Minggu, 12 April 2026

Banjir Landa Aceh

Pilunya Warga Bener Meriah Jalan Kaki Berjam-jam Pangkul Tabung Gas dan Sekarung Beras

Pilu, tiga pekan pasca bencana banjir bandang dan tanah longsor melanda Kabupaten Bener Meriah, akses jalan masih tak kunjung normal.

Editor: Muhammad Hadi
TribunGayo.com
Warga berasal dari Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah menempuh jarak puluhan kilometer dengan berjalan kaki melewati jalan lintasan KKA (Bener Meriah-Aceh Utara), Selasa (16/12/2025). Dok Bustami/Tribun Gayo 

Laporan Wartawan Tribun Gayo Bustami I Bener Meriah 

TRIBUNGAYO.COM, REDELONG - Pilu, tiga pekan pasca bencana banjir bandang dan tanah longsor melanda Kabupaten Bener Meriah, akses jalan masih tak kunjung normal.

Menyebabkan, ribuan warga berasal dari Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah menempuh jarak puluhan kilometer dengan berjalan kaki melewati jalan lintasan KKA (Bener Meriah-Aceh Utara).

Perjalanan kali ini bukan tentang menjelajah, tapi berjalan kaki dari kebiasaan kini terpaksa menjadi keharusan demi menghidupkan dapur-dapur keluarga.

Pantauan di lokasi Selasa (17/12/2025), jalan lintas KKA bagaikan jalan harapan bagi ribuan jiwa di dataran tinggi Gayo, Kampung Seni Antara (Kamp) mendadak menjadi pusat perekonomian serta jantung kehidupan masyarakat.

Di sana ada puluhan pedagang berasal dari Lhokseumawe dan Aceh Utara menjejerkan dagangan yang dibutuhkan masyarakat Gayo, mulai dari beras, gas, BBM hingga ikan-ikan segar.

Namun untuk menempuh ke sana, warga terpaksa berjalan kaki melewati puluhan Kilometer jalan rusak akibat dampak bencana longsor dan banjir bandang melanda beberapa waktu lalu.

Saat melintas di jalan rusak KKA, terlihat semua setara, pekerja kantoran, petani kopi, relawan, dan ibu-ibu saling mondar-mandir berbagi jejak lumpur tanpa kendaraan, tanpa jabatan dan tanpa jarak sosial.

Mereka sibuk dengan tujuan masing-masing, ada yang memikul beras, BBM, telur hingga menggendong tabung gas.

Mesti kondisi jalan berlumpur dan gerimis hujan membasahi tubuh, mereka terlihat tetap tegar, tak lain demi menghidupkan dapur-dapur keluarga.

Baca juga: Pekerjaan Jembatan Bailey Bener Meriah Via Gunung Salak Aceh Utara Terus Dipacu

Bila dari Bener Meriah warga rata-rata memikul hasil bumi untuk dijualkan untuk rakyat Pase, sedangkan dari sana warga Gayo memikul beras, gas hingga menenteng ikan segar.

"Beli apa aja ini bu? beli beras nak sama telur, di kampung udah habis makanya kami jalan ke sini," ujar Hamidah saat ditemui diperjalanan.

"Sial kami hari ini, capek-capek bawak tabung gas, ternyata di sana pada habis juga, terpaksa beli sembako aja, tabung ya kita bawak pulang lagi, takut hilang kalau titip di sana," kata Herman warga lainnya.

Selain itu, ada ratusan warga memikul hasil panen cabai untuk diperjualkan, setiap petani memikul beban seberat 23 hingga 35 kilogram barang dagangan.

Perjalanan jauh ditempuh, karena harga cabai di Lhokseumawe ataupun Aceh Utara jauh lebih tinggi dibandingkan di kampung halaman mereka.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved