Selasa, 21 April 2026

Berita Banda Aceh

Produksi Beras di Aceh Turun 25 Ribu Ton Lebih pada 2025

Produksi beras konsumsi di Aceh sepanjang 2025 turun lebih dari 25 ribu ton. BPS mencatat penurunan dipicu berkurangnya luas panen padi.

Penulis: Rianza Alfandi | Editor: Amirullah
Chat GPT
Ilustrasi panen padi di Aceh. Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh mencatat produksi beras konsumsi sepanjang 2025 mengalami penurunan seiring berkurangnya luas panen dibandingkan tahun sebelumnya. 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Rianza Alfandi | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH -- Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh mencatat produksi komoditas beras konsumsi di Tanah Rencong pada tahun 2025 mengalami penurunan sebesar 25 ribu ton lebih dibandingkan tahun sebelumnya.

Plh Kepala BPS Aceh, Tasdik Ilhamuddin menjelaskan, berdasarkan hasil Survei Kerangka Sampel Area (KSA), realisasi luas panen padi sepanjang Januari hingga Desember 2025 mencapai 283,18 ribu hektare, atau mengalami penurunan sebesar 18,01 ribu hektare (5,98 persen) dibandingkan 2024.

Adapun puncak panen padi pada 2025 masih sama seperti 2024 yakni terjadi pada Bulan Maret. Sementara produksi padi di Aceh sepanjang Januari hingga Desember 2025 mencapai sekitar 1,62 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), atau mengalami penurunan sebesar 2,7 persen dibandingkan 2024 sebesar 1,66 juta ton GKG.

"Produksi padi tertinggi pada 2025 terjadi pada bulan Maret yaitu sebesar 294,61 ribu ton GKG. Sementara produksi terendah terjadi pada bulan Juli, yaitu sekitar 12,08 ribu ton GKG," kata Tasdik, Senin (2/2/2026).

Ia menuturkan, jika produksi padi dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi pangan penduduk, maka produksi beras sepanjang Januari hingga Desember 2025 setara dengan 930,49 ribu ton beras, atau mengalami penurunan sebesar 25,79 ribu ton dibandingkan 2024.

"Produksi beras tertinggi pada 2025 terjadi pada bulan Maret, yaitu sebesar 169,72 ribu ton. Sementara itu, produksi beras terendah terjadi pada bulan Juli, yaitu sebesar 6,96 ribu ton," jelasnya.

Tasdik menambahkan, jumlah produksi padi di Aceh diperoleh dengan metode yang mengintegrasikan dua sistem pengumpulan data, yaitu survei kerangka sampel area (KSA) padi yang menghasilkan luas panen dan survei ubinan yang menghasilkan angka produktivitas.

"Perkalian antara luas panen dan produktivitas menghasilkan angka produksi padi. Kemudian melalui konversi gabah, dihasilkan indikator turunannya berupa produksi beras," ungkapnya.

Baca juga: Kulit Tetap Sehat dan Awet Muda, Ini 7 Makanan Antioksidan yang Wajib Dikonsumsi

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved