Berita Banda Aceh
Kinerja Perbankan di Aceh Positif, Total Aset Rp 62,23 Triliun
Hal ini menunjukkan semakin kuatnya kepercayaan masyarakat terhadap sistem keuangan syariah serta peran perbankan dalam mendukung
Ringkasan Berita:
- Daddi Peryoga, mengatakan, kinerja industri jasa keuangan di provinsi ini menunjukkan perkembangan yang positif dalam lima tahun terakhir
- Hal ini menunjukkan semakin kuatnya kepercayaan masyarakat terhadap sistem keuangan syariah serta peran perbankan dalam mendukung perekonomian daerah
- Aset Bank Perekonomian Rakyat Syariah (BPRS) di wilayah Aceh pada Januari 2026 mencapai Rp 917 Miliar, menurun sebesar 2,18 persen (yoy)
“Ini mencerminkan bahwa seluruh dana masyarakat Aceh yang sudah dihimpun perbankan telah tersalurkan seluruhnya.” DADDI PERYOGA, Kepala OJK Provinsi Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Aceh, Daddi Peryoga, mengatakan, kinerja industri jasa keuangan di provinsi ini menunjukkan perkembangan yang positif dalam lima tahun terakhir. Hal ini menunjukkan semakin kuatnya kepercayaan masyarakat terhadap sistem keuangan syariah serta peran perbankan dalam mendukung perekonomian daerah.
“Kinerja perbankan syariah di Aceh terus menunjukkan tren yang positif. Bank Umum Syariah maupun BPRS mencatatkan pertumbuhan, baik dari sisi penghimpunan dana masyarakat maupun penyaluran pembiayaan kepada sektor produktif,” kata Daddi dalam keterangannya, Selasa (17/3/2026).
Kepala OJK Aceh itu menyampaikan, perkembangan positif kinerja perbankan tersebut turut menumbuhkan optimisme terhadap proses pemulihan dan perbaikan kondisi perekonomian Aceh, khususnya pasca terjadinya bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah di Aceh pada akhir tahun 2025 lalu.
Dikatakan, perkembangan kinerja sektor perbankan yang tetap terjaga dengan baik di tengah berbagai tantangan, menjadi indikator bahwa aktivitas ekonomi masyarakat secara bertahap terus bergerak. “Hal ini tentu menumbuhkan optimisme terhadap percepatan pemulihan ekonomi Aceh pascabencana hidrometeorologi yang terjadi pada akhir tahun 2025,” tambah Daddi.
Disebutkan, dalam lima tahun terakhir, sampai dengan posisi 31 Januari 2026, total aset perbankan tercatat meningkat 19,15 persen menjadi Rp 62,23 triliun di wilayah Aceh, sementara dana pihak ketiga (DPK) meningkat 13,35 persen menjadi Rp 44,57 triliun, dan pembiayaan meningkat 52,15 persen menjadi Rp 47,41 triliun.
Rasio Non-Performing Financing (NPF) masih terjaga di bawah 5 persen dengan rasio Finance To Deposit Ratio (FDR) yang telah mencapai 106,38 persen pada Januari 2026. “Ini mencerminkan bahwa seluruh dana masyarakat Aceh yang sudah dihimpun perbankan telah tersalurkan seluruhnya,” jelas Daddi.
Per Januari 2026, pembiayaan berdasarkan Lokasi Bank (Rp 47,41 triliun) masih lebih rendah dibandingkan pembiayaan berdasarkan Lokasi Proyek (Rp 53,94 triliun). Rasio FDR yang sudah maksimal dan nominal pembiayaan yang disalurkan lebih tinggi dari DPK menunjukkan bahwa kebutuhan pembiayaan di Aceh masih lebih besar dibandingkan dengan dana yang dihimpun di daerah. Kondisi ini menegaskan perlunya peningkatan arus investasi guna memperkuat ketersediaan sumber pendanaan di Aceh.
Sejalan dengan itu, perlu adanya dukungan perbaikan ekosistem investasi di Provinsi Aceh untuk menarik minat investor, sementara lembaga jasa keuangan perlu menghadirkan produk dan skema pembiayaan yang lebih inovatif dan adaptif agar mampu mengakomodasi kebutuhan pembiayaan masyarakat dan pelaku usaha secara lebih luas.(rn)
Aset BPRS Turun 2,18 Persen
DI sisi lain, tambah Kepala OJK Aceh Daddi Peryoga, aset Bank Perekonomian Rakyat Syariah (BPRS) di wilayah Aceh pada Januari 2026 mencapai Rp 917 Miliar, menurun sebesar 2,18 persen (yoy). Dana Pihak Ketiga (DPK) pada Januari 2026 mencapai Rp 565 Miliar, turun sebesar 3,09 persen (yoy). Sementara Pembiayaan pada Januari 2026 turun sebesar 3,06 persen (yoy) menjadi Rp 696 Miliar.
Terjadi penurunan risiko kredit, tercermin dari penurunan rasio Non Performing Financing (NPF) dari 13,87 persen pada Desember 2025 menjadi 13,64 persen pada Januari 2026.
Sementara Kinerja Perusahaan Pembiayaan Syariah pada Desember 2025, mengalami peningkatan dibandingkan pada Desember 2024. Penyaluran pembiayaan oleh perusahaan pembiayaan syariah pada Desember 2025 tercatat sebesar Rp5,67 Triliun meningkat dibandingkan Desember 2024 sebesar Rp5,05 Triliun. Rasio Non Performing Financing (NPF) tetap di angka 1,40 persen pada Desember 2025.
Selanjutnya, transaksi pasar modal pada Desember 2025 mencatatkan perkembangan jumlah SID total sebesar 224.722 (tumbuh sebesar 51,96 persen yoy), SID saham sejumlah 88.152 (tumbuh sebesar 35,60 persen yoy) dengan jumlah transaksi saham sebesar Rp 2.142 Miliar (tumbuh sebesar 159,01 persen yoy).
Di sisi lain, sejak 1 Januari hingga 28 Februari 2026, OJK Aceh telah menerima 66 pengaduan konsumen yang disampaikan secara walk-in (langsung ke kantor) dan 102 pengaduan berdasarkan domisili Aceh melalui Aplikasi Portal Pengaduan Konsumen (APPK). “Selanjutnya, pada periode yang sama permintaan OJK Checking (SLIK) yang dilayani secara online sebanyak 1.650 permintaan dan secara walk-in sebanyak 668 permintaan,” pungkasnya.(rn)
| Mualem Sambut Positif Usulan Mendagri Dana Otsus Kembali Jadi 2 Persen |
|
|---|
| Tito Usul Dana Otsus Kembali Jadi 2 Persen |
|
|---|
| Sekda Aceh Minta Kabupaten Aktifkan Posko Siaga Darurat 24 jam |
|
|---|
| USK Perkuat Ekosistem Akademik, Dari Mikrobiologi hingga Geometri, Lima Profesor Baru Dikukuhkan |
|
|---|
| Banda Aceh Siapkan Arah Pembangunan 2027, Fokus Peningkatan SDM dan Lingkungan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Daddi-Peryoga-saat-menjelaskan-kebijakan-relaksasi-kredit-terhadap-korban-bencana.jpg)