Rabu, 8 April 2026

Berita Bireuen

385 Rumah Hilang di Juli Bireuen, Tiga Huntap Mulai Dibangun

Sebanyak 385 rumah di Kecamatan Juli, Bireuen hilang atau tidak layak huni akibat banjir bandang.

Penulis: Yusmandin Idris | Editor: Saifullah
Serambinews.com/Yusmandin Idris
PEMBANGUNAN HUNTAP - Pembangunan hunian tetap (Huntap) bagi korban banjir mulai dikerjakan di Desa Balee Panah, Kecamatan Juli, Bireuen, Senin (12/1/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Sebanyak 385 rumah di Kecamatan Juli, Bireuen hilang atau tidak layak huni akibat banjir bandang.
  • Sebagai langkah awal, tiga unit hunian tetap (Huntap) sedang dibangun di Desa Balee Panah untuk korban.
  • Pembangunan Huntap menjadi harapan warga agar segera kembali memiliki rumah layak setelah kehilangan segalanya.

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Yusmandin Idris | Bireuen

SERAMBINEWS.COM, BIREUEN – Musibah banjir bandang yang melanda Kabupaten Bireuen pada akhir November 2025 lalu, meninggalkan luka mendalam bagi warga Kecamatan Juli

Sebanyak 385 unit rumah di kecamatan itu dilaporkan hilang atau tidak layak lagi ditempati karena terendam banjir dan terancam longsor.

Camat Juli, Hendri Maulana menyampaikan, bahwa data tersebut sudah dikirimkan ke pemerintah kabupaten untuk ditindaklanjuti. 

Dari jumlah itu, sekitar 230 rumah telah memiliki alas hak atau surat kepemilikan tanah, sehingga bisa dijadikan lokasi pembangunan hunian tetap (Huntap) bagi korban bencana.

Sebagai langkah awal, tiga unit Huntap sedang dibangun di Desa Balee Panah, Kecamatan Juli.

Rumah tersebut diperuntukkan bagi Zainal Abidin Sulaiman (70), dan dua anaknya, M Saiful Bahri (37), serta M Anwar Sadad (39).

Baca juga: Bupati Bireuen Sebut Pembangunan Huntap Bagi Korban Banjir di Balee Panah Juli Pertama di Aceh

Ketiga rumah mereka sebelumnya hancur diterjang banjir, dan lokasi lama kini berubah menjadi aliran sungai.

“Pembangunan Huntap ini terus digenjot agar segera selesai,” terangnya. 

“Setelah di Balee Panah, akan dilanjutkan secara simultan di gampong-gampong lain yang terdampak,” ujar Camat Hendri.

Permukiman Jadi Sungai

Sementara itu, Keuchik Balee Panah, Muntazar menjelaskan, bahwa dampak banjir bandang di desanya sangat parah. 

Sebanyak 58 rumah hancur dan hilang, 14 rumah tertimbun longsor, serta 27 rumah lainnya rawan tidak bisa ditempati lagi.

“Di gampong kami tidak ada rumah rusak ringan. Begitu banjir bandang datang, seluruh permukiman langsung hilang, berubah jadi aliran sungai,” ungkap Muntazar.

Baca juga: Seratusan Anak Pengungsi Balee Panah Ikuti Pemulihan Trauma, Diwarnai Balon dan Permainan

Ia menambahkan, warga sudah mulai menyerahkan alas hak kepemilikan tanah untuk pembangunan Huntap. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved