Jurnalisme Warga
Berbukalah dengan si Manis, tapi Sesuai Anjuran Ahli Gizi
Reportase ini saya tulis pada sore hari menjelang berbuka puasa ketika sedang menempuh perjalanan dari Lhokseumawe ke Banda Aceh.
SRI MULYATI MUKHTAR, S.K.M., M.K.M., Promotor Kesehatan Masyarakat pada Instalasi Gizi RSU Cut Meutia, Aceh Utara, melaporkan dari Gampong Lam Blang Manyang, Darul Imarah, Aceh Besar
Reportase ini saya tulis pada sore hari menjelang berbuka puasa ketika sedang menempuh perjalanan dari Lhokseumawe ke Banda Aceh. Di akhir pekan sambil melepas lelah dari rutinitas kantor, saya coba merefleksikan pengamatan saya dalam perjalanan ini. Besar harapan tulisan ini menjadi cerita yang nyaman dibaca sehingga mampu membuka wawasan agar dapat menjadi konsumen yang bijak dalam memilih makanan sehat, utamanya takjil di bulan Ramadhan.
Seperti bulan puasa di tahun-tahun sebelumnya, pada sore hari para penjual takjil tampak berjejer di jalan-jalan utama mulai dari Kota Lhokseumawe sampai ke kota yang saya tuju untuk berhenti berbuka puasa. Terlihat aneka takjil yang dijajakan para penjual. Namun, yang sangat miris terlihat adalah ternyata takjil kita sudah terkontaminasi dengan berbagai makanan asing dari luar dan aneka produk jajanan kemasan yang juga masih berbahasa asing.
Tak ayal lagi ingatan saya kembali ke masa lalu di desa-desa kita, khususnya di Aceh, di mana saat itu takjil masih bersahaja dengan menu lokal yang sederhana tetap menggugah selera. Dahulu ada bubur kanji yang dimasak bersama di meunasah d menggunakan rempah alami khas dari negeri sendiri, tidak mengenal rempah-rempah kemasan kala itu.
Ada juga takjil yang diperjualbelikan hasil olahan rumahan semisal timphan, boh rom-rom (klepon), bakwan, pisang goreng, kue lapis, bingkang, putroe manoe, rujak manis, air timun, air kelapa muda alami, dan berbagai ragam makanan lainnya. Ditambah lagi makanan dan minuman saat itu masih memakai pewarna makanan alami semisal untuk hijau memakai daun pandan, untuk kuning memakai kunyit dan lainnya.
Kini ternyata kita mulai kehilangan takjil dan menu tradisional yang kaya rempah dan kebaikan alam. Kemajuan teknologi dengan informasi yang berseliweran di media sosial dari sumber yang kurang akurat membuat ibu-ibu kebingungan menyediakan takjil sehat untuk keluarganya akibat maraknya promosi ‘mamagram’ yang endorser untuk cenderung terkesan mencari uang semata.
Umumnya ibu-ibu muda berusaha meniru makanan yang ditawarkan di media sosial, kini muncullah berbagai ‘judul’ makanan seperti tuna kimbab, chicken terriyaki, chicken katsu, grilled salmon, sapo tofu, beef bulgogi, crispy chicken strips, dan berbagai jenis olahan lainnya dengan pemakaian aneka saus dan rempah-rempah kemasan.
Mereka mungkin lupa bahwa kita punya rempah alami berlimpah sampai-sampai bangsa penjajah dari Eropa datang ke negeri ini karena ingin memilikinya. Saya menarik napas dalam-dalam untuk kondisi ibu-ibu hari ini dengan terus memberikan edukasi di setiap kesempatan yang ada.
Mirisnya lagi bila melihat kawula muda saat ini, mereka juga merasa ingin keluar dari takjil lokal yang dirasanya sudah ketinggalan zaman. Mereka cenderung memilih takjil sendiri yang justru hanya kaya energi saja, tapi minim zat-zat gizi lainnya, semisal kue-kue yang berisi aneka toping seperti cokelat, susu, karamel, dan keju yang berlimpah. Sebut saja yang lainnya Thai Tea Dumpling, aneka boba, jelly milk shake, Korean garlic bread, cromboloni, dan lain-lain.
Jenis takjil yang digandrungi tersebut disajikan tidak hanya lezat, tetapi juga memiliki tampilan unik, serta cita rasa yang menggoda. Tanpa disadari ada bahaya yang mengintai di balik kandungan pemanis yang berlebihan.
Berbuka dengan yang manis
Awam pun paham betul bahwa anjuran berbuka puasa dengan yang manis memang diperlukan untuk menaikkan kembali kadar glukosa dalam darah yang menurun setelah berpuasa, sehingga sering kita dengar seruan berbukalah dengan si manis.
Idealnya, saat berbuka janganlah menjadi ajang balas dendam, dianjurkan segeralah menghidrasikan tubuh dengan minum air putih. Selanjutnya, sesuai dengan sunah Rasulullah saw makanlah satu atau tiga butir kurma untuk meningkatkan kadar gula tubuh.
Kurma adalah buah yang sangat identik dengan bulan Ramadhan dan kaya akan nutrisi. Kurma merupakan buah tinggi kalori, karbohidrat, protein, serat, vitamin C, vitamin D, vitamin B6, vitamin B12, serta mineral seperti zat besi, natrium, kalium, magnesium, dan kalsium.
Bila ditinjau dari ilmu gizi dan biokimia kurma berisi karbohidrat (glukosa 19,5 persen dan fruktosa 23 % ). Fruktose dan glukosa gula monosakarida mudah masuk dalam saluran darah, dan cepat menyebar ke seluruh jaringan tubuh, karena itu rasa kelelahan kehabisan kalori dapat diatasi dengan memakan kurna di awal berbuka. Betapa bijaksananya Rasulullah dalam menyampaikan pesan untuk kemaslahatan umatnya, sehingga kurma direkomendasikan menjadi menu takjil berbuka puasa yang bergizi dan sehat.
Jurnalisme Warga
Penulis JW
Berbukalah dengan si Manis tapi Sesuai Anjuran Ahl
Sri Mulyati Mukhtar SKM MKM
| Memetik Hikmah dari Peluncuran Buku MemoryGraph |
|
|---|
| Kenduri di Makam Putroe Sani, Dari Kejayaan Sultan Iskandar Muda ke Sunyi Makam Permaisuri |
|
|---|
| Mengoptimalkan Potensi Gedung Karantina Haji Pulau Rubiah |
|
|---|
| ‘Cecah Reraya’, Makanan Khas Lebaran di Gayo Berbahan Kulit Kayu |
|
|---|
| Menikmati Perjalanan Tol Sibanceh Saat Idulfitri |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/SRI-MULYATI-MUKHTAR-2025.jpg)