Jumat, 24 April 2026

Pasca Bencana Hidrometeorologi Aceh, Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Aceh Harus Dituntaskan

Bencana hidrometeorologi tersebut menyebabkan lebih dari seribu korban jiwa serta menghancurkan ribuan rumah

Editor: Amirullah
for serambinews
DISKUSI PEMULIHAN DAS ACEH — Sejumlah ilmuwan dan praktisi lingkungan berdiskusi dalam forum “Diskusi Strategis Pemulihan DAS Pasca Bencana Hidrometeorologi Aceh” yang digelar di kantor Yayasan Leuser Internasional (YLI), Kampus Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Kamis (15/1/2026). Diskusi ini membahas langkah strategis dan teknis pemulihan Daerah Aliran Sungai (DAS) Aceh pasca banjir bandang dan tanah longsor akibat Siklon Tropis Senyar. 

SERAMBINEWS.COM - Cuaca ekstrem disertai curah hujan tinggi yang melanda wilayah utara Sumatera pada akhir November 2025, mencakup Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, akibat Siklon Tropis Senyar, telah memicu bencana banjir bandang dan tanah longsor.

Bencana hidrometeorologi tersebut menyebabkan lebih dari seribu korban jiwa serta menghancurkan ribuan rumah, sarana dan prasarana umum, dan menimbulkan kerugian materi yang besar di ketiga provinsi terdampak.

Di Provinsi Aceh, dampak bencana juga terlihat pada rusaknya bentang alam dan ekologi di sejumlah Daerah Aliran Sungai (DAS).

Menyikapi kondisi tersebut, sejumlah ilmuwan dan praktisi yang fokus pada pengelolaan DAS Aceh berkumpul untuk membahas langkah-langkah strategis dan teknis dalam pemulihan DAS pasca bencana banjir bandang dan longsor.

Diskusi ini menekankan pentingnya perlindungan serta pengelolaan DAS secara menyeluruh di tengah kondisi lingkungan Aceh yang semakin rentan.

Diskusi interaktif tersebut digelar di kantor Yayasan Leuser Internasional (YLI), Kampus Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, pada Kamis, 15 Januari 2026.

Pertemuan perdana ini mengangkat tema “Diskusi Strategis Pemulihan DAS Pasca Bencana Hidrometeorologi Aceh.”

Turut hadir dalam forum diskusi ini yaitu Dr. Ir. Syahrul, M.Sc, Prof. Dr. Ir. Hairul Basri, M.Sc, dan Dr. Purwana Satriyo, S.TP, MT dari Universitas Syiah Kuala, Dr. Cut Maila Hanum (STIK Pante Kulu), Dr. T.M Zulfikar, ST. MP., M.Yacob Ishadamy, Zakiul Fuady, Iwan Iktiara (Yayasan Ekosistem Lestar/ YEL) dan Pradnipra  dari BPDAS Aceh, serta Teuku Firsa, ST, M.Eng.Sc sebagai fasilitator kegiatan dari  YLI. 

Baca juga: Trump Raup Keuntungan dari Minyak Venezuela, AS Dijual 30 Persen Lebih Mahal

Pertemuan ini berhasil meramu beberapa rekomendasi penting yakni untuk segera mengidentifikasi kerusakan-kerusakan DAS, valuasi kerugian dan strategi pemulihan daya dukung DAS. Hasil ini akan dipaparkan kepada tim Rencana Rehabilitasi Rekonstruksi Pasca Bencana (R3P) Aceh untuk dirumuskan dalam dokumen R3P Aceh.

Beberapa rekomendasi kunci antara lain mengembalikan fungsi kawasan yang terkoneksi dengan DAS, melakukan evaluasi ulang daya dukung DAS termasuk melakukan overlay peta untuk melihat kondisi DAS saat sebelum dan sesudah bencana. 

Ketua Pengurus YLI, Said Fauzan Baabud mengapresiasi komitmen dan kontribusi yang diberikan oleh para ilmuwan dan praktisi untuk pemulihan DAS Aceh yang merupakan satu ekosistem vital dalam mitigasi bencana alam dan jasa lingkungannya dalam penentuan ketersediaan dan kualitas air sebagai sumber daya krusial bagi manusia dan lingkungan di Provinsi Aceh. 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved