Jumat, 24 April 2026

Haba Unimal

FK Unimal Atasi Masalah Kesehatan Kulit dan Batuk yang Dialami Warga Sawang Aceh Utara

Sudah satu bulan setelah banjir melanda wilayah Aceh Utara pada akhir November 2025,

Penulis: Zaki Mubarak | Editor: IKL
for serambinews/Dok. Unimal
FK Unimal Atasi Masalah Kesehatan Kulit dan Batuk yang Dialami Warga Sawang Aceh Utara 

SERAMBINEWS.COM, ACEH UTARA - Sudah satu bulan setelah banjir melanda wilayah Aceh Utara pada akhir November 2025, dampaknya masih dirasakan secara nyata oleh masyarakat, khususnya pada aspek kesehatan. 

Hal tersebut terlihat dalam kegiatan pelayanan kesehatan terpadu yang dilaksanakan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh (FK Unimal) di Desa Glee Dagang, Kecamatan Sawang, pada 26 Desember 2025. 

Baca juga: FK Unimal Menembus Medan Sulit Demi Layanan Kesehatan Bagi Ibu Hamil

Melalui layanan mobile clinic, tim medis FK Unimal mencatat bahwa penyakit kulit dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi dua masalah kesehatan yang paling dominan dikeluhkan warga.

Dalam pelayanan tersebut, sebagian besar pasien datang dengan keluhan batuk berkepanjangan, pilek, nyeri tenggorokan, demam ringan, hingga sesak napas ringan yang merupakan gejala umum ISPA. 

Dekan FK, dr Muhammad Sayuti, Sp.B, Subsp. BD(K), Jumat (2/1/2026) mengatakan, kondisi ini tidak terlepas dari lingkungan pascabanjir yang masih lembap, perubahan cuaca yang cukup ekstrem, serta kualitas udara yang menurun. 

Selain faktor lingkungan, penurunan daya tahan tubuh akibat kelelahan fisik dan tekanan psikologis selama masa bencana turut meningkatkan kerentanan masyarakat terhadap infeksi saluran pernapasan.

Selain ISPA, penyakit kulit juga muncul sebagai keluhan utama dalam pelayanan kesehatan kali ini. Banyak warga mengeluhkan gatal-gatal, ruam, iritasi, dermatitis, hingga infeksi kulit yang dipicu oleh paparan air banjir yang tercemar lumpur, sampah, dan mikroorganisme patogen. 

Kondisi sanitasi yang belum sepenuhnya pulih, keterbatasan air bersih, serta kebiasaan terpaksa beraktivitas di lingkungan basah dan lembap menjadi faktor yang memperburuk kondisi kesehatan kulit masyarakat.

Tim medis FK Unimal menilai bahwa penyakit kulit dan ISPA merupakan dua masalah kesehatan yang sering muncul secara bersamaan pada fase pascabanjir. 

Lingkungan yang tidak higienis dan kelembapan tinggi menjadi faktor risiko utama, sementara keterbatasan akses layanan kesehatan selama masa bencana membuat sebagian warga terlambat mendapatkan penanganan medis. 

Oleh karena itu, pelayanan kesehatan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga pada edukasi kesehatan sebagai langkah pencegahan jangka menengah.

Dalam kegiatan ini, warga mendapatkan pemeriksaan medis, pengobatan sesuai indikasi klinis, serta penjelasan langsung mengenai cara mencegah kekambuhan penyakit. 

Untuk ISPA, warga diedukasi tentang pentingnya menjaga daya tahan tubuh, mengenali gejala awal yang perlu diwaspadai, serta menghindari paparan udara dingin dan lembap secara berlebihan. 

Sementara untuk penyakit kulit, edukasi difokuskan pada kebersihan diri, perawatan kulit pascabanjir, serta langkah-langkah sederhana untuk mencegah infeksi lanjutan.

Kegiatan pelayanan kesehatan di Desa Glee Dagang ini dilaksanakan oleh tim kolaboratif yang terdiri dari dosen, mahasiswa, dokter muda, dan dokter alumni Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh, bekerja bersama tenaga kesehatan setempat. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved