Minggu, 3 Mei 2026

Harga Emas

Harga Emas Naik, Warga Aceh Tamiang Ramai Jual Perhiasan Pascabanjir Bandang

“Rumah rusak, peralatan banyak yang hancur. Jadi emas dijual untuk beli kasur, perabot, dan kebutuhan sehari-hari,” jelasnya.

Tayang:
Penulis: Rahmad Wiguna | Editor: Nurul Hayati
SERAMBINEWS.COM/RAHMAD WIGUNA
EMAS STABIL - Harga emas di Kota Kualasimpang, Kabupaten Aceh Tamiang stabil selama sepekan terakhir berkisar Rp 7.150.000 per mayam. Sementara itu hari ini, Senin (26/1/2026) harga emas dilaporkan kembali melonjak, sehingga warga Aceh Tamiang yang notabenenya korban banjir bandang akhir tahun 2025 memilih ramai-ramai menjualnya. 
Ringkasan Berita:
  • Harga emas di Aceh Tamiang menunjukkan tren kenaikan signifikan pascabanjir bandang 26 November 2025.
  • Per 26 Januari 2026: emas London mencapai Rp 9 juta per mayam, emas kadar 97 persen dijual Rp 8,9 juta per mayam (termasuk ongkos pembuatan) & emas 22 karat Rp 1,8 juta per gram.
  • Awal tahun (1 Januari 2026), harga emas masih di kisaran Rp 8,3 juta per mayam.
  • Warga menjual emas untuk memenuhi kebutuhan mendesak: memperbaiki rumah rusak, membeli kasur, perabot, dan perlengkapan dasar.

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rahmad Wiguna | Aceh Tamiang

SERAMBINEWS.COM, KUALASIMPANG - Pergerakan harga emas di Aceh Tamiang menunjukkan tren kenaikan signifikan, pascabanjir bandang pada 26 November 2025 lalu.

Namun, di tengah lonjakan harga, aktivitas pasar justru didominasi penjualan emas oleh warga terdampak bencana.

Rizky Adrian, karyawan Toko Emas Anugerah di Jalan Jenderal Ahmad Yani, Kota Kualasimpang, menyebut harga emas per mayam saat ini berada di level tertinggi sejak awal tahun. 

Ia menjelaskan, pada 1 Januari 2026 harga emas masih berada di kisaran Rp 8,3 juta per mayam.

Kini, harga emas London telah menyentuh Rp 9 juta per mayam.

“Untuk emas kadar 97 persen kami jual Rp 8,9 juta per mayam, itu sudah termasuk ongkos pembuatan. Kalau emas 22, harganya Rp1,8 juta per gram,” kata Rizky, Senin (26/1/2026).

Meski harga naik, transaksi pembelian emas justru minim.

Sejak hari pertama pasca banjir hingga kini, Rizky menyebut warga lebih banyak menjual perhiasan mereka dibandingkan membeli.

“Dari awal banjir sampai hari ini, yang datang ke toko kebanyakan mau jual, bukan beli,” ujarnya.

Menurut Rizky, kondisi tersebut tak lepas dari dampak langsung banjir bandang yang merusak rumah dan harta benda warga.

Kebutuhan mendesak untuk memperbaiki tempat tinggal dan membeli perlengkapan dasar, membuat emas menjadi pilihan terakhir yang dilepas.

“Rumah rusak, peralatan banyak yang hancur. Jadi emas dijual untuk beli kasur, perabot, dan kebutuhan sehari-hari,” jelasnya.

Ia berharap, harga emas ke depan bisa kembali stabil agar aktivitas pasar pulih dan tidak terus dibayangi situasi darurat.

“Harapannya harga emas bisa normal lagi seperti biasa, supaya pasarannya juga kembali bagus,” tutup Rizky. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved