Perang Iran Tekan Ekonomi India, Perdana Menteri Serukan Warga Hemat Energi dan Kurangi Beli Emas
Perang Iran telah memberi tekanan serius terhadap ekonomi India melalui lonjakan harga energi, melemahnya rupee, dan berkurangnya cadangan devisa.
Ringkasan Berita:
- Perdana Menteri India Narendra Modi meminta warga menghemat energi, mengurangi perjalanan, dan membatasi pembelian emas akibat tekanan ekonomi dari perang Iran.
- India sangat bergantung pada impor energi sehingga gangguan di Selat Hormuz memicu lonjakan biaya impor, melemahnya rupee, dan penurunan cadangan devisa.
- Ekonom memperingatkan tekanan inflasi dan kenaikan harga energi dapat memperburuk kondisi ekonomi India serta memaksa pemerintah mengurangi subsidi dan menaikkan harga BBM.
SERAMBINEWS.COM - Perang Iran telah memberi tekanan serius terhadap ekonomi India melalui lonjakan harga energi, melemahnya rupee, dan berkurangnya cadangan devisa.
Pemerintah India mulai mendorong penghematan nasional dan mengurangi subsidi energi untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah ancaman inflasi dan perlambatan pertumbuhan.
Perang Iran yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir mulai memberikan tekanan besar terhadap perekonomian India.
Konflik yang berlangsung lebih dari dua bulan itu mengganggu pasokan energi global dan memperbesar beban impor negara tersebut.
Perdana Menteri, Narendra Modi pun meminta masyarakat mulai melakukan penghematan demi menjaga ketahanan ekonomi nasional.
Seruan itu disampaikan Modi dalam acara publik di Hyderabad, Minggu (10/5/2026).
Baca juga: Perahu Pengangkut WNI Tenggelam di Malaysia, Korban Tewas Bertambah Jadi 11 Orang, 3 Masih Hilang
Ia meminta warga bekerja dari rumah jika memungkinkan, mengurangi perjalanan luar negeri, membeli lebih sedikit emas, hingga menghemat konsumsi bahan bakar.
Langkah tersebut dinilai tidak biasa karena mengingatkan publik pada pola kampanye partisipasi massal yang pernah dilakukan pemerintah India saat pandemi Covid-19.
Pemerintah India kini berupaya menjaga stabilitas ekonomi sekaligus menekan permintaan dolar AS di tengah lonjakan biaya impor energi.
Pernyataan Modi langsung memicu kekhawatiran di pasar keuangan India. Bankir senior India, Uday Kotak, mengingatkan dampak perang Timur Tengah terhadap harga energi belum sepenuhnya dirasakan masyarakat.
Menurutnya, tekanan harga energi diperkirakan akan semakin besar dalam beberapa bulan mendatang dan berdampak langsung terhadap konsumen.
India diketahui sangat bergantung pada impor energi. Sekitar 90 persen kebutuhan minyak mentah dan setengah kebutuhan gas alam negara itu masih dipasok dari luar negeri.
Baca juga: Pengamat Nilai “Jokowi Effect” Tak Lagi Sekuat Dulu, PSI Hadapi Tantangan Baru
Situasi semakin berat setelah jalur pengiriman minyak dunia di Selat Hormuz praktis terganggu akibat perang Iran. Akibatnya, biaya impor energi India melonjak hingga miliaran dolar AS.
Harga tiket pesawat dan biaya perjalanan luar negeri juga ikut meningkat karena maskapai mulai membebankan kenaikan harga bahan bakar kepada penumpang.
Pemerintah India bahkan mulai menekan impor emas dengan menaikkan bea masuk emas dan perak menjadi 15 persen guna mengurangi tekanan terhadap devisa negara.
| PT Orbis Tanah Luas Bangun Pabrik Pengolah CPO di Bireuen, DPRA Beri Dukungan Penuh |
|
|---|
| Pengamat Nilai “Jokowi Effect” Tak Lagi Sekuat Dulu, PSI Hadapi Tantangan Baru |
|
|---|
| India Naikkan Harga BBM Akibat Krisis Energi Dampak Perang Iran |
|
|---|
| VIDEO - Trump dan Xi Bahas Iran, Kapal Kargo Diserang di Perairan Oman |
|
|---|
| Penyeberangan Lewat Jembatan Apung Kepala Hiudi Peusangan Siblah Krueng Lancar Kembali |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Modi-15052026.jpg)