Breaking News
Kamis, 23 April 2026

Berita Aceh Timur

Selama Ramadan Sampah Aceh Timur Tembus 85 Ton, DLH Krisis Armada

Namun, kendala terbesar bukan hanya pada mesin, melainkan juga pada krisis tenaga kerja.

Penulis: Maulidi Alfata | Editor: Nurul Hayati
Serambinews.com/Maulidi Alfata
TPS Idi Rayeuk membeludak, sampah tutupi jalan di Gampong Jawa, Kecamatan Idi Rayeuk, Kabupaten Aceh Timur, Senin (23/2/2026).  
Ringkasan Berita:
  • Kabupaten Aceh Timur menghadapi lonjakan volume sampah selama Ramadhan 1447 H/2026, terutama dari limbah rumah tangga dan pasar takjil.
  • Data DLH Aceh Timur: hari biasa: ±70 ton sampah/hari, Ramadhan: naik menjadi ±85 ton/hari (kenaikan 15 ton).
  • Akibatnya, sampah menumpuk di TPS hingga meluber ke jalan, menimbulkan ancaman kesehatan dan pencemaran lingkungan.
  • Kepala DLH Muslidar menegaskan perlunya penambahan armada baru dan kepastian status tenaga kerja agar masalah tahunan ini tidak berulang.

Laporan Maulidi Alfata | Aceh Timur

SERAMBINEWS.COM, IDI - Di balik semarak pasar takjil dan keberkahan Ramadan 1447 H, Kabupaten Aceh Timur sedang bergelut dengan ancaman polusi yang serius.

Volume sampah di wilayah ini melonjak tajam melampaui kapasitas pengelolaan harian, memicu kekhawatiran akan dampak kesehatan di tengah masyarakat.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Aceh Timur, Muslidar pada Senin (23/2/2026) mengungkapkan bahwa selama bulan suci ini, terjadi anomali produksi sampah yang sangat signifikan dibandingkan hari-hari biasa.

Data dari DLH mencatat bahwa pada hari biasa, volume sampah yang dihasilkan warga Aceh Timur berkisar di angka 70 ton.

Namun, memasuki Ramadan, angka ini meroket menjadi kurang lebih 85 ton per hari.

Kenaikan 15 ton per hari ini didominasi oleh limbah rumah tangga dan sisa dagangan pasar sore (pasar takjil).

Sayangnya, lonjakan ini tidak dibarengi dengan kesiapan infrastruktur yang mumpuni.

Kondisi di lapangan semakin diperparah dengan keterbatasan sarana dan prasarana.

Muslidar mengakui bahwa saat ini jumlah armada pengangkut sampah masih sangat kurang untuk meng-cover wilayah Aceh Timur yang luas.

Akibatnya, rotasi pengangkutan sering terlambat, menyebabkan sampah menumpuk di TPS hingga meluber ke jalan.

Namun, kendala terbesar bukan hanya pada mesin, melainkan juga pada krisis tenaga kerja.

Baca juga: Mahasiswa KKN Unimal Bangun Mesin Pengelolaan Sampah untuk Warga di Lhokseumawe

DLH saat ini kekurangan personel di berbagai lini vital, mulai dari:

1. Supir truk sampah.

2. Petugas pengangkut (kenek).

3.Petugas pembersih parit.

4. Penyapu jalan hingga petugas taman.

Banyak petugas lapangan yang tidak terakomodasi dalam skema PPPK Paruh Waktu, sehingga jumlah personel yang aktif berkurang drastis di saat beban kerja justru mencapai puncaknya.

Muslidar juga memaparkan bahwa cuaca ekstrem berupa hujan sering menjadi penghambat utama di hilir.

"Saat hujan turun, proses pengangkutan dan pembuangan sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) menjadi sangat sulit. Medan yang licin dan kondisi akses di TPA menghambat mobilitas truk kami," jelasnya.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah di Aceh Timur sedang berada di titik nadir.

Tanpa adanya penambahan armada baru dan kepastian status bagi para petugas lapangan, masalah tumpukan sampah akan terus menjadi penyakit tahunan yang merusak wajah Ibu Kota Idi Rayeuk.(*)

 

 

 

 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved