Rabu, 20 Mei 2026

Berita Bisnis

Gawat! Dolar Amerika Sentuh Rp17.713, Publik Teringat Krisis Moneter 1998

Nilai tukar rupiah kembali melemah hingga menyentuh Rp17.713 per dolar AS pada Selasa (19/5/2026), memunculkan ingatan krisis moneter 1998.

Tayang:
Editor: Saifullah
Chat GPT
PELEMAHAN RUPIAH - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika kembali melemah membuat masyarakat teringat masa-masa krisis moneter pada tahun 1998 silam. 
Ringkasan Berita:
  • Nilai tukar rupiah kembali melemah hingga menyentuh Rp17.713 per dolar AS pada Selasa (19/5/2026), memunculkan ingatan krisis moneter 1998.
  • Ekonom menilai kondisi saat ini berbeda, karena pelemahan dipicu faktor eksternal.
  • Meski peluang penguatan drastis seperti era BJ Habibie kecil, para ekonom menegaskan fundamental ekonomi Indonesia kini lebih kokoh, sehingga masyarakat diminta tidak panik berlebihan.

 

Nilai tukar rupiah kembali melemah hingga menyentuh Rp17.713 per dolar AS pada Selasa (19/5/2026), memunculkan ingatan krisis moneter 1998.

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Pada Selasa (19/5/2026) sore, kurs tercatat menyentuh level Rp17.713 per dolar AS.

Pelemahan ini memunculkan kekhawatiran publik karena mengingatkan pada krisis moneter 1998.

Kala itu, rupiah sempat jatuh hingga Rp17.000 per dolar AS, sebelum akhirnya berhasil dipulihkan oleh Presiden BJ Habibie.

Menurut para ekonom, kondisi saat ini berbeda dengan krisis 1998. 

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede menilai, pelemahan rupiah lebih banyak dipicu faktor eksternal.

Seperti ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah dan naiknya harga minyak dunia.

Baca juga: Rupiah Melemah, Haruskah Tabungan Dipindah ke Dollar AS atau Emas?

Sementara itu, Ekonom Paramadina, Wijayanto Samirin menekankan, bahwa persoalan domestik justru lebih dominan.

Yakni lemahnya fundamental ekonomi, fiskal, dan neraca pembayaran, serta belum adanya kebijakan pemerintah yang dianggap kredibel.

Ia bahkan memperkirakan angka Rp17.000–Rp18.000 per dolar, bisa menjadi baseline baru bagi rupiah.

Meski publik berharap keajaiban seperti era Habibie dapat terulang, para ekonom menilai hal itu sulit terjadi. 

Pada 1998, pelemahan rupiah lebih disebabkan faktor psikologis berupa kepanikan massal.

Begitu stabilitas politik kembali, rupiah langsung menguat ke level fundamentalnya.

Sebaliknya, pelemahan saat ini bersumber dari masalah struktural jangka panjang sehingga pemulihan tidak bisa dilakukan secara instan.

Baca juga: VIDEO - Rupiah Tembus Rp17.600 di Tengah Perang Timur Tengah, Pengamat Soroti Internal Pemerintah

Habibie kala itu berhasil mengembalikan kepercayaan pasar dengan tiga langkah besar yakni:

  • Restrukturisasi perbankan dan menjadikan Bank Indonesia independen.
  • Agresif menarik investor asing.
  • Memperkuat kredibilitas sistem keuangan.

Strategi tersebut membuat rupiah bangkit dari Rp17.000 ke Rp6.500 per dolar AS dalam 17 bulan.

Sekaligus mengangkat pertumbuhan ekonomi dari minus 13,33 persen pada 1998 menjadi positif 0,79 persen di 1999.

Kini, meski peluang penguatan drastis seperti masa lalu kecil, Josua Pardede mengingatkan masyarakat agar tidak panik. 

Fundamental ekonomi Indonesia dinilai lebih kokoh dibanding era krisis, dengan cadangan devisa mencapai 146,2 miliar dolar AS per April 2026, dan utang luar negeri yang masih terkendali.

Ia menyarankan pelaku usaha menggunakan instrumen lindung nilai (hedging) untuk meminimalisir risiko kurs.

Sementara masyarakat yang tidak berhubungan langsung dengan valuta asing, diminta tidak perlu cemas berlebihan.

Dengan kondisi ini, pelemahan rupiah memang menjadi tantangan besar, namun berbeda dengan krisis 1998. 

Pemulihan membutuhkan waktu dan kebijakan yang tepat, bukan sekadar menunggu hilangnya kepanikan pasar.(*)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved