UAS ke Aceh
Tiba di Aceh, UAS Tinjau Progres Museum Harun Keuchik Leumiek
Museum Harun Keuchik Leumiek dirancang sebagai pusat sejarah dan peradaban Islam Aceh dengan berbagai koleksi artefak bernilai tinggi.
UAS juga menyarankan agar seluruh koleksi MHKL dilengkapi dengan sistem barcode atau QR code yang terintegrasi langsung dengan jaringan website resmi museum.
Melalui sistem tersebut, setiap artefak dapat diakses secara digital oleh pengunjung, baik dalam bentuk narasi tertulis maupun audio, yang memuat penjelasan sejarah, konteks budaya, serta nilai peradaban dari masing-masing benda koleksi.
Menurut UAS, pemanfaatan teknologi ini akan menjadikan MHKL sebagai museum berbasis digital heritage yang edukatif, inklusif, dan relevan dengan perkembangan zaman, sekaligus memudahkan generasi muda dan kalangan akademisi memahami sejarah Islam Aceh secara lebih mendalam.
Usai meninjau sejumlah area utama, UAS bersama rombongan naik ke lantai III bangunan MHKL yang masih dalam tahap pengerjaan.
Di lantai ini, Tgk. Memed menjelaskan rencana ruang sentral multimedia yang akan difungsikan sebagai pusat kreativitas pelajar, mahasiswa, dan peneliti.
Ruang tersebut juga akan mendukung kegiatan pameran tematik, diskusi ilmiah, serta pengembangan konten edukasi sejarah dan budaya Aceh.
Museum Harun Keuchik Leumiek diharapkan menjadi ruang hidup bagi memori kolektif, ilmu pengetahuan, dan peradaban Aceh, sekaligus menjadi jembatan antara warisan masa lalu dan generasi masa depan.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/UAS-Tinjau-Museeum-Harun-Keuchik-Leumik-Banda-Aceh-01.jpg)