Rabu, 15 April 2026

Citizen Reporter

Saatnya Indonesia Belajar dari Keberanian Turkiye Membuka Masuknya Bantuan Asing

Ketika tiga provinsi di Sumatra kewalahan bersamaan menghadapi bencana hidromereorologi, Indonesia harusnya berani mengambil langkah yang pernah

Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/HO
ASMAUL HUSNA, S.T, M.C.R.P., Diaspora Aceh yang menetap di Turkiye dan Rusia, Mahasiswa Program Doktor Ilmu Kebencanaan Universitas Syiah Kuala 

Oleh: ASMAUL HUSNA, S.T, M.C.R.P., Diaspora Aceh yang menetap di Turkiye dan Rusia, Mahasiswa Program Doktor Ilmu Kebencanaan Universitas Syiah Kuala, melaporkan dari Rusia

KETIKA tiga provinsi di Sumatra kewalahan bersamaan menghadapi bencana hidromereorologi, Indonesia harusnya berani mengambil langkah yang pernah diambil oleh Turkiye, yakni membuka akses bagi masuknya bantuan dari berbagai negara demi keselamatan rakyat.

Ketika banjir besar disertai longsor menghantam Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara hampir bersamaan, kita menyaksikan ujian paling berat dirasakan masyarakat Sumatra dalam dua dekade terakhir.

Di Aceh, air mengalir seperti dinding yang tak kunjung surut, menenggelamkan kampung-kampung, merusak jembatan, dan memutus jalan nasional.

Banyak warga yang selamat dari tsunami 2004 menggambarkan bencana kali ini sebagai “tsunami kedua yang datangnya dari darat, bukan dari laut.”

Di Sumatra Barat, banjir bandang meluncur dari lereng gunung, menyeret rumah, musala, dan sawah, sementara sungai meluap tanpa ampun. Di Sumatra Utara, hujan ekstrem yang dibawa siklon Senyar tidak hanya memicu longsor di Tanah Karo, Sibolga, dan Mandailing Natal. Wilayah Tapanuli, mulai dari Tapanuli Utara hingga Tapanuli Tengah juga merasakan dampak beratnya di mana aliran sungai kecil berubah menjadi arus deras yang menyeret batang pohon dan merendam rumah-rumah di bantaran.

Kewalahan bersamaan

Ini bukan bencana lokal. Ini bukan banjir musiman. Ini adalah krisis regional yang melampaui batas kemampuan daerah dan bahkan menguji daya tanggap nasional.

Ketika sebagian wilayah Aceh masih terendam, bahkan terisolasi, rumah-rumah di Sumbar masih tertutup lumpur, dan akses desa di Sumut masih tertutup material longsor, Indonesia harus bertanya dengan jujur: Apakah kita mampu menghadapi bencana sebesar ini sendirian?

Pelajaran dari Turkiye

Turkiye adalah negara yang sangat tegas menjaga kedaulatannya. Mereka memiliki lembaga penanggulangan bencana modern, militer kuat, dan pengalaman panjang menghadapi gempa. Namun, ketika gempa besar mengguncang sebelas provinsi pada tahun 2023, Turkiye sempat mengalami keterlambatan awal yang berdampak besar pada upaya penyelamatan.

Dalam golden hours (periode emas 72 jam pertama dalam proses penanggulangan bencana) banyak wilayah tidak tersentuh bantuan. Hal itu kemudian memicu banyak kritikan tajam dari masyarakat dan partai oposisi Erdogan. Menanggapi kritikan yang menyerbu, Presiden Erdogan dalam kunjungannya ke wilayah terdampak untuk pertama kalinya, dua hari penuh setelah gempa pertama terjadi menyatakan bahwa "tidak mungkin untuk bersiap menghadapi bencana sebesar ini" dan “mengakui adanya sejumlah kendala" di awal penanganan.

Ketika realitas bencana melampaui kapasitas nasional, Turkiye di hari yang sama akhirnya membuka pintu bagi masuknya dukungan dari luar negeri. Alhasil, lebih dari 100 negara dan 16 organisasi internasional datang membantu.

Namun, yang perlu digarisbawahi adalah Turkiye tidak kehilangan kedaulatan sedikit pun gara-gara dibantu negara lain. Semua tim asing bekerja di bawah koordinasi AFAD (Badan Manajemen Bencana dan Darurat, milik Pemerintah Turkiye). Pemerintah tetap memimpin penuh operasi dengan cara: 1) memimpin dan menjadi kontak tunggal tim SAR serta pasokan bantuan; 2) diplomasi bantuan bilateral dengan menekankan pada kontrol yang lebih besar atas tujuan pengiriman bantuan dan memastikan keterlibatan langsung dengan otoritas lokal; 3) penilaian kebutuhan nasional agar bantuan yang diterima disesuaikan berdasarkan  kebutuhan spesifik dan tidak sekadar menerima semua yang ditawarkan; dan 4) regulasi akses di mana Turkiye dapat menolak tawaran bantuan jika dianggap tidak sesuai dengan kerangka regulasi atau kekhawatiran kedaulatan mereka.

Keputusan membuka ruang bantuan itu bukanlah kelemahan, justru itu adalah keberanian politik untuk menyelamatkan rakyatnya. Pelajaran ini sangat relevan bagi Indonesia hari ini.

Bencana Sumatra lebih berat

BNPB, Basarnas, TNI, dan Polri telah bekerja tanpa henti. Sukarelawan dari seluruh Aceh, Sumbar, dan Sumut turun membantu. Namun, skala bencana kali ini terlalu besar untuk ditangani dalam waktu cepat.

Terlalu banyak jembatan putus dalam satu waktu.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved