Citizen Reporter
Ketika Haji Menjadi Puncak Pengorbanan yang Sesungguhnya
Musim haji kembali tiba. Bulan pengujung yang menandai genap berakhirnya satu tahun Hijriah, Zulhijah, kini telah tampak hilalnya
Secara logika matematis manusiawi, jika ibadah haji hanya digerakkan oleh kalkulasi materi, niscaya akan banyak orang yang enggan melaksanakannya. Modal yang dikumpulkan dengan susah payah selama berpuluh-puluh tahun tentu terasa lebih logis jika digunakan untuk modal usaha, memperluas aset, atau sekadar meningkatkan taraf hidup di tanah air. Namun, di hadapan cinta kepada Allah, logika itu luruh. Semuanya dikorbankan dengan penuh keikhlasan.
Begitu pula ketika mereka sampai di tanah suci. Ritual tawaf, sai, hingga wukuf di Arafah adalah syiar yang membutuhkan ketahanan fisik dan kelapangan sabar yang luar biasa. Tanpa fondasi keikhlasan yang kokoh, semua keletihan dan pengorbanan materi tersebut akan menguap sia-sia menjadi sekadar perjalanan wisata religius tanpa makna.
Mengenai hakikat cinta dan kepasrahan total ini, seorang sufi pernah bergumam di dalam syairnya yang menggetarkan jiwa,
"Hanya kepada-Mu rindu ini melangkah; jika tidak, untuk apa lelah bersiap menempuh perjalanan?
Hanya dari-Mu segala karunia mengalir; jika tidak, sirnalah sudah seluruh dambaan.
Hanya pada-Mu harapan ini bersandar; jika tidak, merugilah jiwa yang menggantungkan impian.
Hanya tentang-Mu kebenaran itu nyata; jika tidak, setiap cerita hanyalah bualan belaka.
Hanya untuk-Mu seluruh cinta dipersembahkan; jika tidak, sia-sialah segala rasa di dalam dada.
Hanya cahaya-Mu yang menerangi semesta; jika tidak, indahnya purnama pun tak ubahnya malam yang gulita."
Ketika musim haji kembali memanggil, kita yang hari ini masih menatap Ka'bah dari balik layar kaca hanya bisa melangitkan pinta dengan hati yang patah. Kita sadar diri betapa berlumurnya jiwa ini dengan dosa, betapa tidak pantasnya diri ini bertamu ke rumah-Nya yang suci. Kita sering kali mengaku rindu, tetapi hati kita masih sibuk dengan kesenangan duniawi yang fana.
Namun, ya Rabb, Penguasa tiap-tiap hati yang merindu. Jika di musim haji kali ini nama kami belum tertulis di papan panggilan-Mu. Jagalah iman ini agar tidak padam dalam penantian.
Panggillah kami, ketuklah pintu hati kami, dan izinkan seluruh raga, harta, serta sisa usia ini kami korbankan demi bisa bersimpuh, bersujud di bawah naungan ampunan-Mu pada musim haji berikutnya. Amin ya Rabbal 'alamin.
TEUKU ALFIN AULIA
Citizen Reporter
Penulis Citizen Reporter
Serambi Indonesia
Serambinews.com
Serambinews
| Phuket Destinasi Wisata yang Memanjakan Lidah dan Mata |
|
|---|
| Aceh dalam Bayang Transformasi Asia: Catatan dari Beijing tentang Masa Depan SDM Indonesia |
|
|---|
| Dari Beijing untuk Aceh: Membangun Generasi Masa Depan melalui Perdamaian dan Penguatan SDM |
|
|---|
| Saat Massa Menuntut Keadilan, Saiful Mencari Rezeki di Tengah Kericuhan |
|
|---|
| Di Bawah Langit Sanliurfa: Ketika Api Menjadi Dingin dan Iman Menjadi Nyata |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Teuku-Alfin-Aulia-Founder-Halaqah-Aneuk-Bangsa-11.jpg)