Salam
Percepat Pembangunan Huntara
Ramadhan tinggal menghitung hari. Bagi masyarakat Aceh, bulan penuh berkah ini bukan sekadar momentum ibadah,
Ramadhan tinggal menghitung hari. Bagi masyarakat Aceh, bulan penuh berkah ini bukan sekadar momentum ibadah, melainkan juga ruang untuk memperkuat solidaritas sosial. Namun, di tengah persiapan menyambut Ramadhan, masih ada lebih dari 80.000 jiwa korban banjir bandang dan longsor yang harus bertahan di tenda-tenda pengungsian. Pertanyaan mendasar pun muncul: Bagaimana mereka bisa menjalani Ramadhan dengan khusyuk jika masih hidup dalam kondisi darurat?
Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) menyoroti lambannya pembangunan hunian sementara (huntara) di Tanah Gayo, khususnya Aceh Tengah dan Bener Meriah. Di Kampung Wih Pesam, Bener Meriah, progres pembangunan baru mencapai sekitar 20 persen. Sementara di Aceh Tengah, ribuan jiwa masih menunggu huntara yang terhambat distribusi material akibat rusaknya jalan dan jembatan. Target pemerintah membangun 914 unit huntara di Bener Meriah pun belum sepenuhnya berjalan mulus karena penetapan lokasi masih menunggu kesepakatan warga. Di kabupaten lain juga demikian. Di Pidie Jaya, sebagian Huntara sudah selesai dikerjakan, tapi belum bisa digunakan. Aliansi Solidaritas Pemuda Pidie Jaya bahkan mengeritik keras Pemkab setempat, yang sudah memperpanjang masa tanggap darurat hingga lima kali dan gagal beralih ke tahapan yang rehabilitasi dan rekonstruksi.
Kondisi ini menunjukkan bahwa percepatan pembangunan huntara tidak hanya bergantung pada anggaran. Faktor kebijakan, kesiapan lahan, akurasi data penerima, serta infrastruktur pendukung menjadi penentu utama. Tanpa koordinasi lintas sektor yang solid, pembangunan huntara akan terus tersendat.
Huntara bukan sekadar bangunan fisik. Ia adalah simbol pemulihan rasa aman, kesehatan, dan martabat warga terdampak bencana. Ramadhan seharusnya menjadi bulan yang menenangkan, bukan bulan yang menambah penderitaan. Jika pembangunan huntara tidak segera dipercepat, ribuan pengungsi akan menjalani ibadah di tenda-tenda yang tidak layak, rentan terhadap penyakit, dan minim privasi.
Pemerintah daerah dan pusat harus menjadikan percepatan pembangunan huntara sebagai prioritas. Anggaran yang sudah dialokasikan mesti segera dieksekusi dengan pengawasan ketat agar tidak terhambat birokrasi. Selain itu, masyarakat sipil, lembaga swadaya, dan dunia usaha perlu dilibatkan dalam mempercepat proses ini. Solidaritas sosial yang menjadi ciri khas masyarakat Aceh harus kembali digerakkan, bukan hanya dalam bentuk bantuan logistik, tetapi juga dukungan tenaga dan pemikiran.
Percepatan pembangunan huntara adalah wujud nyata dari kepedulian dan tanggung jawab bersama. Apalagi BNPB sebelumnya sudah menargetkan bahwa Huntara tuntas sebelum Ramadhan tiba. Tentu ini bukan asumsi, melainkan hitung-hitungan teknis oleh lembaga yang sangat kredibel dalam mengurus bencana, baik pada masa tanggap darurat maupun pada fase rehabilitasi dan rekonstruksi. Dengan langkah cepat dan terukur, pemerintah dapat memastikan bahwa para korban bencana bisa menjalani Ramadhan dengan lebih layak, meski belum di hunian tetap.
Ramadhan tinggal dua pekan lagi. Waktu memang sempit, tetapi bukan alasan untuk menyerah. Pemerintah harus bergerak lebih cepat, masyarakat harus bergandengan tangan, dan semua pihak harus menempatkan kemanusiaan di atas segalanya. Percepatan pembangunan huntara adalah jalan untuk memulihkan harapan, martabat, dan kehidupan warga Aceh yang sedang berjuang bangkit dari bencana.(*)
POJOK
Jokowi: Saya akan mati-matian untuk PSI
Selamat bekerja!
Huntara diragukan rampung sebelum puasa
Wajar kalau Huntara diplesetkan menjadi Hunian Tanpa Arah
Harga emas turun 1 juta di Aceh Timur
Ini kabar gembira bagi calon linto baro
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Huntara-Wajib-Rampung-Sebelum-Ramadhan.jpg)