Sabtu, 2 Mei 2026

Banjir Landa Aceh

115 Desa di Provinsi Aceh Masih Terisolasi sampai Hari ke-21 Pascabencana

Sampai hari ke-21 pascabencana yang menerjang Provinsi Aceh, tercatat 115 desa masih terisolasi akibat akses jalur darat terputus.

Tayang:
Penulis: Rianza Alfandi | Editor: Safriadi Syahbuddin
Serambinews.com/HO/TIDAK ADA
JALUR DARAT TERPUTUS – Situasi akses jalur darat di Aceh Utara menuju Rembele Bener Meriah masih terputus, hanya baru bisa dilaui kendaraan roda dua dan mobil 4WD. Foto direkam oleh Kadis PUPR Aceh Mawardi, pada Sabtu (13/12/2025). 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Rianza Alfandi | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Hingga hari ini Senin (15/12/2025) atau hari ke-21 pascabencana yang menerjang Provinsi Aceh, tercatat 115 desa masih terisolasi akibat  akses jalur darat terputus dan belum pulih.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut kondisi ini membuat distribusi bantuan logistik harus dioptimalkan melalui jalur udara.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan saat ini terdapat tiga kabupaten di Aceh yang masih dalam atensi khusus karena keterbatasan akses darat di sejumlah titik.

Ketiga kabupaten tersebut adalah Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Gayo Lues.

“Untuk Provinsi Aceh ada tiga kabupaten yang saat ini masih dalam atensi khusus, karena status dari akses darat yang masih terbatas di beberapa titik,” ujar Muhari, dalam konferensi pers penanganan darurat bencana banjir dan tanah longsor di Provinsi Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat, Minggu (14/12/2025).

Muhari merinci, di Kabupaten Bener Meriah terdapat empat kecamatan dengan 15 desa yang terdampak.

Sementara di Kabupaten Aceh Tengah, terdapat tujuh kecamatan dengan total 73 desa yang masih terisolasi.

Adapun di Kabupaten Gayo Lues, kondisi serupa terjadi di tiga kecamatan dengan 27 desa terdampak.

Data tersebut merupakan hasil laporan sampai tanggal 13 Desember 2025.

Menurut Muhari, status terisolir tersebut disebabkan oleh jalur darat yang masih terputus sehingga belum dapat dilalui secara normal.

“Status ini karena memang akses darat yang masih terputus,” katanya.

Baca juga: VIDEO - Heboh! 80 Ton Bantuan Dikabarkan Hilang, Mualem Pertanyakan Transparansi di Bener Meriah

Muhari mengungkap, untuk wilayah yang masih terisolir ini, BNPB bersama pihak terkait terus mengupayakan penyaluran bantuan logistik dengan memanfaatkan jalur udara.

“Untuk dukungan logistik masih dioptimalkan via jalur udara (untuk daerah-daerah dalam atensi khusus). Setiap kami menerima koordinat titik-titik pengungsi di desa-desa yang masih sulit akses daratnya ini,” jelasnya.

Lebih lanjut, tambah Muhari, berdasarkan laporan BNPB di tiga kabupaten/kota tersebut, untuk kondisi pasokan BBM dan gas juga terus dioptimalkan via jalur udara.

“Kemarin sudah kita sampaikan ada 180 tabung gas elpiji yang kita geser untuk tambahan stok di Bener Meriah dan Aceh Tengah. Untuk BBM per 12 Desember itu sudah terkirim 29 drum atau 5,8 ton. Tentu saja ini terus dioptimalkan sampai nanti akses darat bisa dilalui,” pungkasnya.

Korban Terus Bertambah

Korban bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda 18 kabupaten/kota di Aceh terus bertambah.

Menurut data terakhir dari Posko Komando Tanggap Darurat Bencana Aceh yang diupdate pada Minggu (14/12/2025) pukul 19.00 WIB, tercatat jumlah korban meninggal dunia saat ini mencapai 430 orang.

“Laporan pemantauan data Penanggulangan Bencana Alam Hidrometeorologi di Posko Terpadu Pemerintah Aceh korban meninggal dunia mencapai 430 orang dan hilang 32 orang,” kata Juru Bicara Posko Komando, Murthalamuddin.

Menurut Murthalamuddin, bencana yang dipicu oleh curah hujan ekstrem tersebut mencakup 225 kecamatan dan 3.678 gampong. 

Serta korban terdampak terdata 518.724 kepala keluarga (KK) atau 1.984.018 jiwa. 

Selain korban meninggal dan hilang, juga terdapat 3.845 orang mengalami luka ringan dan 474 lainnya luka berat.

“Hingga kini, tim gabungan masih melakukan evakuasi, distribusi bantuan, serta pencarian korban hilang di lapangan,” katanya.

Sementara itu, lanjut dia, jumlah pengungsi saat ini tercatat 2.185 titik pengungsian dengan total 129.794 kepala keluarga atau 474.962 jiwa yang harus meninggalkan rumah mereka.

Kerusakan infrastruktur dan fasilitas umum lainnya juga dilaporkan sangat signifikan. 

Ratusan badan jalan rusak

Tercatat kerusakan pada 258 unit perkantoran, 287 unit tempat ibadah, 305 unit sekolah, 206 rumah sakit dan puskesmas, dan 431 unit pondok pesantren.

Pada sektor transportasi, musibah banjir dan tanah longsor ini juga tercatat merusak 461 titik badan jalan dan 332 titik jembatan.

“Kemudian kerusakan harta benda meliputi 164.906 unit rumah, 186.868 ekor ternak, 89.337 hektare sawah, 21.860 hektare kebun, dan 40.328 hektare tambak,” pungkasnya.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved