Breaking News
Rabu, 8 April 2026

Opini

UINAR Menanti Rektor Profetik

UNIVERSITAS Islam Negeri Ar-Raniry (UINAR) dalam waktu dekat akan kembali kembali akan memiliki rektor yang baru untuk masa jabatan 2026-2030.

Editor: mufti
IST
Prof Dr Lukman Hakim A Wahab MAg, Dosen Teologi Islam Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh 

Prof Dr Lukman Hakim A Wahab MAg, Dosen Teologi Islam Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh

UNIVERSITAS Islam Negeri Ar-Raniry (UINAR) dalam waktu dekat akan kembali kembali akan memiliki rektor yang baru untuk masa jabatan 2026-2030. Sebagaimana pemberitaan Serambi Indonesia tanggal 4 April 2026 bahwa sampai waktu penjaringan calon ditutup ada empat akademisi terbaik dengan jabatan profesor yang telah mendaftarkan diri untuk berkontestasi menjadi rektor UINAR. Keempat bakal calon yang telah mendaftar tersebut adalah Prof. H. Muhammad Siddiq Armia, M.H., Ph.D,  Prof. Dr. Saifullah Idris, M. Ag, Prof. Dr. Inayatillah, M.Ag dan Prof. Dr. Mujiburrahman, M.Ag.Tahapan pendaftaran calon ini berjalan dalam suasana kekeluargaan dan komunikasi yang cair dan tidak ada indikasi disharmoni apapun. Kondisi ini tentunya sebuah pertanda baik bahwa kondisi ukhuwah di UINAR sudah sangat kokoh dan padu. Kita berharap proses selanjutnya juga akan berjalan lancar ke tahapan verifikasi berkas, penetapan bakal calon, penilaian kualitatif dari senat universitas hingga penyerahan berkas ke Menteri Agama RI nantinya. Proses selanjutnya akan berlangsung di Kementerian Agama hingga terpilih salah satu yang terbaik untuk menjabat sebagai rektor UINAR untuk lima tahun ke depan.
Hak mencalonkan diri untuk menjadi rektor tentunya merupakan hak konstitusional yang perlu dihormati.

Segenap civitas akademika UINAR pastinya berharap agar terpilih sosok rektor terbaik yang akan membawa Universitas Islam ternama di Aceh ini ke arah kemajuan yang lebih baik. Sebagai perguruan tinggi yang mengidentifikasi diri sebagai lembaga pendidikan yang berbasis pada pengembangan nilai-nilai keislaman pastinya kita berharap akan terpilih rektor profetik. Sosok rektor yang dipandang mampu membawa UINAR menuju kesuksesan dunia dan akhirat.

Karakteristik rektor profetik

Dalam diskursus kepemimpinan Islam dikenal istilah pemimpin profetik. Sebuah Istilah yang mereferensikan gaya kepemimpinan yang berbasiskan nilai-nilai kenabian (nubuwwah) dalam menahkodai sebuah organisasi dan masyarakat. Berpijak pada istilah leadership Islam inilah, maka dalam konteks universitas Islam dapat disebut rektor profetik.

Rektor Profetik ini tentunya rektor idaman segenap civitas akademika sebagaimana kita menginginkan kepemimpinan ala Rasulullah menjelma kembali dalam masyarakat kita di zaman modern ini. Memang terkesan bagaikan sebuah utopia, menginginkan kepemimpinan ala rasulullah sepenuhnya wujud di zaman sekarang. Namun sebagai pemimpin yang akan memimpin lembaga pendidikan Islam tentunya diharapkan kesadaran profetik. Sebuah kesadaran meneladani Rasulullah dalam setiap sendi kepemimpinannya.

Setidaknya ada beberapa karakter yang melekat dalam paradigma rektor profetik: Pertama Transendensi. Karakter transendensi merupakan basis teologis bahwa kepemimpinan itu adalah amanah yang perlu dipertanggungjawabkan. Sebuah kesadaran yang menukik pada kesadaran ketuhanan bahwa kepemimpinan itu mewakili pesan langit untuk membawa umat menuju kesalehan dan kesuksesan dunia akhirat.

Dalam konteks transendensi ini seorang rektor tentunya tidak hanya memimpin Lembaga untuk pengakuan-pengakuan imanen (duniawi), tetapi juga diharapkan mampu membawa kepada pencapaian spiritualitas yang kokoh. Karena masa depan yang sebenarnya adalah kesiapan bekal untuk masuk dalam alam transendensi eskatologis.

Karakter yang kedua adalah keteladanan. Rektor profetik itu harus menjadi teladan dalam segenap sikap dan perilakunya. Allah telah menghiasi keteladanan Rasulullah dalam empat sifat yang sangat padu yaitu; Siddiq yang mempresentasikan kejujuran integritas dalam bertutur dan perbuatan; Amanah yang mempresentasikan kepercayaan dan tanggung jawab; Tabligh yang mempresentasikan kemampuan komunikatif dan transparan; Fathanah yang mempresentasi kecerdasan intelektual dan emosional dalam pengambilan keputusan strategis. Dengan demikian rektor yang profetik adalah yang selalu dilingkupi kesadaran membekali diri dengan keteladan Rasulullah.

Karakter yang ketiga adalah humanis. Memandang manusia atas nilai dasar kemanusiaan dan selalu berupaya meningkatkan harkat dan martabat manusia secara proporsional. Karakter humanis ini adalah tentang kepekaan sosial melihat kondisi masyarakat yang berada di bawah kepemimpinannya agar tetap mendapatkan pengakuan dan perlakuan layak.

Kelanjutan dari karakter humanis ini adalah selalu bersikap adil, melihat komunitas yang dipimpinnya sebagai manusia seutuhnya tanpa dibayang-bayangi oleh kepentingan kelompok dan golongan tertentu. Ketika Allah amanatkan menjadi rektor harus menjadi pemimpin bagi semua civitas akademika UINAR secara keseluruhan. Bukan hanya rektor para pendukung, simpatisan dan timsesnya. Jika kemudian ada dari pendukung calon terpilih nantinya mendapatkan jabatan tentunya semata-mata karena keilmuan dan keahlian yang dimilikinya bukan sebagai “balas jasa”.

Pernah satu ketika Rasulullah membuat satu kebijakan pasca Perang Hunain, beliau tidak memberikan rampasan perang (ghanimah) kepada kaum Anshar yang merupakan loyalis setia. Rasulullah justru membagikan kepada kepada kaum mualaf Quraisy  untuk melunakkan hati mereka agar tetap dalam keimanan barunya.

Keputusan Rasulullah memang sempat menimbulkan rasa tidak puas di kalangan Anshar karena merasa lebih berhak. Kemudian Rasulullah mengumpulkan kaum Anshar dan bersabda ”harta dunia hanya titipan, sedangkan Rasulullah adalah yang utama. Kalian memilih mana pulang membawa harta benda atau pulang membawa Rasulullah”. Semua kaum Anshar pun menangis dalam keridhaan dan kesetiaan. Dalam konteks ini, rektor profetik nantinya tentu akan membuat keputusan strategis dan apapun yang terjadi pendukung harus selalu setia dan ridha sebagai cerminan loyalis sejati.

Menuju universitas gemilang

Subhanallah melirik dinamika capaian UINAR saat ini memang cukup membanggakan. Berbagai capaian positif terus menghiasi pemberitaan media dari waktu ke waktu. UINAR tercatat sebagai universitas Islam berpredikat unggul, menempati beberapa peringkat lima besar nasional dalam beberapa versi lembaga riset. Berita terbaru UINAR berhasil menempati peringkat 14 dunia pada pemeringkatan Scimago Institutions Rankings 2026 untuk kategori penguatan riset berbasis keagamaan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved