Minggu, 10 Mei 2026

Konflik Amerika vs Iran

Profil Mohammad Bagher Ghalibaf, Diduga Diincar Trump untuk Pimpin Iran

Dalam karier sipil, Ghalibaf pernah menjabat sebagai Wali Kota Teheran dan sejak 2020 menjadi Ketua Parlemen Iran.

Tayang:
Editor: Faisal Zamzami
Kompas.com
Mohammad Bagher Ghalibaf diduga sedang dipertimbangkan Pemerintahan Presiden AS Donald Trump untuk menjadi pemimpin Iran di masa depan. 
Ringkasan Berita:
  • Nama Mohammad Bagher Ghalibaf mencuat di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat.
  • Ia dikaitkan dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengaku tengah berkomunikasi dengan “tokoh paling dihormati” di Iran, meski tanpa menyebut nama secara langsung.
  • Sejumlah laporan media internasional kemudian mengaitkan sosok tersebut dengan Ghalibaf.

 

SERAMBINEWS.COM, TEHERAN – Nama Mohammad Bagher Ghalibaf mencuat di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat.

Ia dikaitkan dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengaku tengah berkomunikasi dengan “tokoh paling dihormati” di Iran, meski tanpa menyebut nama secara langsung.

Sejumlah laporan media internasional kemudian mengaitkan sosok tersebut dengan Ghalibaf.

Bahkan, laporan dari Politico menyebut bahwa pemerintah AS tengah mempertimbangkan Ghalibaf sebagai figur potensial dalam skenario kepemimpinan Iran ke depan.

Trump sebelumnya mengklaim bahwa pembicaraan antara kedua pihak berlangsung “baik dan produktif”, serta berkontribusi pada penundaan rencana serangan militer AS terhadap infrastruktur energi Iran.

Ia juga menyebut tengah berhubungan dengan sosok yang sangat dihormati di Iran.

Namun, Ghalibaf dengan tegas membantah kabar tersebut.

Ia menyebut isu negosiasi dengan Washington sebagai “berita palsu” yang bertujuan memanipulasi pasar keuangan dan energi, serta mengalihkan perhatian dari kebuntuan yang dihadapi AS dan Israel.

Di Washington, sejumlah pejabat disebut tengah mengkaji berbagai opsi, termasuk menjalin komunikasi dengan tokoh internal Iran yang dinilai berpengaruh.

Ghalibaf masuk dalam daftar tersebut dan disebut sebagai salah satu “opsi terbaik”, meski belum ada keputusan final.

Pendekatan ini disebut-sebut terinspirasi dari strategi AS di Venezuela, yang melibatkan tokoh internal seperti Delcy Rodríguez dalam dinamika politik pasca-tekanan terhadap Nicolás Maduro.

Meski demikian, tidak semua pihak di AS sepakat dengan strategi tersebut.

Sejumlah analis menilai pendekatan itu terlalu dini dan sulit diterapkan mengingat kompleksitas struktur kekuasaan Iran

Analis dari International Crisis Group, Ali Vaez, menyebut Ghalibaf sebagai bagian dari sistem yang ada dan kecil kemungkinan akan memberikan konsesi besar kepada AS.

Baca juga: Sosok Mohammad Bagher Zolghadr, Kepala Dewan Keamanan Nasional Baru Iran Gantikan Ali Larijani

Profil Mohammad Bagher Ghalibaf

Ghalibaf merupakan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam politik Iran saat ini.

Lahir pada 1961, ia memulai kariernya di Korps Garda Revolusi Islam sejak awal pembentukannya pada 1980.

Selama Perang Iran-Irak, ia dikenal sebagai komandan militer yang menanjak cepat.

Ia kemudian menjabat sebagai Komandan Angkatan Udara IRGC, sebelum ditunjuk oleh Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei sebagai Kepala Kepolisian.

Dalam karier sipil, Ghalibaf pernah menjabat sebagai Wali Kota Teheran dan sejak 2020 menjadi Ketua Parlemen Iran.

Ia juga beberapa kali mencalonkan diri sebagai presiden, namun belum berhasil memenangkan pemilu.

Analis menyebut Ghalibaf sebagai figur “orang dalam” yang kuat, dengan koneksi luas, termasuk dengan tokoh militer berpengaruh seperti Qasem Soleimani.

Hal ini memberinya kredibilitas di kalangan elite keamanan Iran.

Meski begitu, kariernya tidak lepas dari kontroversi, termasuk tuduhan korupsi saat menjabat sebagai wali kota.

Di sisi lain, ia juga dikenal sebagai konservatif pragmatis yang mampu mengelola birokrasi kompleks.

Baca juga: VIDEO Detik-detik Anggota Parlemen Israel Dihujani Rudal Iran saat Rapat

Peran di Tengah Konflik

Di tengah eskalasi konflik Iran-AS, Ghalibaf disebut memainkan peran penting dalam pengambilan keputusan strategis di Teheran, terutama setelah sejumlah tokoh penting dilaporkan tewas dalam serangan militer.

Ia juga dipandang sebagai figur yang berpotensi menjembatani kelompok garis keras Iran dengan kemungkinan jalur negosiasi.

Namun, retorikanya terhadap Barat tetap keras.

Dalam pernyataan terbaru, ia menegaskan bahwa tidak hanya pangkalan militer, tetapi juga entitas finansial yang mendukung militer AS dapat menjadi target sah.

Situasi ini menunjukkan bahwa meski namanya mencuat dalam berbagai spekulasi internasional, posisi dan peran Ghalibaf tetap berada dalam kerangka kepentingan domestik Iran yang kompleks dan sulit dipengaruhi pihak luar.
 
 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved