Rabu, 20 Mei 2026

Citizen Reporter

Phuket Destinasi Wisata yang Memanjakan Lidah dan Mata

Pengalaman ini menjadi pelajaran penting bagi siapa pun yang ingin memasuki wilayah Thailand, khususnya Phuket..

Tayang:
Editor: Subur Dani
Dok SERAMBINEWS.COM/HO
Muhammad Furqan, S.Sos., M.I.Kom, Mahasiswa Doktoral Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (DPIPS) Universitas Syiah Kuala Banda Aceh / Peserta Program NICE (National dan International Conference And Education), yang diselenggarakan oleh Prince Songkla University, Thailand). 

Oleh: Muhammad Furqan, S.Sos., M.I.Kom, Mahasiswa Doktoral Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (DPIPS) Universitas Syiah Kuala Banda Aceh / Peserta Program NICE (National dan International Conference And Education), yang diselenggarakan oleh Prince Songkla University, Thailand).

***

Pada tanggal 7 Mei 2026, pukul 09.00 waktu Thailand, saya tiba di Bandara Internasional Phuket. Begitu turun dari pesawat, para penumpang langsung diarahkan untuk mengisi kartu tamu sebagai syarat memasuki wilayah Thailand.

Setelah itu, saya bersama beberapa penumpang lain bergegas menuju salah satu loket penukaran uang (money changer) untuk menukar rupiah ke baht Thailand.

Di area imigrasi, antrean tampak sangat panjang. Dalam hati saya bertanya-tanya, sebanyak inikah wisatawan yang ingin menikmati liburan di Phuket?

Dari wajah-wajah yang terlihat, tampak jelas keberagaman etnis para pengunjung: ada wisatawan berkulit putih, India, Afrika, Tionghoa, serta wajah Asia pada umumnya. 

Baca juga: Satpol PP-WH Banda Aceh Tertibkan Pasangan Nonmahram, Nongkrong Tempat Gelap di Tanggul Lamnyong

Suasana bandara benar-benar mencerminkan Phuket sebagai destinasi wisata internasional yang ramai dan diminati.

Saat tiba giliran saya di pintu imigrasi, proses pemeriksaan sempat tertahan.

Petugas meminta saya menunjukkan tiket kepulangan dari Phuket. Pemeriksaan terasa cukup ketat, terutama bagi warga asing yang masuk tanpa alasan jelas.

Baca juga: Aceh dalam Bayang Transformasi Asia: Catatan dari Beijing tentang Masa Depan SDM Indonesia

Saya kemudian menjelaskan bahwa belum memesan tiket pulang karena berencana kembali melalui jalur darat dari Phuket menuju Kuala Lumpur.

Untuk memperkuat penjelasan, saya menunjukkan dokumen perjalanan, termasuk tiket pesawat dari Kuala Lumpur ke Banda Aceh.

Pada kesempatan itu, saya juga menyampaikan bahwa tujuan kedatangan kami ke Phuket adalah untuk mengikuti seminar International Conference on Education yang diselenggarakan oleh Prince of Songkla University.

Penjelasan tersebut akhirnya membantu memperlancar proses pemeriksaan imigrasi.

Sebagai bukti pendukung, saya turut melampirkan undangan seminar, bukti pemesanan hotel, serta jadwal kepulangan ke Indonesia.

Pengalaman ini menjadi pelajaran penting bagi siapa pun yang ingin memasuki wilayah Thailand, khususnya Phuket: wisatawan harus menyiapkan tiket pergi-pulang serta dana yang cukup selama berada di sana.

Baca juga: Kemenlu Pastikan 4 ABK WNI yang Disandera di Somalia Sehat dan Tetap Digaji

Setelah seluruh dokumen diperiksa, akhirnya saya diizinkan masuk ke kota Phuket.

Panitia acara sudah menunggu di area penjemputan untuk mengantar kami menuju lokasi seminar di The Royal Phuket City Hotel.

Phuket meninggalkan kesan mendalam bagi wisatawan asing.

Kota ini menawarkan kombinasi keindahan alam tropis, infrastruktur modern, budaya yang unik, serta strategi ekonomi pariwisata yang saling mendukung. Tidak heran jika Phuket menjadi salah satu destinasi favorit dunia.

Baca juga: Pemerintah Wajibkan Marketplace Beri Diskon Biaya Layanan 50 Persen untuk UMK

Pada malam hari, saya bersama rombongan dari Program Studi Doktor Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (DPIPS) Universitas Syiah Kuala keluar untuk mencari makanan halal.

Namun, dari pengamatan saya, cukup sulit menemukan makanan berlabel halal di Phuket karena mayoritas masyarakatnya nonmuslim. Meski demikian, akhirnya kami menemukan sebuah warung makan muslim.

Di sana kami menikmati nasi kari seafood tomyam yang rasanya sangat nikmat dan segar.

Bahkan menurut kami, cita rasanya lebih istimewa dibandingkan seafood tomyam di Aceh, karena benar-benar pas di lidah. Sejak malam pertama, kami selalu kembali ke warung tersebut untuk makan malam.

Baca juga: Di Bawah Langit Sanliurfa: Ketika Api Menjadi Dingin dan Iman Menjadi Nyata

Kuliner khas Phuket merupakan perpaduan budaya Thailand, Tionghoa Peranakan, dan Melayu. Rasanya kaya rempah dengan perpaduan pedas, asam, manis, dan gurih yang seimbang.

Penggunaan seafood segar membuat hidangan semakin istimewa. Ditambah lagi suasana makan yang hidup, mulai dari jajanan street food hingga restoran di tepi pantai, menjadikan pengalaman kuliner di Phuket tak terlupakan.

Pesona Pantai Patong di Phuket

Dari sisi wisata pantai, saya bersama teman-teman memesan taksi daring menuju Pantai Patong, yang berjarak sekitar 35 menit dari penginapan.

Setibanya di sana, saya langsung terpukau oleh keindahan pasir putih yang lembut, laut berwarna hijau kebiruan, serta lingkungan sekitar yang terjaga kebersihannya.

Baca juga: Antrean di Jembatan Kutablang dan Rumah Sakit yang Siap Melayani

Air lautnya begitu jernih, berpadu dengan iklim tropis yang hangat hampir sepanjang tahun, menjadikan suasana pantai terasa sangat menyenangkan.

Selain Patong, pulau-pulau kecil di sekitar Phuket juga menjadi daya tarik utama bagi wisatawan.

Aktivitas seperti island hopping dan snorkeling menawarkan pengalaman berbeda untuk menikmati keindahan alam bawah laut dan panorama tropis yang menawan.

Akses Internasional dan Infrastruktur

Dari sisi akses internasional, Bandara Internasional Phuket tampak sangat ramai dengan pesawat-pesawat besar dari berbagai negara yang parkir di area bandara.

Hal ini menunjukkan bahwa Phuket merupakan salah satu kawasan di Asia Tenggara yang mudah dijangkau wisatawan dari seluruh dunia.

Selain itu, Phuket memiliki infrastruktur wisata yang lengkap: mulai dari hotel kelas backpacker hingga resort mewah, restoran internasional, pusat hiburan malam, marina yacht, rumah sakit internasional, hingga pusat perbelanjaan modern.

Wisatawan dari berbagai latar belakang ekonomi dapat merasa nyaman, baik saat berkunjung ke pantai maupun menjelajahi kawasan Old Town.

Baca juga: VIDEO - Jembatan Kutablang Karap Lheuh 50 Persen

Di hotel tempat saya menginap, tersedia bus wisata gratis hampir setiap jam yang mengantar wisatawan ke berbagai lokasi populer, seperti Phuket Old Town dan situs bersejarah lainnya.

Kawasan Old Town sendiri terkenal sebagai pusat kuliner, dipenuhi kafe, restoran lokal, dan street food tradisional.

Pasar malam seperti Phuket Weekend Night Market juga menjadi favorit wisatawan untuk menikmati makanan lokal dengan harga terjangkau.

Baca juga: Jamaah Haji Manasik di Mock-Up Garuda Indonesia, Diutamakan Bagi yang Belum Naik Pesawat

Budaya lokal Phuket merupakan perpaduan antara Thailand, Tionghoa, dan Melayu, yang tercermin dalam arsitektur kota tua hingga berbagai festival budaya.

Selain itu, Phuket menawarkan beragam aktivitas wisata: diving, spa, pesta pantai, golf, wisata keluarga, wisata religi, hingga eco-tourism dalam satu destinasi.

Bangkit Pasca Tsunami 2004

Phuket pernah terdampak tsunami pada tahun 2004.

Baca juga: Pemerintah Wajibkan Marketplace Beri Diskon Biaya Layanan 50 Persen untuk UMK

Namun, Pemerintah Thailand bergerak cepat membangun kembali infrastruktur, meningkatkan sistem peringatan dini, serta menjaga kepercayaan wisatawan internasional.

Kombinasi keindahan alam, infrastruktur modern, budaya yang kaya, serta kuliner khas menjadikan Phuket bukan hanya destinasi wisata pantai, tetapi juga pusat ekonomi pariwisata dan kuliner utama di Asia Tenggara.

Tidak heran jika banyak wisatawan datang ke Phuket bukan hanya untuk menikmati pantainya, tetapi juga untuk merasakan pengalaman kuliner dan budaya yang sulit dilupakan.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved