Banjir Landa Aceh
Krisis Logistik Hantui Pengungsi Linge, 505 Warga Kekurangan Pangan
“Hampir 90 persen masyarakat pindah ke wilayah Pangmoed dengan membangun gubuk-gubuk sementara.” RIO, Warga Desa Penarun
Ringkasan Berita:
- Warga Desa Penarun, Kecamatan Linge, Aceh Tengah, yang mengungsi akibat ancaman retakan tanah dan isolasi total pascabencana, kini menghadapi krisis logistik serius.
- Seluruh pengungsi, termasuk kelompok rentan seperti 12 lansia, 45 anak-anak dan 30 balita, kini terpusat di Simpang Simpil atau Pangmoed.
- Kelangkaan beras sebagai bahan makanan pokok, disusul dengan kebutuhan minyak goreng dan ikan asin untuk sumber protein yang memadai di kondisi darurat.
“Hampir 90 persen masyarakat pindah ke wilayah Pangmoed dengan membangun gubuk-gubuk sementara.” RIO, Warga Desa Penarun
SERAMBINEWS.COM, TAKENGON - Ratusan warga Desa Penarun, Kecamatan Linge, Aceh Tengah, yang mengungsi akibat ancaman retakan tanah dan isolasi total pascabencana, kini menghadapi krisis logistik serius.
Sebanyak 505 warga yang kini bertahan di gubuk-gubuk darurat di wilayah Pangmoed, sangat membutuhkan bantuan mendesak, terutama bahan makanan pokok dan obat-obatan. Warga Desa Penarun mengungsi setelah delapan titik longsor memutus akses jalan. Jembatan penghubung antar desa hancur, sehingga membuat wilayah itu nyaris terisolasi.
Seluruh pengungsi, termasuk kelompok rentan seperti 12 lansia, 45 anak-anak dan 30 balita, kini terpusat di Simpang Simpil atau Pangmoed. Menurut Rio, warga setempat, kebutuhan dasar di lokasi pengungsian saat ini sangat minim.
“Hampir 90 persen masyarakat pindah ke wilayah Pangmoed dengan membangun gubuk-gubuk sementara. Kami sangat kekurangan persediaan makanan dan kebutuhan kesehatan,” jelasnya, Minggu (14/12/2025).
Warga juga mengeluhkan kelangkaan beras sebagai bahan makanan pokok, disusul dengan kebutuhan minyak goreng dan ikan asin untuk sumber protein yang memadai di kondisi darurat.
Kerusakan 80 persen lahan sawah akibat bencana semakin memperburuk potensi ketahanan pangan jangka panjang. Selain pangan, kesehatan pengungsi menjadi perhatian kritis, terutama setelah adanya satu korban jiwa yang meninggal dunia akibat sakit di pengungsian.
Item yang paling dibutuhkan adalah vitamin untuk menjaga daya tahan tubuh, salep gatal dan alergi mengingat kondisi hunian sementara yang minim sanitasi, serta obat-obatan umum seperti Amoxicillin dan Parasetamol.
Selain krisis logistik, tantangan besar lainnya adalah akses air bersih. Warga terpaksa mengandalkan sumber air gunung yang berjarak sekitar tujuh kilometer (Km) dari lokasi pengungsian.
Sementara untuk komunikasi darurat, jaringan Starlink tersedia namun operasinya terhambat oleh pasokan energi genset yang terbatas. Warga sangat berharap pemerintah dan pihak terkait segera membuka akses jalan yang tertutup longsor dan menyalurkan bantuan logistik secara cepat.
Relokasi sementara yang lebih aman juga menjadi permintaan utama mengingat ancaman pergerakan tanah dan longsor susulan masih mengintai kawasan Desa Penarun.(am)
Banjir Landa Aceh
Berita Aceh Tengah
Krisis Logistik Hantui Pengungsi Linge
505 Warga Kekurangan Panga
Serambi Indonesia
Serambinews.com
Serambinews
| Safrizal Minta Pembangunan Jembatan Dikebut |
|
|---|
| Tamiang Butuh Rp 500 M untuk Perbaiki Tambak |
|
|---|
| Sempat Banjir Susulan, Kabdisdik Wilayah Aceh Utara Instruksikan Sekolah Gotong Royong |
|
|---|
| Kejar Ketertinggalan Belajar Pascabanjir, Murid SD di Aceh Tamiang Belajar Metode Berhitung Gasing |
|
|---|
| 4 Bulan Pascabanjir, Ratusan Sekolah di Aceh Utara Masih Belajar di Lantai |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/505-Warga-Kekurangan-Pangan.jpg)