Rabu, 8 April 2026

Opini

Identitas dan Entitas Jalur Gaza

Secara sangat mengejutkan, pemilu legislatif Palestina tersebut dimenangkan oleh Hamas, dan Fatah kalah. kemenangan di luar rencana ini bukan hanya me

Editor: mufti
IST
Teuku Taufiqulhadi, Ketua DPW NasDem Aceh dan pemerhati masalah Timur Tengah 

Teuku Taufiqulhadi, Penulis adalah Ketua DPW NasDem Aceh dan Pakar Masalah Timur Tengah

SAYA memasuki Jalur Gaza pada musim semi 1996 ditemani oleh seorang sopir merangkap penunjuk jalan warga Yerusalem, Abdul Khalid. Khalid yang banyak kenalan di Jalur Gaza membawa saya keliling ke beberapa tempat di tepi pantai dan memperkenalkan saya kepada Prof Adwan, seorang guru besar yang mengajar Birzet University, Ramalallah, lulusan London School of Economy. Setelah itu, saya diantar ke sebuah restoran sederhana tapi terkenal dengan sis kebabnya yang enak di Beit Lahia.

Sis kebab itu adalah sate di tempat kita tapi dengan potongan-potongan daging yang jauh lebih besar, dan dibakar bersama bawang bombai. Tentu saja semua pelanggan resto sis kebab itu menatap saya dengan rasa tertarik, dan Khalid, yang meminta izin tidak bisa menemani saya pada hari Minggu ini karena akan ke gereja, memperkenalkan bahwa nama saya Taufiq asal Indonesia, dan seorang muslim. Satu per satu mereka menjabat tangan saya sambil berujar: ahlan.

Luasnya hanya seperti tiga luas Pidie Jaya, Jalur Gaza yang berpenduduk 2.020.000 jiwa itu dibagi lima distrik: Gaza Utara, Gaza, Deir el-Balah, Khan Younis dan paling selatan adalah Rafah. Kota terbesar adalah Kota Gaza yang berpenduduk lebih 590.481  jiwa, dan selebihnya adalah kota-kota lebih kecil dengan penduduk di bawah 70.000 jiwa, termasuk Bait Lahia. Tapi yang mengesankan adalah di atas  "jalur" tersebut hampir merata dihuni oleh manusia.

Dengan demikian, dapat dikatakan Jalur Gaza itu sebagai desa kota, karena padatnya penduduk. Sebagai perbandingan, Pidie Jaya yang luasnya 1.074 Km per segi dihuni oleh hanya 145.600 orang.
Dahulu, semasa Kesultanan Usmaniyah, semua wilayah terebut tunduk ke Istanbul, ibu kota Usmaniyah. Kesultanan Usmaniyah yang sangat besar itu, membagi-bagi wilayah ke dalam Vilayet (lebih besar dari provinsi) yang dipimpin oleh seorang vali (wali) dan vilayet di bagi lagi menjadi sanjak atau mutasarifiyah yang dipimpin oleh seorang syarif.

Bedanya mutasrasifiyah dan sanjak adalah mutasarifiyah berada di bawah kontrol vilayet, sanjak adalah wilayah otonom yang tunduk langsung ke Istanbul. Gaza itu menjadi bagian dari Sanjak Yerusalem. Sanjak Yerusalem  terdiri atas Yerusalem itu sendiri, Hebron, Gaza, Jaffa dan Bir as-Sab'a (Barsheeba). Menurut dokumen Palestina (Filastin Risalesi ) 1915, sesuai hasil survei Corps VIII Tentara Usmaniyah, yang disebut Palestina itu adalah gabungan dari Sanjak Yerusalem ditambah Sanjak Akka (Galilee) dan Sanjak Nablus.

Ketika Inggris menaklukkan wilayah yang sesuai hasil dokumen Palestina itu pada tahun 1917, Inggris dan Prancis menyebutnya Palestina. Inggris meminta kepada Liga Bangsa-Bangsa (LBB) untuk memberikan mandat kepadanya untuk menguasai wilayah tersebut dalam rangka, menurut narasi mereka di Eropa, menjamin keamanan bagi para penziarah agama Kristen dari Eropa.

Mandat tersebut kemudian disebut Mandat Liga Bangsa-Bangsa di Palestina atau juga dikenal sebagai Mandat Inggris, yang berlaku sejak 1920, dan berakhir dengan terbentuk negara Israel pada 1948. Maka orang mengatakan, Mandat Inggris ini tidak lebih dari kuda Troya bagi kehadiran Zionis Yahudi di tanah orang Arab.

Di antara Sanjak Yerusalem itu, Gaza yang termasuk unik. Sejak era Firaun 5000 tahun lalu, wilayah sempit itu sudah terkenal dan dinamakan Jalur Gaza (Gaza Strip). Disebut "strip " karena, wilayah tersebut merupakan lintasan utama gerakan militer atau perdagangan dan orang dari Mesir ke Asy-Syam (Suriah Raya). Maka sejak dahulu, penduduk Jalur Gaza sudah sangat kosmopolit, dan lincah.

Berbeda dengan penduduk Yerusalem -- yang menurut para sosiolog Arab -- bersifat pemurung, maka penduduk Gaza bersifat periang. Karena sering disinggahi, jalur sempit ini berubah menjadi tempat penyedia hasil pertanian penting seperti stroberi, sitrus, kurma, zaitun, berbagai jenis bunga dan sayur-sayuran.

Tetapi lambat-laun, bersamaan dengan padatnya penduduk dan polusi udara, produk hasil pertanian menjadi berkurang, dan masyarakatnya beralih lebih menekuni industri seperti tekstil, plastik, furnitur, copperware, keramik, karpet dll. Orang Gaza sebagaimana orang Palestina lainnya, juga pewaris hebat produk tembikar dan barang pecah belah lainnya dari moyang mereka.

Maka terakhir, jadilah Jalur Gaza sebagai wilayah pengekspor tembikar, karpet, ditambah ikan. Kebanyakan hasil produksi Gaza diekspor ke Eropa. Tetapi ketika larangan keluar masuk orang dan barang oleh Israel terhadap penduduk Gaza menyusul penarikan tentara Israel Gaza pada 2005, kehidupan penduduk Gaza memburuk. Nyaris semua mereka menjadi miskin.

Konflik internal

Pada tahun 2004, rakyat Palestina bersedih menyusul meninggalnya pemimpin legendaris mereka Yasser Arafat. Yasser Arafat meninggal dunia di Rumah Sakit Militer Percy, dekat Paris. Arafat meninggal saat berusia 75 pada 11 November 2004, setelah mengeluh sakit perut di kantor pusatnya di Kota Ramallah, Tepi Barat.

Menyusul kematian Arafat, pada 25 Januari 2006, Mahmoud Abbas, Presiden pemerintahan Palestina pengganti Arafat, memutuskan menyelenggarakan pemilu legislatif, yang diikuti antara lain oleh partai Yasser Arafat Fatah dan Hamas, yang berideologi Ikhwanul Muslimin. Fatah, yang moderat didukung oleh negara-negara Barat.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved