Salam
Pangan Terjangkau, Rakyat Terlindungi
Kebijakan ini bukan sekadar agenda rutin menjelang Ramadhan, melainkan bentuk kehadiran nyata pemerintah di tengah masyarakat
Langkah Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) menginstruksikan pelaksanaan pasar murah secara serentak di 23 kabupaten/kota patut diapresiasi. Kebijakan ini bukan sekadar agenda rutin menjelang Ramadhan, melainkan bentuk kehadiran nyata pemerintah di tengah masyarakat yang sedang menghadapi tekanan ekonomi.
Menjelang bulan suci, kebutuhan bahan pokok hampir selalu mengalami peningkatan permintaan yang berdampak pada kenaikan harga. Dalam situasi normal saja, lonjakan harga kerap menjadi beban. Apalagi dalam kondisi saat ini, ketika daya beli masyarakat masih relatif rendah.
Dampak perlambatan ekonomi, ditambah bencana banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah Aceh, membuat banyak keluarga harus semakin berhitung dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Karena itu, keputusan Pemerintah Aceh menghadirkan pasar murah dengan subsidi signifikan pada komoditas utama seperti beras, gula, minyak goreng, dan telur ayam merupakan langkah strategis dan tepat sasaran.
Subsidi Rp 5.000 per kilogram untuk beras premium, Rp 6.000 per kilogram untuk gula dan minyak goreng, serta Rp 15.000 per papan untuk telur ayam bukanlah angka kecil. Kebijakan ini jelas dirancang untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus mengendalikan gejolak harga di pasaran.
Ramadhan adalah bulan ibadah yang seharusnya dijalani dengan ketenangan, bukan kegelisahan memikirkan kenaikan harga sembako. Ketika pemerintah hadir memastikan kebutuhan pokok tetap terjangkau, masyarakat dapat menyambut bulan suci dengan rasa aman dan penuh khidmat.
Langkah ini juga menunjukkan respons cepat pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas pangan pascabencana. Distribusi yang direncanakan di 69 titik lokasi menandakan adanya keseriusan dalam menjangkau masyarakat hingga ke pelosok.
Instruksi Gubernur kepada Disperindag Aceh agar memastikan distribusi tepat sasaran, transparan, serta menjaga kualitas barang menjadi kunci keberhasilan program ini. Tanpa pengawasan ketat, niat baik kebijakan bisa saja tidak optimal di lapangan.
Tentu, pasar murah bukanlah solusi jangka panjang bagi persoalan daya beli yang melemah. Namun, dalam konteks situasi menjelang Ramadhan dan kondisi ekonomi masyarakat saat ini, kebijakan ini adalah bentuk intervensi yang relevan dan dibutuhkan.
Pemerintah daerah memiliki tanggung jawab moral dan konstitusional untuk melindungi masyarakat dari tekanan ekonomi yang berlebihan, terutama pada kebutuhan dasar seperti pangan.
Di sisi lain, harus diingat bahwa stabilitas harga tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah, tetapi juga oleh perilaku konsumsi masyarakat. Kepanikan dan pembelian berlebihan justru dapat memperparah kelangkaan dan mendorong kenaikan harga.
Kita berharap pelaksanaan pasar murah ini berjalan lancar, tepat sasaran, dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Lebih jauh lagi, momentum ini hendaknya menjadi penguat komitmen pemerintah daerah untuk terus menghadirkan kebijakan pro-rakyat.
Menjelang Ramadhan, yang dibutuhkan rakyat bukan sekadar janji, melainkan aksi nyata. Pasar murah yang digagas Gubernur Mualem adalah salah satu bentuk aksi tersebut. Kini, tugas bersama adalah memastikan kebijakan ini berjalan efektif. Semoga!
POJOK
Wabup Pijay Hasan Basri mundur dari ketua satgas bencana
Hampir terkejut, kirain mundur dari wakil bupati?
Pertamina pastikan distribusi BBM ke Gayo bisa melalui jalur darat
Asal jangan lewat jalur tikus, khawatir ada yang “kencing” di jalan
Kejari Aceh Selatan adakan Rakor pengawasan aliran kepercayaan
Kini ada aliran yang “bertuhan” ke jabatan, Anda percaya?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Gubernur-Perintahkan-Buka-Pasar-Murah.jpg)