Sabtu, 25 April 2026

Berita Bireuen

Rumah Hanyut Banjir Bandang, Seri Indriani Pasrah Tinggal di Gubuk Darurat

Seri Indriani terlihat pasrah di depan gubuknya, pasangan tersebut memiliki seorang anak bernama Alfa Riski (3).

Penulis: Yusmandin Idris | Editor: Amirullah
Serambinews.com/Yusmandin Idris
Gubuk – Seri Indriani bersama suaminya dan seorang anaknya sejak rumah hilang diterjang banjir menempati gubuk darurat di dekat tebing sungai kawasan Desa Blang Mee, Kutablang Bireuen. 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Yusmandin Idris I Bireuen

SERAMBINEWS.COM, BIREUEN – Dalam musibah banjir bandang 98 persen rumah di Desa Blang Mee terendam banjir dan 60 masih berbalut lumpur, sebanyak 10 rumah hilang dan empat lainnya terancam jatuh ke sungai.

Para pemilik rumah atau korban banjir ada yang menempati rumah keluarga, rumah tetangga dan ada juga yang menyewa rumah.

Salah seorang di antaranya bernama Khaidir (30) bersama istrinya Seri Indriani  yang rumahnya hilang memilih tinggal di gubuk dekat aliran sungai Krueng Peusangan.

Amatan Serambinews.com, Seri Indriani terlihat pasrah di depan gubuknya, pasangan tersebut memiliki seorang anak bernama Alfa Riski (3). Gubuk sederhana dari.papan dan dibalut kain sekelilingnya karena papan dipasang seadanya.

Di samping gubuk ada satu kompor gas dan peralatan memasak seadanya, ia terlihat banyak termenung, sedangkan suaminya saat itu sudah ke keude Kutablang.

Menjawab Serambinews.com dimana rumah sebelumnya, ia terlihat menunjukkan ke arah sungai. “Di sana sudah jatuh,” ujarnya singkat. Lokasi yang terlihat hanya sedikit pondasi saja masih tersisa selebihnya sudah menjadi aliran sungai.

Entah sampai kapan Seri Indriani tinggal di gubuk bersama suami dan anaknya, gubuk mungkin ukuran 1,5 meter x 2 meter, bentuk seperti rangkang blang, di depan ada kursi sebagai tempat duduk. 

Baca juga: Dukung Tim Terpadu Pemkab Nagan, Said Syahrul Minta PT KIM Lepaskan Lahan HGU di Tanah Masyarakat

Sekeliling gubuk juga endapan lumpur yang masih tinggi. 

Keuchik Blang Mee, Ferizal mengatakan, mereka seperti trauma dan lebih banyak diam dan sedih, apalagi sedang berbadan dua, mereka tidak ada tempat tinggal.

Lokasi tanah gubuk juga lahan tetangganya. Kondisi suami istri tersebut benar-benar prihatin, suaminya kerja tidak menentu, kadang membantu orang di pasar dan kegiatan lainnya sebagai sumber dapur berasap. 

Keuchik berharap, para korban banjir bandang yang rumahnya hilang dan terancam jatuh ke sungai hendaknya segera memiliki hunian tetap, apalagi dalam waktu
dekat memasuki Ramadhan.

“Berbagai data sudah saya laporkan ke camat dan berharap mereka yang benar-benar prihatin dapat segera terbantu,” ujarnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved