Jumat, 24 April 2026

Profesor Humam Hamid Hadiri Forum Internasional Refleksi Aceh Damai di Jakarta

Humam Hamid mengatakan, kegiatan ini menunjukkan bahwa masyarakat internasional masih mau peduli Aceh.

Penulis: Yeni Hardika | Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/HANDOVER
Prof. Dr. Ahmad Human Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Sore ini, Rabu (13/8/2025), dan besok (14/8/2025) sehari penuh, di sebuah ballroom elegan Hotel Fairmont, Jakarta, akan berkumpul wajah-wajah yang pernah berada di garis depan sejarah Aceh. 

Bukan untuk merundingkan senjata, bukan pula untuk mengatur strategi perang, tetapi untuk mengenang dan merayakan sesuatu yang lebih sulit dari kemenangan militer, yakni perdamaian.

Informasi diperoleh Serambinews.com, Rabu (13/8/2025), di antara deretan tokoh nasional dan internasional yang akan hadir, terdapat beberapa dari Aceh, di antaranya Wali Nanggroe Tgk Malik Mahmud Al-Haythar, Profesor Ahmad Humam Hamid, dan Teuku Kamaruzzaman (Ampon Man). 

“Benar saya berangkat ke Jakarta hari ini. Ada acara yang perlu ditemui siang ini dari ERIA, NGO Jepang. Kita berterima kasih masih ada yang peduli Aceh,” ungkap Prof Humam Hamid menjawab Serambinews.com via pesan WhatsApp.

Humam Hamid mengatakan, kegiatan ini menunjukkan bahwa masyarakat internasional masih mau peduli Aceh.

Humam menyambut baik acara yang diadakan oleh ERIA ditengah ingatan publik nasional dan internasional yang nyaris lupa tentang perdamaian Aceh. 

“ERIA justru mengajak pemangku kepentingan tentang apa pelajaran, hikmah, dan tantangan Aceh yang belum selesai. Ini perhatian yang luar biasa dari NGO Jepang untuk Aceh,” ujarnya

Akademisi senior dari Universitas Syiah Kuala ini dikenal bukan hanya karena kapasitas akademisnya, tetapi juga perannya dalam masa konflik, karena keterlibatannya dalam advokasi hak asası manusia dan kampanye perdamaian.

Ia juga sangat terlibat dalam fase krusial pasca-perjanjian damai Aceh, melalui lembaga masyarkat sipil Aceh, Aceh Recovery Forum. 

Sebagai anggota Dewan Pengarah Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh–Nias, dan anggota Multi Donor Fund yang dimotori Uni Eropa dan Bank Dunia, Humam pernah ikut memastikan bahwa “damai” tak berhenti di atas kertas, melainkan menjelma menjadi sekolah yang berdiri kembali, jalan yang mulus di desa, dan rasa aman di hati warganya.

Baca juga: Dua Dekade Damai Aceh dalam Sorotan Film Dokumenter, Ini Jadwal dan Lokasi Pemutaran Film

Menghadirkan para tokoh

Ditanya tentang forum yang akan dihadirinya di Jakarta hari ini dan besok, Prof Humam mengatakan, forum bertajuk “Refleksi Aceh Damai” ini dihelat oleh ERIA School of Government, sebuah lembaga berbasis riset kebijakan yang bermitra dengan berbagai tokoh dan organisasi internasional. 

Para pembicaranya adalah orang-orang yang pernah berada di ruang negosiasi dan lapangan implementasi. 

Antara lain, mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, mantan Menteri Hukum dan HAM Prof. Hamid Awaluddin, Wali Nanggroe Aceh Teungku Malik Mahmud Al Haythar, hingga General Nipat Thonglek dari Thailand dan Dr. Yuhki Tajima dari Georgetown University.

Nama nama lain yang hadir antaranya Dr. Rizal Sukma dari CSIS Jakarta, Him Raksmey  dari Pusat Studi Kamboja, Dr Onanong Thippimol dari Thamasat University,  Thailand,Dadang Trisasongko dari YLBHI,  Wiliam Sahbandar, dan Teuku Kamaruzzaman mewakili BRR, serta Erif Zulkifli dari Majalah Tempo.

Bagi Profesor Humam, acara ini bukan sekadar reuni biasa. Ini adalah momen menengok kembali hampir dua dekade perjalanan Aceh sejak penandatanganan perjanjian Helsinki pada 2005. 

Dalam pandangannya, keberhasilan Aceh menjadi model resolusi konflik bukanlah buah dari satu tangan, melainkan hasil kerja kolektif--pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat sipil, dan dukungan komunitas internasional.

“Perdamaian Aceh adalah hasil kerja kolektif, bukan hanya keberhasilan elite,” ujar Humam menjawab Serambinews.com.

“Dan yang lebih penting, damai itu tidak otomatis. Ia perlu dirawat, dipelihara, dan dibarengi dengan keadilan,” lanjutnya.

Baca juga: Zikir Akbar Akan Warnai Peringatan 20 Tahun Damai Aceh di Aceh Utara

Tiga dimensi besar

Prof Humam Hamid menambahkan, diskusi nanti akan mengupas tiga dimensi besar: dinamika perundingan yang mengakhiri tiga dekade konflik bersenjata, strategi implementasi yang melibatkan berbagai pihak, serta tantangan menjaga stabilitas dalam lanskap politik dan ekonomi yang terus berubah. 

Bagi para peserta dari luar negeri, Aceh menjadi bukti bahwa negosiasi berbasis inklusi, partisipasi luas, dan kesediaan memberi ruang bagi lawan politik, dapat mengakhiri lingkaran kekerasan.

Di tengah dunia yang masih diwarnai perang dan krisis kemanusiaan, kisah Aceh punya daya tarik tersendiri. 

“Ia lahir bukan dari situasi di mana satu pihak kalah total, melainkan dari kesadaran kedua belah pihak bahwa perang tidak lagi memberi masa depan,” ungkap Humam. 

“Helsinki hanyalah awal, ujian sebenarnya ada di tahun-tahun sesudahnya,” lanjutnya. 

Sekilas tentang ERIA dan forum refleksi damai Aceh

ERIA (Economic Research Institute for ASEAN and East Asia) School of Government yang diketuai Professor Nobuhiro Aizawa adalah lembaga NGO Jepang yang fokus pada pengembangan kapasitas pemerintahan dan penelitian kebijakan di kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara. 

ERIA kerap melaksanakan forum pertemuan yang menghadirkan para tokoh, untuk mendorong pertukaran pengetahuan antara praktisi, akademisi, dan pembuat kebijakan lintas negara.

Khusus tentang forum “Refleksi Damai Aceh” ERIA menyusun acara ini bukan hanya untuk mengenang, tetapi juga untuk menginspirasi. 

“Kami ingin pengalaman Aceh menjadi referensi bagi kawasan Asia Tenggara dan dunia,” kata perwakilan ERIA dalam keterangan resmi yang dikirimkan kepada para terundang. 

“Bahwa damai itu mungkin, bahkan setelah trauma panjang.”

Saat para pembicara nanti bergantian mengambil mikrofon, narasi yang muncul mungkin akan berbeda-beda. 

Ada yang bercerita tentang tekanan diplomatik, ada yang mengingat momen-momen emosional di ruang negosiasi, ada pula yang menyoroti kerja teknis membangun rumah dan infrastruktur. 

Namun semua akan bertemu di satu titik. 

Bahwa Aceh telah membuktikan, perdamaian adalah proyek bersama, bukan hadiah dari luar.

Profesor Humam mengatakan, dia akan berdiri dalam forum itu, di antara para diplomat, negosiator, jurnalis, dan akademisi. 

Membawa suara Aceh dari hati, mengingatkan dunia bahwa perdamaian bukanlah akhir dari cerita, melainkan awal dari perjalanan baru yang tak kalah beratnya.(*)

 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved