Jumat, 8 Mei 2026

Menembus Singkil, Melewati Jembatan Putus via Rakit dan Jalan Kaki dalam Genangan Banjir 

Singkil ibu kota Kabupaten Aceh Singkil, sudah empat hari terisolasi, akibat jalan putus diterjang banjir bandang. 

Tayang:
Penulis: Dede Rosadi | Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS.COM/DEDE ROSADI
NAIK RAKIT - Warga naik rakit untuk menuju Singkil, Aceh Singkil, akibat jalan putus oleh banjir di Desa Gosong Telaga Barat, Singkil Utara, Minggu (30/11/2025). 

Ringkasan Berita:
  • Perjalan dimulai dengan melewati jembatan darut dari papan yang dibangun disamping jalan putus di Gosong Telaga Barat.
  • Di lokasi terdapat anak muda yang siap membantu bila, pelintas ragu meniti  jembatan darut.
  • Sekitar 300 meter kemudian, perjalanan dilanjutkan dengan naik rakit. Posisinya masih di Desa Gosong Telaga Barat. 

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Dede Rosadi I Aceh Singkil 

SERAMBINEWS.COM, SINGKIL - Matahari sudah bersinar terang, Minggu (30/11/2025)  pukul 08.00 WIB. 

Jurnalis Serambinews.com (Serambi Indonesia) Dede Rosadi yang ikut dalam perjalanan menembus Singkil, menggunakan sepeda motor dari Desa Gosong Telaga Barat, Kecamatan Singkil Utara, Kabupaten Aceh Singkil melaporkan Singkil ibu kota Kabupaten Aceh Singkil, sudah empat hari terisolasi, akibat jalan putus diterjang banjir bandang. 

Perjalan dimulai dengan melewati jembatan darut dari papan yang dibangun disamping jalan putus di Gosong Telaga Barat. 

Di lokasi terdapat anak muda yang siap membantu bila, pelintas ragu meniti  jembatan darut. 

Sekitar 300 meter kemudian, perjalanan dilanjutkan dengan naik rakit. Posisinya masih di Desa Gosong Telaga Barat. 

Bagi pengguna sepeda motor dikenakan tarif Rp 25 ribu. Sedangkan manusia dikenakan tarif jasa penyebrangan Rp 10 ribu. 

Harga tersebut bukan patokan. Dalam prakteknya warga yang membantu narik rakit tetap menerima bila ada yang mengasih uang alakadarnya. 

"Orang bisa muat 10 kalau kereta (sepeda motor) dua sekali naik," kata Sopian Rahmat warga yang membantu seberangkan naik rakit. 

Selanjutnya perjalanan dilanjutkan dengan naik sepeda motor. 

Baca juga: Banjir Masih Seleher, Korban Banjir Singkil Bertahan di Para-para

Melewati permukaan penduduk Anak Laut. Di sana warga masih bertahan di pinggir jalan. Untuk makan korban banjir menggantungkan dari dapur umum.

Sayang stok beras sudah menipis. "Paling cukup untuk sekali masak lagi. Karena yang makan di dapur umum termasuk pengungsi dari luar," kata Rajab di dapur umum Anak Laut. 

Perjalan berlanjut ke Desa Suka Damai dan Pemuka. Korban banjir bertahan di para-para  serta pinggir jalan karena genangan air masih tinggi.

Para-para merupakan kearifan lokal yang dimiliki korban banjir di Aceh Singkil. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved