Rabu, 29 April 2026

Berita Aceh Barat

Akses ke Laut Sulit, Nelayan Aceh Barat Desak Muara Krueng Cangkoi Dikeruk

“Kami harap pengerukan muara bisa dilakukan setidaknya dua kali dalam setahun,” pintanya.

Tayang:
Penulis: Sadul Bahri | Editor: Saifullah
For Serambinews.com
MUARA KRUENG CANGKOI - Nelayan sedang melakukan penyelamatan terhadap boat nelayan yang karam di muara Krueng Cangkoi, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat, beberapa waktu lalu. Pendangkalan yang terjadi di muara tersebut membuat nelayan kesulitan saat mengakses laut. 

Laporan Sakdul Bahri | Aceh Barat

SERAMBINEWS.COM, MEULABOH – Kondisi muara Krueng Cangkoi yang terus mengalami pendangkalan menjadi sorotan serius dari para nelayan di Kabupaten Aceh Barat.

Jalur air yang selama ini menjadi akses utama keluar-masuk perahu nelayan kini semakin sulit dilalui, terlebih saat air laut sedang surut.

Dampaknya tidak hanya mengganggu aktivitas melaut, namun juga menimbulkan risiko tinggi kecelakaan saat kapal kandas atau sulit bermanuver di muara.

Keluhan ini disampaikan langsung oleh Panglima Laot Aceh Barat, Amiruddin kepada Serambinews.com, Senin (4/8/2025).

Ia menegaskan, bahwa muara Krueng Cangkoi telah mengalami pendangkalan dalam waktu yang cukup lama dan kondisi saat ini semakin memprihatinkan.

Untuk itu, ia meminta agar pemerintah daerah serta pihak perusahaan yang beroperasi di sekitar lokasi tersebut segera mengambil langkah konkret.

Baca juga: TPI Panga Aceh Jaya Sudah Lama Terbengkalai Efek Muara Dangkal, Masyarakat Minta Respon Pemerintah 

“Kami harap pengerukan muara bisa dilakukan setidaknya dua kali dalam setahun,” pintanya.

“Ini penting bukan hanya untuk kelancaran aktivitas nelayan, tapi juga untuk keselamatan mereka di laut,” ujar Amiruddin.

Lebih dari sekadar solusi teknis, Amiruddin mengusulkan pendekatan berbasis swadaya.

Menurutnya, pengerjaan proyek pengerukan bisa dikelola langsung oleh kelompok nelayan.

Ia berpendapat bahwa keterlibatan aktif masyarakat pesisir akan membuat pekerjaan lebih efektif dan tepat sasaran.

Bahkan, model ini bisa menciptakan peluang kerja baru bagi warga sekitar.

“Daripada melibatkan pihak luar, sebaiknya dikelola sendiri oleh nelayan,” tutur dia.

Baca juga: Lima Muara Dangkal di Aceh Besar, Nelayan Keluhkan Kesulitan Saat Pergi dan Pulang dari Melaut

“Mereka mengerti medan, punya semangat gotong-royong, dan bisa memperoleh manfaat ekonomi tambahan,” tambahnya penuh keyakinan.

Namun, gagasan ini butuh dukungan, terutama dalam bentuk peralatan dan pendampingan teknis.

Menurut Amiruddin, jika nelayan dibekali dengan sumber daya yang memadai, mereka mampu mengelola pengerukan secara mandiri dan berkelanjutan.

Sayangnya, sejumlah surat permintaan bantuan yang telah dilayangkan ke beberapa perusahaan termasuk PT Mifa Bersaudara, hingga kini belum membuahkan hasil nyata.

Panglima Laot menegaskan, bahwa permohonan ini bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan demi kelangsungan hidup ratusan nelayan yang bergantung pada laut sebagai sumber mata pencaharian.

Baca juga: Jumat Curhat dengan Kapolres Nagan Raya, Panglima Laot Keluhkan Pencemaran Limbah Batu Bara

“Kami sudah berulang kali menyurati perusahaan. Tapi belum ada tanggapan yang konkret,” ungkapnya.

“Kami tetap menaruh harapan, karena ini menyangkut kehidupan masyarakat pesisir,” tukas Amiruddin.

Lembaga Adat Laot Aceh Barat turut memperkuat desakan tersebut.

Mereka menegaskan bahwa permintaan ini hendaknya dipandang sebagai upaya pelestarian jalur ekonomi lokal.

Pasalnya, muara Krueng Cangkoi bukan sekadar urat nadi nelayan, tapi juga bagian dari rantai pasok perikanan yang menopang perekonomian daerah.

Para nelayan kini mendesak agar pengerukan muara dimasukkan dalam program tahunan daerah, sehingga tidak lagi menjadi masalah berulang.

Mereka berharap seluruh pihak terkait, baik pemerintah daerah, dinas kelautan dan perikanan, maupun korporasi, dapat memberi perhatian serius sebelum kondisi semakin memburuk.

“Kami hanya ingin bisa melaut dengan aman dan tenang. Jangan tunggu sampai ada korban dulu baru semuanya bergerak,” pungkas Amiruddin.(*)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved