Kamis, 23 April 2026

Banjir Landa Aceh

Wabah Penyakit Mengintai, Bantuan belum Merata, Begini Kesaksian Dosen Unimal Taufik Abdullah

kekurangan gizi pun mulai terlihat, terutama karena susu dan perlengkapan bayi tidak tersedia di sejumlah titik

Penulis: Jafaruddin | Editor: Zaenal
Serambinews.com/HO
PENYAKIT INTAI PENGUNGSI - Dosen Universitas Malikulsaleh Taufik Abdullah (baju putih) berada di salah satu titik pengungsian warga di Kabupaten Aceh Utara, Selasa (2/12/2025). Banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Aceh tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga memicu kekhawatiran akan munculnya wabah penyakit. 

Ringkasan Berita:Kesaksian Dosen Unimal Taufik Abdullah tentang kondisi Aceh Utara pascabencana banjir Siklon Senyar 2025
Warga yang berada di pengungsian kesulitan mendapatkan air bersih
Anak-anak dan balita terserang penyakit dan kekurangan gizi
Risiko muntaber dan gangguan pernapasan meningkat
Distribusi bantuan tidak merata; ada gampong yang menerima bantuan berlebihan, sementara yang lain belum tersentuh.

SERAMBINEWS.COM - Banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Aceh tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga memicu kekhawatiran akan munculnya wabah penyakit. 

Dr. Taufik Abdullah, Dosen Ilmu Politik Universitas Malikussaleh (Unimal), mendesak pemerintah Aceh bersama Basarnas dan segenap pemangku kebijakan untuk segera menurunkan tim medis ke kawasan yang terdampak paling parah.

“Banyak anak-anak dan balita dilaporkan terserang flu, demam, sakit kepala, serta penyakit kulit,” kata Taufik melalui pesan WhatsApp kepada Serambinews.com, Selasa (2/12/2025) malam.  

Menurutnya, kekurangan gizi pun mulai terlihat, terutama karena susu dan perlengkapan bayi tidak tersedia di sejumlah titik. 

Situasi diperparah oleh masih adanya daerah yang belum tersentuh bantuan. 

Penumpukan lumpur di jalan, sampah banjir, serta endapan kotoran di rumah warga memerlukan tenaga besar untuk dibersihkan. 

“Meski begitu, warga tetap berupaya mandiri tanpa banyak berharap pada relawan,” kata Taufik.

Ironisnya, kelompok rentan seperti lansia yang seharusnya mendapat perhatian medis justru terkesan terabaikan.

Dampak banjir juga menghantam perekonomian masyarakat. 

Banyak rumah, perabotan, dan pakaian warga yang rusak dan tak dapat digunakan kembali.

Kemudian, lahan sawah, perkebunan, dan tambak ikan mengalami kerusakan luas, mengancam sumber pendapatan jangka panjang. 

Selain itu, hewan ternak yang mati akibat terkepung air menjadi potensi penyebaran penyakit baru. 

Di sisi lain, sampah organik dan non-organik yang bercampur lumpur, ditambah debu saat cuaca panas, meningkatkan risiko gangguan kesehatan.

Baca juga: Unimal Buka Dapur Umum untuk Mahasiswa Terdampak Banjir

Sulit Dapat Air Bersih

Taufik Abdullah juga mengabarkan, di beberapa lokasi pengungsian, warga mengeluhkan sulitnya mendapatkan air bersih sehingga terpaksa menggunakan air keruh untuk aktivitas sehari-hari. 

Kondisi ini membuat penyakit kulit dan diare semakin merebak. 

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved