Jumat, 22 Mei 2026

Berita Banda Aceh

Harga Material Bangunan Melonjak

“Jika kondisi ini terus berlangsung tanpa perhatian serius, kami khawatir banyak developer di Aceh ambruk.” ZULKIFLI HM JUNED, Ketua DPD REI Aceh

Tayang:
Editor: mufti
Serambi Indonesia
ILUSTRASI Harga Material Bangunan Melonjak --- Besi yang ada di salah satu toko bangunan 
Ringkasan Berita:
  • Naiknya harga material bangunan secara terus menerus yang terjadi dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, mulai mengancam keberlangsungan usaha developer perumahan di Aceh
  • Kenaikan harga semen, besi, baja ringan, pasir hingga bahan pendukung lainnya dinilai semakin menekan biaya pembangunan rumah, khususnya rumah subsidi
  • Sementara distribusi material dari Medan, Sumatera Utara, juga terganggu akibat persoalan transportasi dan belum rampungnya jembatan di Kutablang, Bireuen

“Jika kondisi ini terus berlangsung tanpa perhatian serius, kami khawatir banyak developer di Aceh ambruk.” ZULKIFLI HM JUNED, Ketua DPD REI Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Kenaikan harga material bangunan secara terus menerus yang terjadi dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, mulai mengancam keberlangsungan usaha developer perumahan di Aceh. 

Kondisi tersebut membuat Real Estat Indonesia (REI) Aceh khawatir terhadap kondisi para developer perumahan di Aceh. Kenaikan harga semen, besi, baja ringan, pasir hingga bahan pendukung lainnya dinilai semakin menekan biaya pembangunan rumah, khususnya rumah subsidi.

Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) REI Aceh, Zulkifli HM Juned, menyebut, lonjakan harga material yang terjadi secara bertahap dan terus-menerus membuat banyak pengembang kesulitan menjaga stabilitas usaha. 

“Sekarang batu bata di Banda Aceh sudah sekitar Rp 900 per buah, bahkan di kabupaten bisa mencapai Rp 1.200. Padahal sebelumnya hanya Rp 500 sampai Rp 700 per butir,” kata Zulkifli, kepada Serambi, Rabu (20/5/2026).

Ia menilai, kondisi tersebut berpotensi membuat sejumlah developer mengalami penurunan kemampuan pembangunan, bahkan terancam berhenti beroperasi apabila tidak ada solusi konkret dari pemerintah. 

Pasalnya, para pengembang saat ini juga harus menghadapi tingginya biaya konstruksi, kenaikan ongkos distribusi, serta melemahnya daya beli masyarakat. “Kenaikan harga material rata-rata sudah mencapai 30-40 persen. Bahkan untuk beberapa material malah sudah ada 70 persen naiknya,” ujarnya.

Lebih lanjut, Zulkifli mengungkap, selain mahal, material bangunan di Aceh saat ini juga tergolong langka lantaran tingginya kebutuhan pembangunan secara bersamaan dengan proyek pemerintah, seperti pembangunan huntap-huntara, Gedung KDMP, Sekolah Rakyat, hingga Dapur MBG.

Sementara distribusi material dari Medan, Sumatera Utara, juga terganggu akibat persoalan transportasi dan belum rampungnya jembatan di Kutablang, Bireuen. Kondisi tersebut diperparah antrean panjang BBM di SPBU yang dinilai ikut menghambat distribusi barang.

“Material yang didatangkan dari Medan sangat tergantung transportasi. Sekarang pengiriman terkendala, ditambah antrean BBM di mana-mana dan kemacetan di Kutablang sampai berjam-jam,” ujarnya.

Untuk itu, ia meminta pemerintah melakukan intervensi serius, terutama terhadap penjualan semen yang kini kerap melebihi harga eceran tertinggi (HET). Menurutnya, jika kondisi ini terus dibiarkan, banyak developer berpotensi mengalami kesulitan keuangan hingga terlilit hutang perbankan. “Kami berharap ada perhatian pemerintah agar pengusaha tidak ambruk dan tidak terjebak kredit macet,” ujarnya.

Zulkifli juga berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah strategis, seperti menjaga stabilitas harga material bangunan, memberikan kemudahan bagi pengembang, hingga melakukan evaluasi terhadap batas harga rumah subsidi agar sektor perumahan tetap bertahan.

Menurutnya, banyak developer yang telah menyepakati harga jual rumah dengan konsumen sejak awal pembangunan, sementara harga material terus melonjak di tengah proses pengerjaan. 

“Jika kondisi ini terus berlangsung tanpa perhatian serius, kami khawatir banyak developer di Aceh bisa ambruk dan pembangunan perumahan masyarakat ikut terdampak,” tegasnya.(ra)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved