Kamis, 23 April 2026

Banjir Landa Aceh

Massa di Tangse Buru Penambang Emas Ilegal, WALHI Aceh Angkat Bicara

"Kegiatan itu dinilai WALHI Aceh telah tepat dan perlu dicontoh daerah lain di Aceh. Sebab, warga bergerak lebih cepat dibandingkan dengan penegak...

Penulis: Muhammad Nazar | Editor: Nurul Hayati
ist
MASSA DI TANGSE : Kadiv Advokasi dan Kampanye WALHI Aceh, Afifuddin Acal. WALHI Aceh menilai tindakan masyarakat Tangse sudah tepat, untuk mencegah banjir ekologi menerjang perkampungan warga. 

"Terakhir kami memantau pada tahun 2018, yang saat itu telah diingatkan supaya tidak melakukan PETI. Saat memantau di tahun 2018, kami sempat dikejar-kejar beberapa orang hingga ke Kantor WALHI Banda Aceh. Kita dikejar itu saat melakukan investigasi di Geumpang," jelasnya. 

Peningkatan Pengrusakan Hutan

Dikatakan, hasil pemantauan satlit, ternyata terjadi peningkatan pengrusakan hutan setiap tahun di Tangse, Mane dan Geumpang.

WALHI Aceh mencatat 6.000 hektare tahun 2023, yang terjadi peningkatan 8.000 hektare lebih pada Oktober tahun 2024. 

Sebab, setelah itu WALHI Aceh tidak bisa mengakses lagi melalui satlit karena habis kontrak. 

"Untuk tahun 2025 belum siap melakukan pemetaan hutan rusak. Termasuk kawasan hutan di Neubok Badeuk, Tangse akan kita analisis kembali sebagai titik baru. Mane dan Geumpang yang telah diketahui titiknya, tapi teknologi ada kelemahannya," kata putra Kecamatan Tangse tersebut. 

Ia menambahkan, banjir yang terjadi di Aceh adalah bencana direncanakan, dengan material lumpur tiga hingga empat meter yang sudah sangat jelas diketahui penyebabnya.

Seperti di Aceh Taminang, kayu terbawa banjir ditemukan adanya nomor.

Dengan demikian, memperjelas bencana ekologi terjadi Aceh. 

Seperti diketahui, massa dari Pulo Mesjid Satu, Pulo Masjid Dua dan Neubok Badeuk memburu beko yang melakukan aktivitas tambang emas, di pegunungan kawasan Neubok Badeuk, tepatnya di aliran Krueng Inong Tangse, Sabtu (27/12/2025). 

Aksi massa itu harus menerobos hutan dengan melintasi jalur beko, dengan menempuh waktu selama enam jam dengan berjalan kaki hingga sampai di titik lokasi.

Saat di lokasi, massa hanya menemukan camp kosong diduga milik penambang emas ilegal. Sementara beko tidak ditemukan warga. (*)

 

 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved