Kamis, 9 April 2026

Banjir Landa Aceh

Soal Penanganan Banjir, Ampon Man: Negara Seperti Ada dan Tiada untuk Aceh

Penanganan bencana banjir dan tanah longsor  yang melanda Aceh sejak akhir November lalu menuai kritik keras....

Penulis: Rianza Alfandi | Editor: Eddy Fitriadi
Serambinews.com/Rianza Alfandi
PENANGANAN BANJIR ACEH – Jubir Pemerintah Aceh Teuku Kamaruzzaman alias Ampon Man, mengkritisi remehnya  penanganan bencana di Aceh oleh Pemerintah Pusat, Minggu (14/12/2025). 

 

Ringkasan Berita:
  • Penanganan banjir dan longsor di Aceh menuai kritik keras karena jutaan warga bertahan tanpa listrik, komunikasi, dan logistik memadai selama lebih dari dua pekan.
  • Jubir Pemerintah Aceh, Teuku Kamaruzzaman (Ampon Man), menilai kehadiran negara nyaris tidak terasa, dengan lemahnya respons darurat, distribusi bantuan, serta pemulihan listrik dan BBM.
  • Ia menegaskan Aceh harus berjuang dengan kekuatan sendiri menghadapi bencana, seraya menyebut kondisi ini sebagai ujian besar bagi rakyat Aceh.

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rianza Alfandi | Banda Aceh 

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Penanganan bencana banjir dan tanah longsor  yang melanda Aceh sejak akhir November lalu menuai kritik keras. Selama lebih dua pekan, jutaan rakyat Aceh harus bertahan hidup tanpa listrik, jaringan telekomunikasi, serta akses logistik memadai. 

Kondisi tersebut telah membuat Aceh seolah kembali ke zaman purba, sementara kehadiran negara dinilai nyaris tidak terasa bagi masyarakat Tanah Rencong. 

“Negara seperti ada dan tiada untuk Aceh,” kata Jubir Pemerintah Aceh, Teuku Kamaruzzaman alias Ampon Man, kepada Serambinews.com, Minggu (14/12/2025). 

Mantan Sekretaris BRR Aceh-Nias itu menggambarkan, berhari-hari bahkan berminggu-minggu masyarakat Aceh hidup tanpa listrik dan komunikasi. Peralatan masyarakat modern seperti gadget, komputer, mesin cuci, televisi, AC, hingga lemari pendingin tidak dapat digunakan. 

Ironisnya, kondisi ini tidak hanya terjadi di wilayah terdampak langsung, tetapi juga di daerah yang relatif aman seperti Banda Aceh, Aceh Besar, dan sekitarnya.

Selain itu, kelangkaan BBM dan Elpiji semakin memperparah situasi. Dampak ekonominya meluas ke 5–6 juta rakyat Aceh, karena melumpuhkan industri rumah tangga dan UMKM. 

“Serta melonjaknya bahan kebutuhan pokok karena distribusi yang terkendala transportasi,” ujarnya. 

Menurut Ampon Man, kemampuan penanganan bencana oleh lembaga dan organisasi pemerintahan terlihat sangat terbatas. Ia menilai tidak tampak kehandalan maupun kualifikasi humanitarian workers pada unit-unit penyelamatan milik negara.

“Di beberapa daerah terisolir rakyat korban mungkin makan apa saja yang ada karena nasi dan makanan lainnya  telah berhari hari tidak dapat ditemui. Mereka harus menempuh jalan puluhan kilometer dan bahkan berhari-hari untuk dapat mendapatkan makanan bagi diri dan keluarganya yang bisa selamat,” ungkapnya.

Keterisolasian berkepanjangan, lanjut Ampon Man, juga berdampak pada terhambatnya pencarian dan evakuasi korban, baik yang masih bisa diselamatkan maupun yang perlu ditemukan.

Di sisi lain, Ampon Man, menyoroti tidak adanya dropping logistik besar-besaran melalui udara ke wilayah terisolir, sebagaimana yang pernah dilakukan saat Bencana Tsunami 2004. 

“Saat itu, evakuasi dan distribusi bantuan dilakukan secara masif ke seluruh Aceh, termasuk daerah yang tidak terdampak langsung, demi memastikan ketersediaan pangan bagi seluruh rakyat Aceh tanpa pertimbangan lain selain penyelamatan nyawa manusia. Hal serupa tidak terlihat pada bencana hidrometeorologi atau Siklon Senyar 25 ini,” jelasnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved