Senin, 15 Juni 2026

Feature

Menjaga Warisan Leluhur, Raja Mulieng Padukan Rapai Tua dan Rapai Karya Generasi Muda

SEJUMLAH rapai tua berusia ratusan tahun peninggalan indatu masih tersimpan dan dirawat dengan baik oleh Grup Rapai Raja Mulieng di Kemukiman Mulieng

Tayang:
Editor: mufti
for serambinews/IST
WAWANCARA - Syekh Rapai Raja Mulieng, Muhammad IB atau Syekh Amat (kanan), bersama Penasehat Grup Rapai Raja Mulieng, M Isa Ali, saat diwawancarai Serambi di Kecamatan Syamtalira Aron, Kabupaten Aceh Utara, Sabtu (13/6/2026). 

Dentum rapai berusia ratusan tahun masih menggema di Kemukiman Mulieng, Aceh Utara. Untuk menjaga warisan indatu tetap hidup, para pemuda membuat rapai baru dari batang tualang dan memadukannya dengan rapai tua.

SEJUMLAH rapai tua berusia ratusan tahun peninggalan indatu masih tersimpan dan dirawat dengan baik oleh Grup Rapai Raja Mulieng di Kemukiman Mulieng, Kecamatan Syamtalira Aron, Kabupaten Aceh Utara.

Namun kini, alat musik warisan leluhur itu tidak lagi berdentum sendirian. Sejak beberapa tahun terakhir, suara rapai tua berpadu dengan rapai baru hasil karya generasi muda yang dibuat dari batang pohon tualang. Kolaborasi tersebut menjadi ikhtiar menjaga tradisi agar tidak berhenti pada satu generasi.

Grup Rapai Raja Mulieng yang beranggotakan warga dari sejumlah gampong di Kemukiman Mulieng, seperti Dayah, Kulam, Ampeh, Mampree, Ara, hingga Blang di Kecamatan Tanah Pasir, saat ini memiliki sekitar 25 anggota. Sebanyak 15 di antaranya merupakan remaja dan pemuda.

Kehadiran generasi muda menjadi harapan baru bagi keberlanjutan seni rapai yang telah diwariskan turun-temurun selama berabad-abad.

Penasehat Grup Rapai Raja Mulieng, M Isa Ali, saat ditemui Serambi, Sabtu (13/6/2026), mengatakan bertambahnya jumlah anggota mendorong kelompok tersebut membuat rapai baru pada 2020. Selama ini, rapai yang digunakan merupakan peninggalan leluhur dengan jumlah terbatas. Sementara minat generasi muda untuk bergabung terus bertambah.

"Jumlah pemain semakin banyak, sementara rapai yang kami miliki tidak bertambah karena semuanya warisan indatu. Karena itu kami mencoba membuat rapai baru agar bisa digunakan bersama-sama," ujar M Isa Ali didampingi Syekh Rapai Raja Mulieng, Muhammad IB atau yang lebih dikenal dengan nama Syekh Amat.

Keinginan membuat rapai baru juga lahir dari rasa penasaran para anggota terhadap kemampuan pengrajin masa kini dalam menghasilkan rapai berkualitas seperti buatan para pendahulu. "Kalau orang lain mampu membuatnya, kenapa kami tidak bisa. Pikiran itu yang membuat kami terus mencoba," katanya.

Mereka kemudian mencari bahan baku dari batang pohon tualang berukuran besar yang ditemukan di pedalaman Aceh Utara. Dari satu batang tualang tua tersebut, mereka berhasil membuat tujuh unit rapai baru.

Ukuran rapai baru sengaja dibuat sama dengan rapai warisan leluhur. Diameter muka rapai mencapai 26 inci atau sekitar 66 sentimeter, dengan diameter bagian tengah 52 sentimeter dan bagian belakang 42 sentimeter.

Menurut M Isa, kesamaan ukuran tersebut dipertahankan agar karakter suara rapai baru tidak jauh berbeda dengan rapai tua peninggalan indatu yang masih tersimpan di Raja Mulieng. Dari tujuh rapai yang berhasil dibuat, dua di antaranya telah diberi nama Raja Jamok dan Tualang Karu. Sementara lima lainnya masih menunggu penamaan resmi.

"Hasilnya cukup bagus. Rapai baru itu sudah digunakan dalam latihan maupun beberapa kompetisi dan mampu menghasilkan suara yang baik," ujarnya.

Warisan Sejak Abad ke-18

Keberadaan Grup Rapai Raja Mulieng diperkirakan telah ada sejak akhir abad ke-18. Hal itu terlihat dari sejumlah rapai yang hingga kini masih digunakan dan diyakini telah berumur ratusan tahun.

"Ketika kami telusuri kapan rapai itu mulai ada, kakek kami menyebutkan bahwa saat beliau masih kecil, rapai tersebut sudah digunakan oleh kakeknya lagi untuk meu-uroh," kata M Isa.

Secara organisasi, grup tersebut mulai dinotariskan pada 1992. M Isa Ali memimpin kelompok itu sejak 1998 hingga 2014 sebelum sempat vakum beberapa tahun. Sejak 2024, estafet kepemimpinan dilanjutkan generasi muda di bawah Abdul Hadi, putra keenam Syekh Amat.

Bagi M Isa, menjaga rapai bukan sekadar mempertahankan alat musik tradisional, melainkan merawat identitas budaya yang diwariskan leluhur. "Saat mengajak anak muda memang tidak mudah. Kami dekati pelan-pelan. Kalau bukan kita yang peduli terhadap peninggalan nenek moyang, siapa lagi yang akan menjaganya," ujarnya.

Upaya tersebut perlahan membuahkan hasil. Semakin banyak pemuda yang tertarik bergabung dan belajar memainkan rapai. Mereka kini menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi meu-uroh yang telah hidup selama berabad-abad di Kemukiman Mulieng.

Pemilihan Kulit Sapi

Dalam proses pembuatan rapai, M Isa juga masih mengingat berbagai cerita yang diwariskan para orang tua terdahulu. Menurutnya, pembuatan rapai pada masa lalu tidak hanya melibatkan keterampilan teknis, tetapi juga berbagai ritual adat.

"Kalau orang terdahulu yang kami dengar memang melakukan peusijuek, kemudian memanggil roh kayu dan ritual lainnya sebelum rapai digunakan," ujarnya.

Meski ritual tersebut tidak lagi dilakukan secara lengkap, nilai penghormatan terhadap alam dan warisan leluhur tetap menjadi bagian dari proses pembuatan rapai hingga saat ini. Selain kayu tualang, kualitas suara rapai juga sangat ditentukan oleh membran yang terbuat dari kulit sapi. Karena itu, pemilihan kulit dilakukan dengan sangat teliti.

M Isa mengaku harus mengamati kondisi sapi mulai dari bobot hingga tekstur bulunya. Sapi yang dipilih umumnya memiliki bobot lebih dari 100 kilogram dengan berat kulit sekitar 22 hingga 25 kilogram. Tidak hanya itu, proses penyembelihan juga harus dilakukan secara hati-hati agar kulit tidak mengalami cacat sedikit pun.

"Orang yang menyembelih juga harus benar-benar paham cara memisahkan kulit dan daging. Kalau salah sedikit bisa merusak kualitas membran rapai," ujarnya.

Menurutnya, sapi berbulu halus menghasilkan kualitas kulit yang lebih baik dibandingkan sapi berbulu kasar. "Kalau bulunya kasar, saat ditarik untuk pemasangan akan melar seperti karet sehingga suara rapai menjadi kurang bagus," katanya.

Mereka juga menghindari penggunaan kulit sapi dari ternak yang terlalu banyak mengonsumsi pakan pabrikan. Berdasarkan pengalaman para pemain rapai, sapi yang lebih banyak digembalakan secara alami menghasilkan kualitas suara yang lebih jernih.

"Kalau terlalu banyak pakan buatan biasanya suara yang dihasilkan tidak bening. Mungkin karena kurang terkena cahaya matahari saat pemeliharaan," ujar M Isa.

Karena itu, ia berharap generasi muda terus mengambil peran dalam menjaga warisan leluhur, salah satunya seni Rapai Pase, sebelum terlambat.(jafaruddin)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 00:00 WIB
Germany
Jerman
7 - 1
Curacao
Curacao
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 03:00 WIB
Netherlands
Belanda
2 - 2
Japan
Jepang
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 06:00 WIB
Ivory Coast
Pantai Gading
1 - 0
Ecuador
Ekuador
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 09:00 WIB
Sweden
Swedia
5 - 1
Tunisia
Tunisia
Grup H - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 23:00 WIB
Spain
Spanyol
VS
Cape Verde
Tanjung Verde
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved