Angka Kelahiran Turun, Anak Tak Lagi Jadi Pelengkap Pernikahan?
Perubahan cara pandang masyarakat terhadap makna kebahagiaan dan keutuhan diri membuat kehadiran anak tidak lagi dianggap sebagai satu-satunya syara
Ringkasan Berita:
- Data Badan Pusat Statistik menunjukkan angka kelahiran total di Indonesia turun dari 5,61 pada 1971 menjadi 2,18 pada 2020, menandakan perubahan pola pikir masyarakat tentang keluarga.
- Psikolog Adelia Octavia Siswoyo menyebut individu modern kini melihat diri harus sudah “lengkap” secara mandiri.
- Oleh karena itu anak tidak lagi dianggap sebagai pelengkap hidup.
SERAMBINEWS.COM - Perubahan cara pandang masyarakat terhadap makna kebahagiaan dan keutuhan diri membuat kehadiran anak tidak lagi dianggap sebagai satu-satunya syarat keluarga yang lengkap.
Banyak pasangan kini lebih menekankan aktualisasi diri, kesiapan mental, dan kondisi finansial sebelum memutuskan memiliki anak.
Tentunya hal ini berbeda dengan sebelumnya yang konstruksi sosial menempatkan anak sebagai pelengkap utama sekaligus tujuan akhir dari sebuah pernikahan.
Namun, ini mulai bergeser seiring dengan perubahan cara individu memaknai dirinya sendiri.
Banyak pasangan masa kini yang merasa hidupnya sudah "lengkap" meski tanpa keturunan.
Fenomena ini tercermin dalam data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat penurunan angka kelahiran total (total fertility rate/TFR) di Indonesia secara signifikan.
Baca juga: Sindrom Anak Tunggal, Mitos atau Fakta? Ini Penjelasan dan Cara Mengasuhnya
Jika pada 1971 angka TFR berada di level 5,61, data Sensus Penduduk 2020 menunjukkan angka tersebut telah menyusut ke level 2,18.
Penurunan ini menandakan adanya pergeseran persepsi bahwa kebahagiaan kini tidak lagi digantungkan pada kehadiran orang lain, dalam hal ini anak, melainkan pada keutuhan diri sendiri.
Psikolog Jelaskan Faktor Penyebabnya
Psikolog, menilai bahwa fenomena ini berakar pada perubahan cara individu memandang identitas mereka sebelum menjalin sebuah hubungan.
Individu modern mulai memahami bahwa mereka harus menjadi sosok yang utuh secara mandiri, sebelum memutuskan untuk menjadi seorang suami, istri, ayah, atau ibu.
“Penyebab pasangan tidak lagi merasa bahwa memiliki anak adalah cara agar diri mereka merasa lengkap adalah pergeseran makna atas ‘lengkap’ itu sendiri,” kata Adelia saat dihubungi pada Senin (2/3/2026).
Konsep bahwa pasangan atau anak adalah "pelengkap" bagian yang hilang dari diri seseorang mulai ditinggalkan.
Adelia menekankan bahwa setiap orang kini merasa bertanggung jawab atas keutuhan dirinya sendiri, sebelum membina hubungan.
"Relasi romantis (dan keluarga) bukanlah pelengkap diri karena masing-masing individu seharusnya menjadi individu yang ‘lengkap’, bukan saling membenahi atau menopang," jelas Adelia.
| Bejat! Predator Anak asal Papua Selatan Rekam Semua Aksi tak Senonohnya, Puluhan Korban Trauma Berat |
|
|---|
| Meski Bertopeng Saat Beraksi, 3 WNA Buronan Pencurian Berhasil Ditangkap di Bandara Saat Ingin Kabur |
|
|---|
| Mama Muda di Lhokseumawe Ramai-ramai Gugat Cerai Suami, Dominan Faktor Ekonomi |
|
|---|
| Harga Emas di Banda Aceh Stagnan 4 Hari, Pasaran Per Mayam di Bawah Rp8 Juta |
|
|---|
| Riset Ungkap Sikap Pengguna Pengaruhi Respons AI, Interaksi Negatif Bikin Jawaban Kurang Optimal |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ilustrasi-pasutri6.jpg)