Selasa, 21 April 2026

Pemulihan Aceh

Korban Bencana di Gayo Lues Butuh Trauma Healing, Cemas Hadapi Masa Depan

Selain kehilangan tempat tinggal dan harta benda, para korban bencana hidrometeorologi di Kabupaten Gayo Lues kini juga menghadapi tekanan

Editor: Ansari Hasyim
Serambinews.com/HO
BANJIR BESAR - Kerusakan yang terjadi usai banjir bandang yang melanda Kabupaten Gayo Lues pada 27 November lalu. 
Ringkasan Berita:Para korban berharap pemerintah daerah hingga pusat dapat menghadirkan program pemulihan yang menyentuh langsung kebutuhan mereka, agar rasa takut dan kecemasan pascabencana dapat perlahan terobati, serta harapan hidup kembali tumbuh di tengah keterpurukan

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Edi Laber | Gayo Lues

SERAMBINEWS.COM, BLANGKEJEREN – Selain kehilangan tempat tinggal dan harta benda, para korban bencana hidrometeorologi di Kabupaten Gayo Lues kini juga menghadapi tekanan psikologis yang mendalam. Rasa cemas, takut, serta ketidakpastian masa depan menghantui banyak warga, terutama mereka yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian.

Pantauan Serambinews.com di sejumlah lokasi terdampak menunjukkan, banyak korban masih diliputi trauma pascabencana. Sawah dan perkebunan yang selama ini menjadi penopang utama ekonomi keluarga dilaporkan rusak parah, bahkan musnah akibat banjir dan longsor.

Seorang korban bencana, Sabtuddin (60), warga Rigeb, Kecamatan Dabun Gelang, mengungkapkan kegelisahannya saat ditemui Serambinews.com. Dengan suara bergetar, ia mempertanyakan masa depan keluarganya setelah kehilangan sumber penghidupan.

Baca juga: Mualem Minta BKPA Tagih ke Pusat Dana TKD Rp 1,7 Triliun

“Kami orang kampung, minim ilmu. Apakah pemerintah nanti bertanggung jawab terhadap masa depan kami?” ujarnya lirih, Senin (26/1/2026).

Petani berusia 60 tahun itu mengaku tak lagi memiliki tenaga dan kemampuan untuk memulai semuanya dari awal. Membuka kembali lahan persawahan, menurutnya, bukan perkara mudah, terlebih di usia yang tak lagi muda.

“Rasanya di usia senja ini kami sudah tidak sanggup jika harus mengulang dari awal membuka lahan persawahan,” ungkapnya.

Ia menambahkan, persoalan yang dihadapi para korban tidak hanya sebatas kerusakan lahan. Sebagian warga lainnya masih terbelenggu utang di perbankan yang sebelumnya digunakan sebagai modal usaha tani.

“Ada saudara-saudara kami yang masih punya utang di salah satu bank. Bagaimana nanti mereka membayar kewajiban setiap bulan, sementara sawah dan kebun sudah tidak ada lagi,” katanya.

Kondisi tersebut membuat para korban berharap adanya perhatian serius dari pemerintah, tidak hanya dalam bentuk bantuan fisik dan hunian sementara, tetapi juga pendampingan psikologis atau trauma healing, serta solusi jangka panjang untuk pemulihan ekonomi masyarakat.

Para korban berharap pemerintah daerah hingga pusat dapat menghadirkan program pemulihan yang menyentuh langsung kebutuhan mereka, agar rasa takut dan kecemasan pascabencana dapat perlahan terobati, serta harapan hidup kembali tumbuh di tengah keterpurukan.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved