| Nasib Aceh jika Kepala Daerah Dipilih DPRD |
|
|---|
| Menata Standar Pendidikan Menuju Ekosistem yang Lebih Bermakna |
|
|---|
| Dampak Bencana dan Antisipasi Perubahan RPJMA 2025-2029 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-M-Shabri-Abd-Majid-Prof-Bidang-Ilmu-Ekonomi-USK-Banda-Aceh.jpg)