Minggu, 26 April 2026

Berita Banda Aceh

Tempat Relokasi Para Penyintas Bencana di Aceh Harus Dipastikan Manusiawi

Menurut Prof Abdullah, penting pula dilakukan survei dan investigasi menyeluruh terkait kondisi ‘existing’ Aceh

Penulis: Yarmen Dinamika | Editor: Subur Dani
Istimewa
Prof Dr Ir Abdullah MEng, Guru Besar Teknik Sipil Universias Syiah Kuala yang juga merupakan pakar bata ringan. 

Ringkasan Berita:
  • Guru Besar Teknik Sipil Universitas Syiah Kuala (USK), Prof Dr Ir Abdullah MEng mengingatkan pemerintah agar tempat relokasi bagi penyintas bencana di Aceh harus benar-benar manusiawi
  • Pakar bangunan berbahan bata ringan ini menyarankan perlunya dipastikan pemukiman para penyintas bencana, apakah direlokasi dan/atau kembali ke rumah asalnya, jika rumah masih ada
  • Untuk merealisasi usul dan langkah-langkah yang ia sampaikan tersebut, pemerintah pusat bisa meminta bantuan internasional

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Yarmen Dinamika | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM - Guru Besar Teknik Sipil Universitas Syiah Kuala (USK), Prof Dr Ir Abdullah MEng mengingatkan tentang musim hujan yang durasinya kemungkinan masih panjang, termasuk di Aceh, dan itu berpengaruh besar terhadap kondisi para pengungsi di tenda-tenda pengungsian.

Untuk itu, Prof Abdullah menyarankan kepada pemerintah pusat dan daerah untuk sesegera mungkin menyelamatkan korban dari banjir berulang.

Baca juga: Pemerintah Operasikan 30 Penerbangan, Suplai Bantuan ke Daerah Terisolir

“Upaya penyelamatan itu harus tuntas, mengingat bulan Ramadhan sudah di depan mata,” kata Abdullah kepada Serambinews.com di Banda Aceh, Rabu (31/12/2025) pagi.

Ia juga menyarankan untuk segera dilakukan evaluasi dan memastikan tempat relokasi bagi penyintas bencana harus benar-benar manusiawi supaya mereka betah berada beberapa bulan di tempat relokasi tersebut.

“Mungkin untuk ini pemerintah pusat ada uangnya, meskipun harga bisa sangat berbeda antarlokasi. Harus ada kepastian hukum, seperti pada masa rehabilitasi dan rekonstruksi pada masa tsunami dulu. Bisa juga pemerintah yang menyediakan bahan untuk huntara, kontrak bangun saja,” sarannya.

Menurut Prof Abdullah, penting pula dilakukan survei dan investigasi menyeluruh terkait kondisi ‘existing’ Aceh.

Baca juga: Danantara dan BP BUMN Tinjau Progres Ratusan Huntara di Aceh Tamian

“Bisa jadi, tidak hanya mengandalkan anggaran kabupaten terdampak. APBN tentu masih sangat mungkin  untuk membiayainya,” ujar Abdullah.

Di bagian lain penjelasannya, pakar bangunan berbahan bata ringan ini menyarankan perlunya dipastikan pemukiman para penyintas bencana, apakah direlokasi dan/atau kembali ke rumah asalnya, jika rumah masih ada.

“Pastikan dan jamin hak mereka atas lahan rumah asal kalau pilihannya memang relokasi,” imbuh Abdullah.

Selain itu, ia sarankan segera siapkan sarana ibadah dan sekolah untuk menampung anak-anak korban yang jumlahnya banyak.

Baca juga: Bupati Aceh Utara Laporkan Kebutuhan Mendesak Pengungsi Banjir Saat Rapat dengan DPR RI

Selain itu, rehabilitasi lahan pertanian dan perikanan pesisir (sawah, kebun, dan tambak) juga mendesak untuk ditangani segera.

“Peluangnya adalah menyesuaikan untuk kemungkinan menerapkan teknologi dalam pengolahan lahan,” ujar Abdullah.

Berikutnya, kata Abdullah, rehab rekon semua sarana dan infrastruktur untuk menghadapi ‘hazard’ di masa yang akan datang.

Menurut Abdullah, untuk merealisasi usul dan langkah-langkah yang ia sampaikan di atas, pemerintah pusat bisa meminta bantuan internasional.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved