Minggu, 26 April 2026

Berita Bireuen

Mahasiswa UNIKI Bireuen Hadirkan Sekolah Darurat di Ketol Aceh Tengah

Mahasiswa UNIKI Bireuen bersama relawan Sukma Bangsa mendirikan sekolah darurat di Desa Rejewali, Ketol, Aceh Tengah.

Penulis: Yusmandin Idris | Editor: Saifullah
Serambinews.com/HO
SEKOLAH DARURAT - Sejumlah mahasiswa UNIKI Bireuen yang tergabung bersama relawan pendidikan Yayasan Sukma Bangsa aktif mengajar pada sekolah darurat di Desa Rejewali, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah. 

Ringkasan Berita:
  • Mahasiswa UNIKI Bireuen bersama relawan Sukma Bangsa mendirikan sekolah darurat di Desa Rejewali, Ketol, Aceh Tengah.
  • Sekitar 46 murid terdampak banjir dan longsor tetap belajar enam hari seminggu serta mengikuti program mengaji dan trauma healing.
  • Program ini menjadi simbol rehabilitasi pendidikan pasca bencana, dengan mahasiswa UNIKI bertugas selama tiga bulan di lokasi.

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Yusmandin Idris | Bireuen

SERAMBINEWS.COM, BIREUEN – Sejumlah mahasiswa Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (UNIKI) Bireuen menunjukkan kepedulian nyata terhadap dunia pendidikan di daerah terdampak bencana. 

Bersama relawan pendidikan Yayasan Sukma Bangsa, mereka aktif mengajar di sekolah darurat yang didirikan di Desa Rejewali, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah.

Mahasiswi UNIKI yang terlibat dalam program ini antara lain:

  • Aulia Agustian (Prodi Ilmu Hukum)
  • Nazira Safira (Prodi Manajemen)
  • Nurul Maqfirah dan Miftahul Rizki (Prodi Seni dan Pertunjukan FKIP UNIKI)

Mereka bergabung dengan relawan Sukma Bangsa dan guru SD Negeri 10 Ketol untuk mengaktifkan sekolah tenda sebagai sarana belajar anak-anak yang terdampak banjir dan tanah longsor.

Menurut Nurul Maqfirah, perjalanan menuju lokasi tidak mudah.

Baca juga: Gedung Masih Dipenuhi Lumpur, Anak Korban Banjir di Aceh Tamiang Belajar di Sekolah Darurat

Bersama Miftahul Rizki, ia harus berjalan kaki sejauh 5 kilometer dari posko dengan kondisi jalan mendaki dan menurun di kawasan pegunungan.

Sebelum tiba di Rejewali, mereka juga melakukan asesmen data di SD Negeri 20 Ketol dan SMP Negeri 32 Takengon.

Sekitar 46 murid terlibat dalam kegiatan sekolah darurat ini. 

Proses belajar mengajar dilakukan seperti jadwal sekolah normal, enam hari dalam seminggu, pukul 10.00–12.00 WIB.

Sore harinya, pukul 15.00–16.00 WIB, para mahasiswa juga mengajar mengaji.

Tujuan utama sekolah tenda ini adalah mencegah putus sekolah dan memastikan anak-anak korban bencana tetap mendapatkan akses pendidikan meski kondisi daerah porak poranda.

Baca juga: Pemkab Aceh Barat Plot Rp 2 Miliar untuk Persiapan Lahan Sekolah Rakyat

Selain mengajar, mahasiswa UNIKI bersama relawan juga melaksanakan program trauma healing untuk membantu anak-anak mengatasi rasa takut dan kehilangan akibat bencana.

“Harapan kami, pembelajaran yang kami ajarkan dapat menghilangkan rasa trauma serta menumbuhkan kembali semangat belajar anak-anak di pedalaman pasca bencana,” ujar Nazira Safira.

Dukungan Kampus

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved