Citizen Reporter
Sikap Cerdas Indonesia Bangun Hotel di Pusat Peradaban Islam
Di tengah hiruk pikuk politik global dan dinamika ekonomi yang tidak menentu, Indonesia baru saja menorehkan tinta emas
Indonesia tak mau hanya menjadi penonton, tetapi juga menjadi salah satu negara pertama yang mengambil peluang emas ini. Kemenangan Danantara dalam proses tender yang kompetitif, mengalahkan lebih dari 90 peserta lainnya, membuktikan bahwa proposal Indonesia dinilai paling matang dan menjanjikan oleh otoritas Saudi.
Kedua, kecerdasan ekonomi dan investasi. Investasi ini dirancang sebagai proyek lintas generasi. Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir, menegaskan bahwa pengembangan kawasan ini tidak hanya fokus pada hotel, tetapi juga membangun ekosistem layanan jemaah terintegrasi, mencakup ritel, logistik, dan fasilitas komersial lainnya. Valuasi investasi yang beredar mencapai angka fantastis, dengan Bloomberg melaporkan tawaran Danantara sekitar USD 1 miliar atau lebih dari Rp16 triliun untuk paket lahan utama.
Investasi ini juga dirancang dengan prinsip kehati-hatian (prudent). Danantara menggandeng mitra lokal, Al Khomasiah Real Estate Development, yang memiliki pengalaman dan pemahaman mendalam tentang regulasi serta praktik pengembangan
properti di Makkah Almukarramah. Ini memastikan bahwa setiap langkah sesuai dengan ‘masterplan’ Kota Makkah dan kerangka kerja RCMC. Bahkan, Danantara telah menjalin kemitraan strategis dengan Public Investment Fund (PIF) Arab Saudi melalui Rua Al Madinah Holding untuk memastikan keberlanjutan dan integrasi layanan jemaah dalam ekosistem yang lebih luas.
Ketiga, kecerdasan pelayanan umat. Inilah dimensi yang paling fundamental. Di balik angka-angka miliaran rupiah dan hektare lahan, yang paling utama adalah nasib lebih dari 200.000 jemaah haji dan lebih dari 2 juta jemaah umrah Indonesia setiap tahunnya.
Selama puluhan tahun, jemaah Indonesia sering kali harus rela berdesakan di akomodasi yang jauh dari Masjidil Haram dengan harga sewa yang terus melambung.
Kini, dengan kepemilikan aset ini, Indonesia tidak lagi menjadi “penumpang” di negeri orang, tetapi menjadi “tuan rumah” bagi jemaahnya sendiri.
Proyek Kompleks Haji atau Hajj Complex ini menjanjikan akomodasi yang layak, terjangkau, dan dekat dengan tempat suci. Jemaah tidak perlu lagi menghabiskan energi untuk transportasi bolak-balik yang melelahkan. Mereka bisa lebih fokus beribadah. Inilah bentuk hadiah terbesar dari negara kepada umat beragama, sebuah perwujudan nyata dari visi Asta Cita yang ingin menghadirkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat, termasuk dalam urusan ibadah.
Menatap masa depan
Tentu, perjalanan masih panjang. Rencana pembangunan 13 tower dan pusat perbelanjaan di lahan 5 hektare yang berjarak 2,5 kilometer dari Masjidil Haram masih dalam tahap kajian. Proses lelang untuk lahan 32 hektare di zona 600 meter juga masih berlangsung dan membutuhkan doa serta dukungan dari seluruh rakyat Indonesia.
Namun, fondasinya telah diletakkan dengan kokoh.
Langkah Danantara ini adalah bukti nyata bahwa Indonesia mampu bermain di level tertinggi investasi global sambil tetap berpijak pada kepentingan nasional yang paling fundamental, yaitu kemaslahatan umat. Ini adalah investasi yang tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga memberikan keuntungan spiritual dan sosial yang tak ternilai.
Selamat kepada Danantara, jajaran pemerintah, dan semua pihak yang terlibat. Sikap cerdas ini layak diapresiasi dan didukung penuh, karena kelak, anak cucu kita akan menikmati hasilnya: menunaikan panggilan Ilahi dari “rumah” yang dibangun oleh bangsanya sendiri, seperti halnya selama ini jemaah asal Aceh menikmai hasil kompensasi dari Baitul Asyi di tanah suci yang dirintis Habib Bugak dkk berabad silam.
Citizen Reporter
Penulis Citizen Reporter
Penulis CR
Prof Dr Apridar SE MSi
Prof Apridar
Sikap Cerdas Indonesia Bangun Hotel di Pusat Perad
Serambi Indonesia
Serambinews.com
Serambinews
| Saat Massa Menuntut Keadilan, Saiful Mencari Rezeki di Tengah Kericuhan |
|
|---|
| Di Bawah Langit Sanliurfa: Ketika Api Menjadi Dingin dan Iman Menjadi Nyata |
|
|---|
| Aceh Darussalam Aman: Dompet Hilang, Dikembalikan Utuh |
|
|---|
| Akademisi UIN Ar-Raniry Soroti Pentingnya Etika dan Kompetensi dalam Komunikasi Islam |
|
|---|
| Dari Sopir Truk Menjadi Pengusaha: Raja Khatami Berbagi Waktu untuk Bisnis Sambil Kuliah di UNIKI |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/APRIDAR-MEKKAH-MADINAH.jpg)