Kupi Beungoh
Melestarikan Permainan Tradisional Rakyat Aceh kepada Generasi Z
Lebih kurang sekitar 40 tahun yang lalu masyarakat Aceh sering sekali mempertunjukkan ajang perlombaan pemainan tradisional ditengah-tengah masyarakat
*) Oleh: Suandi
PERMAINAN tradisional Aceh merupakan warisan yang diturunkan dari generasi ke generasi, mencerminkan kearifan lokal rakyat Aceh.
Baik tua maupun muda, pria dan wanita, sejak dahulu hingga sekarang sangat mencintai permainan tradisional sebagai sarana untuk menanamkan rasa kebersamaan, kepedulian terhadap orang lain, serta sebagai cara untuk menghilangkan stres dan mengekspresikan diri dalam bidang seni, olahraga, dan budaya.
Dewasa ini, rakyat Aceh tua dan muda sepertinya sudah lupa terhadap permainan tradisional Aceh tempo dulu sehingga sudah mulai jarang generasi tuha dan muda mempertontonkan permainan tradisional Aceh dihadapan publik.
Generasi Z, yang hidup di era revolusi industri 4.0, tampaknya juga tidak begitu akrab dengan permainan ini, sehingga keunikan dan kegembiraan yang ditawarkan oleh permainan tradisional Aceh perlahan-lahan mulai terlupakan.
Imbasnya, generasi Z sekarang ini sepertinya kurang melek dan tidak familiar dengan sejumlah permainan tradisional yang begitu unik dan menyenangkan hati karena sudah hilang dipermukaan disapu oleh gelombang "tsunami" dan beresiko seperti sebuah kuburan tanpa keluarga.
Pada zaman dahulu masyarakat Aceh sangat aktif dan kreatif menciptakan berbagai macam jenis permainan tradisional yang begitu menarik, unik, dan membahagiakan jiwa dan raga, meskipun ada diantaranya jenis permainan tradisional Aceh yang penuh resiko bagi pemain.
Lebih kurang sekitar 40 tahun yang lalu masyarakat Aceh sering sekali mempertunjukkan ajang perlombaan pemainan tradisional ditengah-tengah masyarakat.
Perlombaan baik berskala kecil maupun besar biasanya dilakukan setelah selesai musim panen padi di sawah, seperti tunang gelayang, tunang gaseng, dan tunang lainnya.
Pada masa jeda dari berbagai macam aktivitas tertentu (rehat) masyarakat dalam bekerja mencari rezeki, agam inong masyarakat terus tergerak jiwa dan raga masyarakat memutuskan untuk melakukan ragam permainan tradisional di berbagai kemukiman.
Permainan tradisional yang digerakkan dan diperlombakan, diantaranya permainan Galah, Boh Singgam, Tabak, Silek, Gaseng, Patok Lele, Geudeu-Geudeu, Genteut dan banyak permainan lainnya yang diperlombakan oleh rakyat Aceh.
Namun diantara sedemikian jumlah permainan tradisional Aceh salah satu yang paling di gemari dan mendapat perhatian serius masyarakat adalah " Galah" sebab permainan ini mampu memberikan kebahagian sendiri bagi pemain dan penonton apalagi permainan tersebut dilakukan di saat bulan purnama maklum saat itu belum ada tenaga listrik.
Oleh karena itulah, untuk mengantisipasi permainan tradisional Aceh kiranya pihak terkait perlu seperti Tuha Peut gampong, MAA (Majlis Adat Aceh) perlu mengindentifikasikan kembali permainan-permainan tradisional Aceh sebagai bukti bahwa Aceh memiliki warisan budaya leluhur perlu diangkat, dirawat dan dilestarikan kembali serta diharapkan dapat dijadikan sebagai objek penelitian bagi pengembangan khazanah keilmuan dari kalangan kampus.
Seharusnya pihak pemerintah mulai dari Muspika dan Muspida harus memberikan apresiasi bagi beberapa gampong di Aceh Barat saat ini yang telah mulai mencoba memperkenalkan dan mengusung kembali permainan tradisional yang pernah dilakukan oleh "Indatu" dan menjadi tontonan gratis dan menarik bagi masyarakat umum.
Tentunya, banyak usaha perlu diperhatikan oleh segenap elemen masyarakat salah satu cara untuk melestarikan permainan tradisional Aceh, pemerintahan daerah harus memasukkan dalam muatan kurikulum lokal lewat peran MAA sebagai lembaga yang ditugaskan untuk merawat dan melestarikan adat dan kebudayaan sebab Aceh menyimpan segudang permainan tradisional dan perlu juga diratifikasi dan diklaim sebagai khazanah kebudayaan hakiki.
| Perang dan Damai - Bagian 6, No King: Protes Rakyat AS, Kembali ke Demokrasi Menuju Perdamaian |
|
|---|
| 24 Tahun Aceh Tamiang : Negeri yang Ditempa untuk Menjadi Besar |
|
|---|
| Hegemoni Energi AS dan Dilema China di Balik Penangkapan Maduro dan Serangan ke Iran |
|
|---|
| Membaca Strategi Pakistan Sebagai Mediator yang Lahir di Tengah Badai Krisis |
|
|---|
| Carut Marut Kabel Optik dan Wajah Kota Banda Aceh |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Suandi-pengurus-Meunasah-Al-bayan-Ujongkalak-dan-Tokoh-Masyarakat-Aceh-Barat.jpg)