Feature
Menjaga Warisan Leluhur, Raja Mulieng Padukan Rapai Tua dan Rapai Karya Generasi Muda
SEJUMLAH rapai tua berusia ratusan tahun peninggalan indatu masih tersimpan dan dirawat dengan baik oleh Grup Rapai Raja Mulieng di Kemukiman Mulieng
Dentum rapai berusia ratusan tahun masih menggema di Kemukiman Mulieng, Aceh Utara. Untuk menjaga warisan indatu tetap hidup, para pemuda membuat rapai baru dari batang tualang dan memadukannya dengan rapai tua.
SEJUMLAH rapai tua berusia ratusan tahun peninggalan indatu masih tersimpan dan dirawat dengan baik oleh Grup Rapai Raja Mulieng di Kemukiman Mulieng, Kecamatan Syamtalira Aron, Kabupaten Aceh Utara.
Namun kini, alat musik warisan leluhur itu tidak lagi berdentum sendirian. Sejak beberapa tahun terakhir, suara rapai tua berpadu dengan rapai baru hasil karya generasi muda yang dibuat dari batang pohon tualang. Kolaborasi tersebut menjadi ikhtiar menjaga tradisi agar tidak berhenti pada satu generasi.
Grup Rapai Raja Mulieng yang beranggotakan warga dari sejumlah gampong di Kemukiman Mulieng, seperti Dayah, Kulam, Ampeh, Mampree, Ara, hingga Blang di Kecamatan Tanah Pasir, saat ini memiliki sekitar 25 anggota. Sebanyak 15 di antaranya merupakan remaja dan pemuda.
Kehadiran generasi muda menjadi harapan baru bagi keberlanjutan seni rapai yang telah diwariskan turun-temurun selama berabad-abad.
Penasehat Grup Rapai Raja Mulieng, M Isa Ali, saat ditemui Serambi, Sabtu (13/6/2026), mengatakan bertambahnya jumlah anggota mendorong kelompok tersebut membuat rapai baru pada 2020. Selama ini, rapai yang digunakan merupakan peninggalan leluhur dengan jumlah terbatas. Sementara minat generasi muda untuk bergabung terus bertambah.
"Jumlah pemain semakin banyak, sementara rapai yang kami miliki tidak bertambah karena semuanya warisan indatu. Karena itu kami mencoba membuat rapai baru agar bisa digunakan bersama-sama," ujar M Isa Ali didampingi Syekh Rapai Raja Mulieng, Muhammad IB atau yang lebih dikenal dengan nama Syekh Amat.
Keinginan membuat rapai baru juga lahir dari rasa penasaran para anggota terhadap kemampuan pengrajin masa kini dalam menghasilkan rapai berkualitas seperti buatan para pendahulu. "Kalau orang lain mampu membuatnya, kenapa kami tidak bisa. Pikiran itu yang membuat kami terus mencoba," katanya.
Mereka kemudian mencari bahan baku dari batang pohon tualang berukuran besar yang ditemukan di pedalaman Aceh Utara. Dari satu batang tualang tua tersebut, mereka berhasil membuat tujuh unit rapai baru.
Ukuran rapai baru sengaja dibuat sama dengan rapai warisan leluhur. Diameter muka rapai mencapai 26 inci atau sekitar 66 sentimeter, dengan diameter bagian tengah 52 sentimeter dan bagian belakang 42 sentimeter.
Menurut M Isa, kesamaan ukuran tersebut dipertahankan agar karakter suara rapai baru tidak jauh berbeda dengan rapai tua peninggalan indatu yang masih tersimpan di Raja Mulieng. Dari tujuh rapai yang berhasil dibuat, dua di antaranya telah diberi nama Raja Jamok dan Tualang Karu. Sementara lima lainnya masih menunggu penamaan resmi.
"Hasilnya cukup bagus. Rapai baru itu sudah digunakan dalam latihan maupun beberapa kompetisi dan mampu menghasilkan suara yang baik," ujarnya.
Warisan Sejak Abad ke-18
Keberadaan Grup Rapai Raja Mulieng diperkirakan telah ada sejak akhir abad ke-18. Hal itu terlihat dari sejumlah rapai yang hingga kini masih digunakan dan diyakini telah berumur ratusan tahun.
"Ketika kami telusuri kapan rapai itu mulai ada, kakek kami menyebutkan bahwa saat beliau masih kecil, rapai tersebut sudah digunakan oleh kakeknya lagi untuk meu-uroh," kata M Isa.
Menjaga Warisan Leluhur
Raja Mulieng
Rapai Tua
Rapai Muda
Raja Mulieng Padukan Rapai Tua dan Rapai Karya Gen
Kesenian Aceh
Serambi Indonesia
Serambinews.com
Serambinews
| USK Siap Mandiri di Era PTNBH, Fokus Kembangkan Usaha di Sektor Pangan |
|
|---|
| Merawat Rapai Pase di Tengah Keterbatasan Pascabanjir, Kisah Grup Kram Krum Tam-Tum Boh Beureutoh |
|
|---|
| Asa Penyintas Banjir Langkahan, Berharap Pemerintah segera Bangun Hunian Tetap |
|
|---|
| Wariskan Gagasan Jaga Aceh Mulia, Kapolda Luncurkan Buku "Polda Aceh Meutuah" |
|
|---|
| 1.700 Hektare Sawah Terselamatkan, Pemkab Aceh Selatan Tuntaskan Normalisasi Irigasi Gunung Pudung |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Menjaga-Warisan-Leluhur.jpg)